
Ada seorang kawan yang hendak pindah kerja ke kota lain, dan dia update status di facebook: “Goodbye all my friends, I’m gonna miss you all.” Bukan hanya satu atau dua orang yang melakukan hal serupa. Ada beberapa kawan yang update status dengan maksud kurang lebih sama. Mereka meninggalkan tempat lama untuk sebuah harapan baru.
Jika kita kembali melihat ke kehidupan ini, sebenarnya awal-akhir, baru-lama, tua-muda di hampir semua lini kehidupan mempunyai fase ini. Ada bayi yang baru lahir, ada pula orang yang dimakamkan karena nyawa meninggalkan raganya. Ada pagi, sementara di belahan bumi lain sudah beranjak petang. Ada yang menangis, ada pula yang tertawa. Ada yang merayakan ulang tahun, ada pula yang memperingati hari kematian. Itulah kehidupan.
Beberapa menit yang lalu, aku juga merasakan transisi itu. Aku meninggalkan twenty something untuk sebuah awal.
Jadi teringat pesan singkat seorang sahabat dekat menyampaikan “Enjoy your blast” yang terbaca oleh benakku seperti “Enjoy your last twenty something”, dan itulah yang menginspirasiku menuliskan refleksi ini.
Sebenarnya, ketika kita meninggalkan sesuatu, pada dasarnya kita memasuki gerbang untuk suatu yang baru. Aku sengaja menggunakan kata ‘BARU’ disini, karena the future will always be mystery, masa depan akan selalu menjadi misteri. Siapapun tidak akan bisa tahu apa yang akan terjadi pada menit-menit yang akan datang. Dan kata ‘BARU’ selalu identik dengan sebuah pengharapan. Sehingga ketika aku menggunakan ‘memasuki gerbang untuk suatu yang baru’, itu adalah sebuah motivasi bahwa di menit-menit selanjutnya akan mendapatkan berkah dan pengalaman yang lebih, dalam banyak hal, dari sebelumnya.
Bukan mudah memasuki sesuatu yang baru, pun bukan suatu yang susah. Dia hanya bergantung dari bagaimana kita mempersiapkan diri. Ketika aku menyampaikan akan meninggalkan twenty something, secara bebas aku terjemahkan telah memiliki pengalaman sepanjang umurku. Yang menjadi pertanyaan, pengalaman seperti apa yang sudah membekali diriku memasuki suatu yang baru?
Sebuah serial garapan Hollywood sempat menyadarkanku. Aku akan coba menceritakan sekilas. Jadi, di dalam keluarga hiduplah seorang kakek yang senantiasa meminta anak dan cucunya untuk membunuh dirinya. Tentu, anak maupun cucunya menolak keinginannya tersebut. Usia kakek ini sudah sangat renta. Dan diceritakan dalam serial tersebut, sudah tidak ada lagi penghuni kota yang seumuran dengan dia. Mungkin dia adalah orang tertua di dalam kota itu. Yang menarik buatku, dan kemudian menyadarkanku adalah: ketika sang kakek mencoba menjelaskan kepada cucunya yang telah menolak untuk membunuhnya. Dia bilang suasana hatinya begitu hampa, apalagi ketika menyaksikan satu per satu kawan atau saudaranya telah tiada. Beban itulah yang menurut dia terlalu berat untuk ditanggung.Karena itulah, ketika ada kawan berulang tahun, aku selalu menghindari doa semoga panjang umur. Karena tidak semua orang ternyata menikmati panjangnya umur. Dan sebenarnya esensi hidup di dunia bukan dari panjangnya umur. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada itu. Apakah itu?
Sebenarnya jawaban pertanyaan tersebut sudah coba ditampakkan dalam beberapa kejadian. Coba perhatikan bagaimana ilmu pengetahuan menjawab permasalahan yang kemudian jawabannya kembali pada alam. Ilmu pengetahuan mengakui bahwa bentuk segi enam atau hexagonal adalah bentuk yang paling optimal untuk penyimpanan. Karena bentuk heksagonal yang simetris, jika digabungkan akan menghasilkan kombinasi ruang guna yang sempurna, tidak menghasilkan ruang-ruang sisa yang tak berguna. Lebih jauh, bentuk ruang dengan penampang segitiga atau segiempat bisa jadi juga menghasilkan kombinasi yang optimal. Walaupun demikian, bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat bentuk-bentuk ini ternyata lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk membuat bentuk ruang dengan penampang heksagonal. Ruang penyimpanan berbentuk heksagonal, ternyata membutuhkan bahan baku lilin paling sedikit, dengan daya tampung terbesar. Dan jawaban tersebut terisnpirasi dari sarang lebah. Ilmu pengetahuan juga mengakui bahwabahan sutera yang terbuat dari jaring laba-laba lebih kuat dan ringan dari baja. Meski Nampak sederhana, ternyata mereka mempunyai kontribusi yang besar buat yang lain. Atau aku bisa mengalihbasakan bahwa mereka telah memberikan nilai dan manfaat bagi yang lain.
Dan jika bicara tentang manfaat, tidak ada salahnya kita kembali pada masa ketika duduk di Sekolah Dasar. Dimana kita diajari rantai makanan: rumput dimakan oleh sapi. Sapi dimakan oleh manusia. Dan manusia mati dimakan hewan mikro yang hidup di tanah, yang menjadikan tanah subur. Tanah subur inilah yang membuat rumput tumbuh sehat. Begitu seterusnya. Masing-masing mempunya manfaat pada porsinya sendiri-sendiri.

Nah, jika dalam rantai makanan tersebut manusia mati yang sudah jelas memberikan manfaat. Bagaimanakah dengan manusia yang masih hidup? Apakah kamu mau kalah dengan rumput yang sehat dan segar, merelakan dirinya (baca: member manfaat) dimakan oleh sapi? Sapi juga pasti akan dipilih yang sehat dan segar untuk disembelih dan dimakan manusia.
Aku bukanlah guru spiritual. Kapasitas spiritualku pun tidak lebih baik darimu. Namun, sebagai sesama manusia sudah selayaknya kita untuk saling berbagi. Berbagi rasa, pengetahuan dan ilmu. Jadi, ingatkan aku jika dalam tulisan ini ada kekliruan. Ingatkan aku jika ada salah dalam lisan, perbuatan maupun tulisan. Ingatkan aku bahwa masih ada yang jauh lebih baik dariku. Ingatkan aku bahwa masih banyak yang kurang beruntung dibandingkan aku. Ingatkan aku untuk senantiasa membantu sesama. Ingatkan aku untuk selalu ingat padaNya. Ingatkan aku untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Ingatkan aku untuk menjaga tali silaturahmi. Ingatkan aku untuk senantiasa menjadi baik. Ingatkan aku untuk berterima kasih. Ingatkan aku untuk selalu bersyukur. Ingatkan aku untuk senantasa menjunjung kejujuran. Ingatkan aku untuk peduli sesama. Ingatkan aku untuk berlapang dada. Ingatkan aku untuk membuang jauh kesombongan dalam diri. Ingatkan aku untuk meminta maaf jika berbuat salah. Dan bersama mari kita saling mengingatkan untuk senantiasa memberi arti dan manfaat bagi sesama.
Yudie Matta
Listening Farah
composed by Mohamed Naiem
07-11-2010
01:58
No comments:
Post a Comment