Ada sebuah nama yang senantiasa menemani hatiku
yang selalu menuntunku menjadi terbaik
yang menerangi jalan cintaku
yang memayungiku dari hujan kehampaan
yang membuka mata ketidaktahuanku
yang menghantarkanku pada gerbang kesyukuran
yang menyemikan benih keikhlasanku
yang menyatukan puing pengetahuanku
yang menjadikanku pribadi terpilih
Dia memberi lebih dari yang kuminta
Dia selalu ada pada saat apapun
Dia tidak pernah menuntut di luar kemampuaku
Dia yang memahamiku seutuhnya
Dia adalah seluruh kata terindah
Terima kasih telah menjadikanku sebagai diriku
Terima kasih telah mengembangkanku
Terima kasih telah memperindah hari-hariku
Terima kasih telah membahagiakan hidupku
Terima kasih telah memembangkitkan semangatku
Terima kasih telah menuntunku untuk selalu berterima kasih
Terima kasih......
Meski kata tak pernah cukup mewakili rasa
Namun keindahannya tak mengurangi makna
Dan maknanya tidak mengerdilkan niatku
Terima kasih,
Hanya ada satu
Lailahaillallah
yudie matta
301210
10:09PM
@room
Me, I have my ownlife, and you have yours. But, we could be connected through writing. Isn't that great?
30 December 2010
Bicara Waktu

Hari ini Kamis tanggal 25 November 2010. Banyak yang merasa, bukan hari yang istimewa. Kamis yang biasa, karena kamis bisa dirasa pada setiap minggunya. Bukan tanggal 25 yang istimewa, karena setiap bulan punya tanggal 25. Bukan pula November yang istimewa, karena dari tahun ke tahun akan selalu ada bulan November. Dan juga bukan tahun yang istimewa, karena sebentar lagi tahun ini juga akan berlalu. Jadi, ada apa dengan Kamis, 25 November 2010?
Memang, secara terpisah hari dan tanggal tersebut tidaklah istimewa. Sama dengan pada umumnya. Namun ketika dia menjadi satu, akan menjadi istimewa. Istimewa buatku, belum berarti istimewa juga buat orang lain. Meskipun dia merasakan hal yang sama denganku saat ini.
Ini adalah hari terakhirku bekerja di Batam. Dalam dua hari ke depan, aku akan pindah ke kota lain. Bukan perpindahan yang aku anggap sebagai hal yang istimewa. Tetapi lebih pada kesempatan yang telah aku raih sampai sejauh ini. Sementara, mungkin, orang lain menganggapnya istimewa karena kota tujuan yang lebih istimewa. Atau pekerjaan baru yang lebih istimewa. Mungkin ada orang istmewa yang akan ditemuinya disana. Dan banyak alasan lain yang menjadikannya istimewa. Jadi, sebenarnya istimewa hanyalah cara kita memaknai keadaan yang ada.
Life is about learning and moving on. Itu yang senantiasa aku pegang. Aku sudah banyak mendapatkan pelajaran dari satu kota dan kota yang lain. Pelajaran yang mungkin sama, atau berbeda sama sekali. Yang paling penting, mereka bisa membuatku semakin berkembang dalam pemikiran dan bersikap.

Nah, di Batam pun demikian. Tuhan telah menuliskan garis hidupku untuk dijalani di Batam, meskipun itu tidak lama. Karena sebelum aku sampai di Batam, tidak ada terlintas di benak untuk berkarir di kota ini. Tetapi aku rasa ada rencana besar yang memang sudah Tuhan persiapkan untukku, sampai akhirnya aku di Batam.
Menyesal? Tidak sama sekali. Karena tidak ada manfaat dari penyesalan. Malah hanya akan membuang banyak energy. Bahagia? Aku tidak bisa meyakini sepenuhnya. Akan tetapi yang paling penting: Aku Mensyukurinya. Mulai dari pekerjaan, jabatan, rekan kerja, atasan, rumah singgah, teman-teman dekat, teman sharing, dan banyak teman lainnya yang sudah selayaknya aku syukuri. Mereka telah menjadi bagian dalam proses perkembangan masa depanku. Alhamdulillah, terima kasih teman……….
Future will always be mystery. Itulah indahnya hidup, karena kita tidak pernah tahu esok akan seperti apa. Coba bayangkan, jika Anda tahu segala hal setiap waktu. Apakah hidupmu akan indah? Sama halnya dengan menonton film yang sudah Anda tonton sebelumnya. Apakah Anda menikmatinya. Ya, itulah keindahan hidup. Penuh dengan misteri. Apa yang akan terjadi kemudian adalah kesempatan untuk beryukur di waktu setelahnya. Jadi, bukankah akan semakin banyak kesempatan bagi kita untuk bersyukur?
Dan karena ketidaktahuanku akan hari esok itulah, aku membekali diri dengan rasa syukur. Karena itulah bekal yang membuat hidupku menjadi indah. Selayak Anda membawa kacamata 3D ketika hendak pergi menonton film dengan efek 3D. Keindahannya akan nampak begitu jelas. Nah, apakah Anda sudah membekali diri dengan rasa syukur untuk menatap hari esok?Harapan setiap orang ketika memulai sesuatu yang baru adalah mendapatkan yang lebih baik. Tentu, aku juga berharap demikian. Namun, bukan berarti aku menilai buruk dengan yang ada sekarang. No…… bukankah tadi aku sudah bilang bahwa Life is about learning and Moving on? Tidak ada baik dan buruk selama Anda menganggapnya sebagai sebuah pelajaran. Yang dianggap baik, akan senantiasa digunakan dan dikembangkan agar dapat yang lebih baik. Dan yang dianggap buruk, akan digunakan untuk memperbaiki diri dalam perkembangan. Intinya sama-sama belajar, bukan? Jadi, kenapa sibuk dengan label-label seperti itu? Yang pasti, sudah banyak pelajaran yang didapatkan, dan bisa berkembang bersamanya. Adakah yang lain?
Ngomong-ngomong tentang harapan, pasti tak lepas dari awal-akhir dan baru-yang berhubungan erat dengan waktu. Hanya waktulah yang bisa memutuskan awal menjadi akhir, dan baru menjadi lama. Kita, sama sekali, tidak punya kuasa untuk menghentikannya. Dan satu hal yang bisa kita lakukan untuk menyikapinya adalah: memanfaatkannya.Apakah Anda pernah punya baju baru yang tersimpan lama di lemari. Mulai sejak beli, dan masih ada bandrol harganya, Anda simpan dalam lemari. Anda merasa sayang memakainya karena masih baru, dan belum ada kesempatan khusus yang mengharuskan Anda memakainya. Namun ketika tiba giliran Anda untuk waktunya, baju baru itu sudah tidak muat lagi. Sayang bukan?
Waktu memang hanya bisa dikalahkan dengan pemanfaatan. Karena waktu akan selalu berjalan maju. Tidak ada kata mundur untuk waktu. Sehingga ketika kita bisa memanfaatkan waktu, kemudian mengalahkannya. Kita akan menjadi orang yang maju. Sebuah logika yang sederhana, bukan?
Yudie Matta
25-11-10
last day@office
07 November 2010
Refleksi 711: Ingatkan Aku!!!

Ada seorang kawan yang hendak pindah kerja ke kota lain, dan dia update status di facebook: “Goodbye all my friends, I’m gonna miss you all.” Bukan hanya satu atau dua orang yang melakukan hal serupa. Ada beberapa kawan yang update status dengan maksud kurang lebih sama. Mereka meninggalkan tempat lama untuk sebuah harapan baru.
Jika kita kembali melihat ke kehidupan ini, sebenarnya awal-akhir, baru-lama, tua-muda di hampir semua lini kehidupan mempunyai fase ini. Ada bayi yang baru lahir, ada pula orang yang dimakamkan karena nyawa meninggalkan raganya. Ada pagi, sementara di belahan bumi lain sudah beranjak petang. Ada yang menangis, ada pula yang tertawa. Ada yang merayakan ulang tahun, ada pula yang memperingati hari kematian. Itulah kehidupan.
Beberapa menit yang lalu, aku juga merasakan transisi itu. Aku meninggalkan twenty something untuk sebuah awal.
Jadi teringat pesan singkat seorang sahabat dekat menyampaikan “Enjoy your blast” yang terbaca oleh benakku seperti “Enjoy your last twenty something”, dan itulah yang menginspirasiku menuliskan refleksi ini.
Sebenarnya, ketika kita meninggalkan sesuatu, pada dasarnya kita memasuki gerbang untuk suatu yang baru. Aku sengaja menggunakan kata ‘BARU’ disini, karena the future will always be mystery, masa depan akan selalu menjadi misteri. Siapapun tidak akan bisa tahu apa yang akan terjadi pada menit-menit yang akan datang. Dan kata ‘BARU’ selalu identik dengan sebuah pengharapan. Sehingga ketika aku menggunakan ‘memasuki gerbang untuk suatu yang baru’, itu adalah sebuah motivasi bahwa di menit-menit selanjutnya akan mendapatkan berkah dan pengalaman yang lebih, dalam banyak hal, dari sebelumnya.
Bukan mudah memasuki sesuatu yang baru, pun bukan suatu yang susah. Dia hanya bergantung dari bagaimana kita mempersiapkan diri. Ketika aku menyampaikan akan meninggalkan twenty something, secara bebas aku terjemahkan telah memiliki pengalaman sepanjang umurku. Yang menjadi pertanyaan, pengalaman seperti apa yang sudah membekali diriku memasuki suatu yang baru?
Sebuah serial garapan Hollywood sempat menyadarkanku. Aku akan coba menceritakan sekilas. Jadi, di dalam keluarga hiduplah seorang kakek yang senantiasa meminta anak dan cucunya untuk membunuh dirinya. Tentu, anak maupun cucunya menolak keinginannya tersebut. Usia kakek ini sudah sangat renta. Dan diceritakan dalam serial tersebut, sudah tidak ada lagi penghuni kota yang seumuran dengan dia. Mungkin dia adalah orang tertua di dalam kota itu. Yang menarik buatku, dan kemudian menyadarkanku adalah: ketika sang kakek mencoba menjelaskan kepada cucunya yang telah menolak untuk membunuhnya. Dia bilang suasana hatinya begitu hampa, apalagi ketika menyaksikan satu per satu kawan atau saudaranya telah tiada. Beban itulah yang menurut dia terlalu berat untuk ditanggung.Karena itulah, ketika ada kawan berulang tahun, aku selalu menghindari doa semoga panjang umur. Karena tidak semua orang ternyata menikmati panjangnya umur. Dan sebenarnya esensi hidup di dunia bukan dari panjangnya umur. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada itu. Apakah itu?
Sebenarnya jawaban pertanyaan tersebut sudah coba ditampakkan dalam beberapa kejadian. Coba perhatikan bagaimana ilmu pengetahuan menjawab permasalahan yang kemudian jawabannya kembali pada alam. Ilmu pengetahuan mengakui bahwa bentuk segi enam atau hexagonal adalah bentuk yang paling optimal untuk penyimpanan. Karena bentuk heksagonal yang simetris, jika digabungkan akan menghasilkan kombinasi ruang guna yang sempurna, tidak menghasilkan ruang-ruang sisa yang tak berguna. Lebih jauh, bentuk ruang dengan penampang segitiga atau segiempat bisa jadi juga menghasilkan kombinasi yang optimal. Walaupun demikian, bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat bentuk-bentuk ini ternyata lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk membuat bentuk ruang dengan penampang heksagonal. Ruang penyimpanan berbentuk heksagonal, ternyata membutuhkan bahan baku lilin paling sedikit, dengan daya tampung terbesar. Dan jawaban tersebut terisnpirasi dari sarang lebah. Ilmu pengetahuan juga mengakui bahwabahan sutera yang terbuat dari jaring laba-laba lebih kuat dan ringan dari baja. Meski Nampak sederhana, ternyata mereka mempunyai kontribusi yang besar buat yang lain. Atau aku bisa mengalihbasakan bahwa mereka telah memberikan nilai dan manfaat bagi yang lain.
Dan jika bicara tentang manfaat, tidak ada salahnya kita kembali pada masa ketika duduk di Sekolah Dasar. Dimana kita diajari rantai makanan: rumput dimakan oleh sapi. Sapi dimakan oleh manusia. Dan manusia mati dimakan hewan mikro yang hidup di tanah, yang menjadikan tanah subur. Tanah subur inilah yang membuat rumput tumbuh sehat. Begitu seterusnya. Masing-masing mempunya manfaat pada porsinya sendiri-sendiri.

Nah, jika dalam rantai makanan tersebut manusia mati yang sudah jelas memberikan manfaat. Bagaimanakah dengan manusia yang masih hidup? Apakah kamu mau kalah dengan rumput yang sehat dan segar, merelakan dirinya (baca: member manfaat) dimakan oleh sapi? Sapi juga pasti akan dipilih yang sehat dan segar untuk disembelih dan dimakan manusia.
Aku bukanlah guru spiritual. Kapasitas spiritualku pun tidak lebih baik darimu. Namun, sebagai sesama manusia sudah selayaknya kita untuk saling berbagi. Berbagi rasa, pengetahuan dan ilmu. Jadi, ingatkan aku jika dalam tulisan ini ada kekliruan. Ingatkan aku jika ada salah dalam lisan, perbuatan maupun tulisan. Ingatkan aku bahwa masih ada yang jauh lebih baik dariku. Ingatkan aku bahwa masih banyak yang kurang beruntung dibandingkan aku. Ingatkan aku untuk senantiasa membantu sesama. Ingatkan aku untuk selalu ingat padaNya. Ingatkan aku untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Ingatkan aku untuk menjaga tali silaturahmi. Ingatkan aku untuk senantiasa menjadi baik. Ingatkan aku untuk berterima kasih. Ingatkan aku untuk selalu bersyukur. Ingatkan aku untuk senantasa menjunjung kejujuran. Ingatkan aku untuk peduli sesama. Ingatkan aku untuk berlapang dada. Ingatkan aku untuk membuang jauh kesombongan dalam diri. Ingatkan aku untuk meminta maaf jika berbuat salah. Dan bersama mari kita saling mengingatkan untuk senantiasa memberi arti dan manfaat bagi sesama.
Yudie Matta
Listening Farah
composed by Mohamed Naiem
07-11-2010
01:58
05 November 2010
Aku dan Kamu
Aku adalah gajah
Yang tangguh dan perkasa
Tanpa belalai, gading dan telinga besar
Aku adalah lilin
Di tengah2 gulita malam
Dengan nyala satu titik saja
Aku adalah sebuah buku
Banyak kata mengisi tiap halaman
Namun tiada berhubungan satu dan yang lain
Aku adalah bunga
Tanpa warna
Tanpa aroma
Aku adalah sinar
Yang bisa menerangi dalam kegelapan
Hadir di tengah terik siang
Aku adalah manusia
Yang penuh cinta dan kasih
Tanpa seorang kekasih
Kekeringan ini
Kehampaan ini
Ketiadaan ini
Senantiasa hadir
Saat ku mengajukan tanya
Akan arti rasa
Aku tiada sesiapa
Sampai kau hadir dan memberi makna
yudie matta
05-11-10
last day @office
Yang tangguh dan perkasa
Tanpa belalai, gading dan telinga besar
Aku adalah lilin
Di tengah2 gulita malam
Dengan nyala satu titik saja
Aku adalah sebuah bukuBanyak kata mengisi tiap halaman
Namun tiada berhubungan satu dan yang lain
Aku adalah bunga
Tanpa warna
Tanpa aroma
Aku adalah sinar
Yang bisa menerangi dalam kegelapan
Hadir di tengah terik siang
Aku adalah manusia
Yang penuh cinta dan kasih
Tanpa seorang kekasih
Kekeringan iniKehampaan ini
Ketiadaan ini
Senantiasa hadir
Saat ku mengajukan tanya
Akan arti rasa
Aku tiada sesiapa
Sampai kau hadir dan memberi makna
yudie matta
05-11-10
last day @office
04 November 2010
Cantikku
“Papa, am I ugly?”
“Why did you say that, honey?”
“All my friends at school don’t like me. Maybe they think I’m ugly.”
“Did they say that?”
“No, Papa…”
“See…. Because, you’re not, my dear.”
“Or maybe they just think I’m too fat?”
“Did they say that?”
“Papa, they never say any bad things to me. But they just don’t want to be my friend. Don’t you get it, Pa?” Nicole segera meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Membanting pintu cukup keras.
Nicole baru pindah ke sekolah internasional di Singapura awal tahun ini. Sesaat setelah perayaan ulang tahunnya yang ke enam belas. Berat memang bagi Nicole meninggalkan teman-temannya di Surabaya, tetapi pilihan yang diberikan orang tuanya lebih berat lagi. Pindah sekolah bersama dengan kepindahan tugas ayahnya merambah pasar baru, atau tinggal di rumah sendiri tanpa pembantu dengan uang kiriman pas-pasan. Nicole belum bisa menjalani hidup secara mandiri seperti itu. Dia masih banyak bergantung pada orang tuanya.
Sudah lima bulan Nicole di sekolah baru. Dalam bayangan, Nicole akan senang karena bakalan berkawan dengan teman-teman berlatar belakang budaya yang berbeda. Harapannya, dia bisa belajar banyak bahasa dan budaya. Akan tetapi, ternyata teman-temannya tidak memberikan kesempatan itu. Entah, Nicole juga tidak habis pikir, apakah karena dia murid baru, atau karena dia orang Indonesia?
“Mama, ada apa dengan Nicole?”
“Saya juga tidak tahu. Akhir-akhir ini dia lebih banyak diam.”
“Sudah tidak pernah cerita-cerita ke mama lagi?”
“Hanya seminggu saja, sejak kita pindah ke sini, Pa.”
“Mama sudah coba hubungi sekolah Nicole, dan bicara dengan guru kelasnya?”
“Sudah Pa, Mrs. Catherine memaklumi keadaan ini untuk murid baru.”
“Tapi ini sudah lima bulan Ma..”
“Itu juga sudah Mama sampaikan ke Mrs. Catherine. Dia hanya minta kita bersabar saja. Sementara dia akan maksimalkan perannya di sekolah.”
“Mama harus pantau Nicole lebih lagi, dan sering-sering berdiskusi dengan Mrs. Catherine…”
“Itu sudah menjadi tugas Mama, Papa..”
“Papa hanya khawatir, Ma..”
“Khawatir kenapa, Pa?”
“Nicole tidak dapat diterima di lingkungannya, termasuk gurunya.”
“Maksud Papa?”
“Karena kita orang Indonesia…..”
***
Pemirsa, kondisi di perbatasan Indonesia – Malaysia saat ini semakin memanas. Setelah kemarin 7 nelayan Malaysia ditangkap oleh pemerintah Indonesia karena diduga melanggar batas wilayah. Sekarang sedikitnya ada 15 nelayan Indonesia yang dinyatakan hilang. Disinyalir telah ditangkap pemerintah dirja Malaysia karena melanggar batas-batas wilayah. Saat ini kami mencoba menghubungi rekan kami yang berada di Malaysia untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Sebentar lagi kita akan terhubung dengan Muhammad Malik, wartawan senior yang berada di Malaysia.
Mohon maaf pemirsa, saat ini wartawan kami masih dalam proses negosiasi dengan pemerintah diraja Malaysia. Kami akan selalu update informasi terbaru mengenai ditangkapnya 15 nelayan Indonesia oleh pemerintah diraja Malaysia. Tetaplah bersama kami.
***
“Oke class, tomorrow we will discuss about bilateral relations. So, each of you has to explain your country and how bilateral relations with Singapore go until present. Enough for today, and see you tomorrow class…”
Nicole semakin terbebani dengan tugas yang diberikan Mrs. Catherine. Hanya dia satu-satunya orang Indonesia di dalam kelas. Meskipun banyak orang Malaysia dia kelas, yang juga rumpun melayu, tetapi di Singapura mereka memandangnya berbeda. Indonesia dipandang jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia. Apalagi dibandingkan dengan Singapura dan Negara-negara Eropa dan Amerika. Indonesia tidak sebanding dengan mereka. Karena itulah Nicole merasa kecil di hadapan mereka. Dan terasing.
Nicole hanya menghela nafas panjang. Bayangan akan dipandang rendah oleh teman-teman sekelasnya sudah mengganggunya. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang itu saja. Semakin berat saja beban yang harus dia tanggung.
Dengan malas, Nicole masukkan buku-buku ke dalam tasnya.
“Nicole… “ Suara lembut itu membuyarkan lamunan Nicole.
“Yes…” Nicole mencoba menata diri
“Do I disturb you?”
“No… not at all.”
“I’m Javelyn, anyway.” Javelyn menjulurkan tangannya
“Nicole…. How do you know my name?” Nicole menyambut tawaran salam hangat Jevelyn.
“You’re the new student, right? Is there any other new student whitin 5 months? It’s not difficult to remember one name, even you had bad introduction 5 months ago.” Jevelyn tersenyum ke arah Nicole, dan membantunya merapikan buku.
“Sorry, I just felt everyone’s here couldn’t accept me.”
“Whoho… wait a second…. What are you talking about?”
“Are they like me?”
“Who?”
“Students here”
“Why don’t you ask them?”
“They don’t care about me”
“So, do you care about them?”
“I just want to have some friends here”
“Have you asked them?”
“No…” Nicole memelankan suara dan menundukkan kepalanya. Bangkit dari duduknya.
“Do you mind if I accompany you?"
“Please…” Nicole pun merasa senang dengan kehadiran Jevelyn. Mereka bercerita banyak sepanjang perjalanan pulang.
***
“Baiklah rekan-rekan, kita mulai saja meeting kali ini. Bagian penjualan, pak Yohanes silahkan sampaikan laporannya.”
“Penjualan untuk bulan ini cenderung menurun Pak. Sampai pada angka 10%, jika kita tidak segera ambil tindakan, mungkin bulan-bulan berikutnya akan semakin parah.”
“Kenapa sampai sebesar itu penurunannya?”
“Kita mungkin kalah bersaing dengan produk China pak.”
“Mungkin? Adakah jawaban lain, yang bisa segera mungkin kita ambil tindakan?”
“Pak, mungkin ini bisa membantu?”
“Saya tidak ingin kemungkinan disini… mengerti? Yang saya inginkan informasi yang tepat.”
“Pak, jika kita lihat perkembangan penjualan sejak dibukanya pasar di Singapura, ada tren yang perlu kita cermati.”
“Oke, silahkan lanjutkan. Yang lain, mohon diperhatikan dan kita akan diskusikan ini.”
“Penjualan dari bulan pertama sampai bulan ke empat tren nya meningkat dengan kenaikan rata-rata 3%”
“Namun kenapa kenapa penjualan di bulan kelima menurun?”
“Itu yang menjadi focus kita Pak.”
“So…”
“Kita coba kumpulkan beberapa informasi dan kabar yang beredar dalam kurun waktu tiga bulan ini. Dan ada beberapa hal yang kita prediksi sebagai penyebab penurunan penjualan kita.”
“Oke, apa itu?”
“Isu terosis yang beredar di Indonesia.”
“Apa hubungan antara isu teroris dengan penjualan terasi super?”
“Pak,ini Singapura…”
“Yang bilang ini Ngagel siapa?”
“Maksud saya, penduduk Singapura jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, secara intelektual.”
“Saya masih tidak paham dimana hubungannya?”
“Ketika isu-isu teroris terus dimunculkan, yang ada dalam pikiran mereka: Indonesia adalah Negara teroris. Jika seperti itu, bagaimana perasaan orang Singapura ketika menggunakan produk dari Indonesia? Mereka akan berpikir dua kali. Karena mereka benci teroris. Karena mereka tidak ingin menjadi seperti teroris. Karena………”
“Ada yang lain selain teroris?”
“Pak, saya belum selesai menyampaikan analisa tentang teroris.”
“Cukup, bagi saya tidak masuk akal.”
“Kalau saya menilai serangan produk China mempengaruhi penjualan kita pak. Jika Bapak perhatikan di hampir semua mall dan supermarket, akan banyak Bapak temui produk-produk China. Mulai dari elektronik sampai gelang rambut. Semunya produk China.”
“Apakah China juga menghasilkan trasi super?”
“Tidak pak.”
“Apakah mereka menggantikan kebutuhan trasi super dengan barang2 dari China?”
“Tidak juga pak.”
“Adakah analisa yang lain?”
“Tapi pak, barang2 China saat ini benar-benar merajai pasar…”
“Yang lain, please…”
“Begini pak, ini tidak langsung berhubungan dengan Singapura. Tetapi saya yakin ada relevansinya. Tentang isu perbatasan Indonesia-Malaysia. Karena Malaysia dan Singapura adalah sama-sama negara persemakmuran Inggris. Jika masalah perbatasan ini terus berlanjut, kita juga akan kena dampak kesulitan perijinan untuk memasarkan trasi super kita, Pak.”
“Analisa yang menarik. Yang lain cari data yang paling akurat untuk permasalahan ini. Kita akan meeting lagi besok untuk mencari tahu jalan keluar permasalahan ini. Terima kasih semuanya, dan meeting saya sudahi.”
***
“Javelyn, can I ask you question?”
“Please, anytime…”
“Why are you so kind to me?”
“I beg your pardon, is it wrong being nice?”
“No… I mean, all students not even look at me.”
“Don’t ask me about them… it none of my business.”
“So, why you…”
“If you ask me, maybe I even don’t know the right answer. I just like you and want to be your friend.”
“That’s all?”
“Anything you want to add up?”
Nicole menggelengkan kepala, “Thank you…”
“You’re welcome, friend…”Nicole pun tersenyum mendengar Jevelyn memanggilnya teman.
***
Pemirsa, kembali kita akan menghubungi Muhammad Malik, wartawan senior yang ada di Malaysia untuk mengetahui berita terkini mengenai penangkapan lima belas nelayan oleh pemerintah diraja Malaysia.
‘Malik, bisa dengar suara saya.’
‘Bisa Nita.’
‘Baik, silahkan dengan laporannya.’
‘Baik, Nita dan juga pemirsa sekalian, saat ini saya berada di kantor kepolisian diraja Malaysia, terkait penangkapan 15 nelayan Indonesia karena melanggar batas-batas wilayah. Bersama saya, sudah ada Bapak Maskin, salah satu nelayan yang ditangkap. Pak Maskin, bisa diceritakan kronologis kejadiannya?’
‘Saat itu kami sedang melakukan aktifitas seperti biasa, dan tiba-tiba saja polisi Malaysia datang dan menangkap kami.’
‘Seperti biasa? Apakah Bapak tahu telah melanggar batas wilayah?’
‘Setiap hari kita melempar jaring di daerah itu, Pak. Kita tidak tahu apakah itu masuk wilayah Indonesia atau Malaysia.’
‘Apakah tidak ada tanda khusus untuk perbatasan ini?’
‘Tidak ada pak.’
‘Baik, terima kasih pak Maskin. Nita, bisa saya laporkan juga bahwa kepolisian diraja Malaysia belum memberikan keterangan resmi seputar penangkapan ini. Kami akan update lagi informasi disini. Kembali ke Anda, saudari Nita.’
***
“You know what, Nicole?”
“Yes…”
“I always admire Indonesia.”
“You do?”
“Yes, for me, Indonesia is the beauty.”
“I think France is more beautiful.”
“Even I’m French, but for me the beauty is Indonesia.”
“Why?”
“Indonesia has a complete package. The people, culture, arts, dance, the islands and they are so unique.”
“They are?”
“Don’t you realize that? I know Indonesia when I was five. My parents took me to Bali, Lombok, Surabaya and Jakarta. It was amazing. I still can remember the details of that moment. Part of my heart belongs to them. That is why I always want to come back to Indonesia.”
“If you please, you can go with me. We can go together on weekend.”
“With all my pleasure, my friend.”
***
“Ma, Papa khawatir mimpi kita di Singapura tidak bisa terwujud.”
“Kok tiba-tiba Papa bilang seperti itu?”
“Indonesia ada masalah dengan Malaysia lagi, tentang perbatasan. Papa yakin akan berakibat juga di Singapura.”
“Lalu, bagaimana dengan kita?”
“Mama siap-siap saja, sewaktu-waktu kita bisa kembali ke Surabaya.”
“Apakah sampai separah itu, Pa?”
“Papa juga belum tahu pastinya. Mama jaga-jaga saja.”
“Iya Pa.”
***
Pemirsa, sebentar lagi pemerintah diraja Malaysia akan memberikan keterangan resmi terkait penangkapan 15 nelayan Indonesia. Dan kami akan menyampaikan beritanya kepada Anda secara langsung. Nampak di belakang saya, juru bicara kepolisian sudah keluar dari gedung. Segera kita akan dengarkan penyataan dari juru bicara kepolisian.
Thank you, ladies and gentlemen. After hard discussion with Indonesian Ministry in Malaysia, we can say this is mis-understanding problem. Thus, we ask Indonesian government to release 7 Malaysian fishermen, then we will release 10 Indonesian fishermen. Is there any question?
“Why were they caught?”
"Because they disobey boundary region.”
“Is there any discussion about this, Sir?”
“We will discuss it later, in separate time.”
“We face this boundary problem again and again. Is there any specific sign so fisherman could recognize the boundary, Sir?”
“Not yet, and we will discuss it later.”
“When?”
“We will inform you later.”
***
“Mama, malam ini boleh Nicole mengundang teman sekolah?”
“Nicole… You do surprise me. Apa Mama tidak salah dengar?”
“No Mama….. may I?”
“Of course my dear, it’d be my pleasure. Mama so surprise you use Indonesian, and invite your friend indeed.”
“If my French friend loves Indonesia. So, why don’t I?”
“You will invite your French friend?”
“Yes, Mama”
“Should I cook French food?”
“No, Mama. Jevelyn loves Indonesia as the way it is. Dia akan semakin gembira kalau Mama masak masakan Indonesia yang enak.”
“Tentu saja anakku, sayang.”
“Halo Papa, nanti makan malam di rumah ya. Ada tamu special.”
“Tamu special?”
“Iya Papa. Nicole baru saja minta mama menyiapkan makan malam untuk temannya.”
“Benar Ma?”
“Benar Pa. Temannya dari Perancis akan datang untuk makan malam bersama.”
“Papa senang mendengarnya.”
“Dan satu lagi Pa.”
“Apa itu?”
“Nicole tadi meminta mama dengan menggunakan bahasa Indonesia?”
“Apa? Papa kira Nicole tidak akan menggunakan bahasa Indonesia lagi, setelah kepindahan kita ke sini.”
“Mama juga punya pikiran begitu. Mama masih ingat betul, ketika kita pindah ke Singapura, Nicole bersikeras tidak mau ikut. Dan Papa tetap memaksa Nicole untuk ikut.”
“Iya Ma, Papa juga masih mengingatnya. Apalagi ketika Nicole bilang: Baiklah Pa, jika Papa memaksa Nicole ikut pindah ke Singapura mulai saat ini Nicole tidak memakai bahasa Indonesia. Itu kan harapan Papa, selalu melihat masa depan?”
“Pa, itu kan memang untuk kebaikan masa depan Nicole. Tidak ada yang perlu disesali, Papa.”
“Terima kasih banyak Ma.”
***
Pemirsa, sebentar lagi kita akan menyaksikan pembebasan nelayan Indonesia oleh pemerintah diraja Malaysia.Di balik tembok ini, mereka masih melakukan prosesi upacara. Sayup-sayup terdengar, nampaknya prosesi upacara telah selesai dilaksanakan. Mungkin sebentar lagi kita akan melihat ke lima belas nelayan Indonesia yang sudah tiga hari ditahan pemerintah diraja Malaysia karena melanggar batas wilayah.
Dari suara yang bisa kita dengar, prosesi upacara telah selesai dilaksanakan, tetapi kita tidak melihat adanya aktifitas di dekat pintu keluar. Perlu pemirsa ketahui, bahwa media massa dilarang masuk ke dalam kantor kepolisian diraja Malaysia. Sehingga kita hanya bisa melaporkan dari sini.
Pintu telah dibuka, kita akan coba wawancarai petugas yang berjaga di sana untuk mengetahui kondisi terkini.
"When will you release all Indonesian fishermen?”
“Wait until we finish doing all the process.”
“The ceremony has alredy finished, right?”
“Yes, but we still have administration process. So please, be patient.”
Pemirsa, ternyata setelah prosesi upacara, masih ada proses administrasi yang perlu dilalui kelima belas nelayan Indonesia. Kami akan selalu update informasinya. Tetaplah bersama kami.
***
“Good evening, Sir and Mam.”
“Good evening Javelyn, please have a seat.”
“Thank you.”
“So, how long have you been here, in Singapore?”
“About three years.”
“Quite long…. Do you enjoy Singapore?”
“Do I have a choice not to enjoy Singapore?”
“Hahahaha….. you are smart kid…..”
“Enough conversation…… the food’s coming, give us a way.”
“Here, you cannot have discussion while having dinner.”
“Oke…. Noted.’
“But, the most important thing, you have to eat up them all.”
“Mama….”
“You cooked so many food, how can I?”
“Kidding, Jevelyn…. At least you have to eat up the food on your plate.”
“Sure, Mam.”
“Thank you for this wonderful dinner. The food’s amazing.”
“My pleasure, Javelyn.”
“And you also have a warm family. I feel so comfort and warm among you.”
“What a great compliment. Thank you.”
“I mean it, seriously. You make me love Indonesia more and more.”
“How wonderful. You should join us visit some places in Indonesia on your weekend.”
“I told you…. I’ve already told Jevalyn so.”
“So, what do you think, Jevelyn?”
“My pleasure…”
***
“Pak, sudah dengar berita terbaru?”
“Berita apa?”
“Indonesia-Malaysia akan membebaskan nelayan yang ditawan.”
“Good news.”
“Pemerintah Indonesia sudah membebaskan nelayan Malaysia. Tetapi pemerintah diraja Malaysia belum membebaskan nelayan Indonesia.”
“Kenapa?”
“Mereka harus melewati proses administrasi terlebih dahulu. Rencananya akan dibebaskan pagi ini. Biasanya disiarkan langsung oleh televisi Indonesia.”
“Tolong bawa televisi ke ruangan, saya ingin melihat beritanya.”
“Baik Pak.”
Pemirsa, saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sebentar lagi, pemerintah diraja Malaysia akan membebaskan kelima belas nelayan Indonesia yang sudah ditahan empat hari, sampai hari ini, karena melanggar batas wilayah. Perlu saya informasikan, sesuai kesepakatan, baik Indonesia maupun Malaysia akan membebaskan nelayan yang ditahan, karena dianggap ini adalah masalah salah pengertian semata. Kemarin, pemerintah Indonesia sudah membebaskan ketujuh nelayan Malaysia yang ditahan dengan alasan serupa. Rencananya, pembicaraan tentang batas-batas wilayah Indonesia – Malaysia akan dibahas lebih intensive, mengingat sering terjadinya penangkapan karena alas an melanggar batas wilayah.
Pintu gerbang sudah dibuka, dan nampak nelayan Indonesia keluar satu per satu. Kita akan coba mewawancarai mereka.
‘Pak Maskin, bagaimana perasaan Anda sudah dibebaskan?’
‘Tentu senang Pak, bisa berkumpul dengan keluarga kembali.’
‘Apa suka-duka Bapak selama ditahan pemerintah diraja Malaysia?’
‘Yang namanya ditahan mana ada sukanya, Pak?’
‘Apa yang Bapak rasakan selama ditahan.’
‘Ya kangen keluarga, Pak.’
Baiklah pemirsa, kelima belas nelayan Indonesia yang telah ditahan pemerintah diraja Malaysia telah dibebaskan dan bisa berkumpul lagi bersama keluarga. Demikian laporan Muhammad Malik dan juru kamera Salahudin dari Malaysia. Kini kita kembali ke studio.
“Pak Yohanes, segera ke ruangan saya.”
“Baik pak.”
“Bapak memanggil saya?”
“Pak Yohanes sudah mengikuti berita terkini?”
“Sudah Pak.”
“Berarti masalah perbatasan Indonesia-Malaysia sudah bukan penghambat penjualan kita lagi.”
“Iya Pak.”
“Tugas pak Yohanes sekarang mempersiapkan strategi pemasaran, agar penjualan kita kembali meningkat.”
“Baik Pak.”
“Tiga hari lagi saya minta semua konsep strategi pemasaran terbaru bisa Bapak siapkan.’
“Iya Pak.”
***
Thank you Mrs Catherine for the time and opportunity given to me. I’d like to share about Indonesia. How beauty Indonesia is. And one thing you need to know, that I would use my mother tongue language, bahasa Indonesia to explain this. Because, I love Indonesia. I love being Indonesian. And I love each part of Indonesia. I have already wrote all my speech on paper in English. So, you can understand what I’m saying by reading the paper I gave to you.
Yudie Matta
04-11-2010
at desk - office
Note: Saya dedikasikan cerpen ini untuk teman berbagi yang telah merayakan ulang tahunnya September kemarin. Sorry if I’m late uploading this short-story. I need to find some fresh idea in writing. Anyway, I keep my promise, don’t I? Enjoy………..
“Why did you say that, honey?”
“All my friends at school don’t like me. Maybe they think I’m ugly.”
“Did they say that?”
“No, Papa…”
“See…. Because, you’re not, my dear.”
“Or maybe they just think I’m too fat?”
“Did they say that?”
“Papa, they never say any bad things to me. But they just don’t want to be my friend. Don’t you get it, Pa?” Nicole segera meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Membanting pintu cukup keras.
Nicole baru pindah ke sekolah internasional di Singapura awal tahun ini. Sesaat setelah perayaan ulang tahunnya yang ke enam belas. Berat memang bagi Nicole meninggalkan teman-temannya di Surabaya, tetapi pilihan yang diberikan orang tuanya lebih berat lagi. Pindah sekolah bersama dengan kepindahan tugas ayahnya merambah pasar baru, atau tinggal di rumah sendiri tanpa pembantu dengan uang kiriman pas-pasan. Nicole belum bisa menjalani hidup secara mandiri seperti itu. Dia masih banyak bergantung pada orang tuanya.
Sudah lima bulan Nicole di sekolah baru. Dalam bayangan, Nicole akan senang karena bakalan berkawan dengan teman-teman berlatar belakang budaya yang berbeda. Harapannya, dia bisa belajar banyak bahasa dan budaya. Akan tetapi, ternyata teman-temannya tidak memberikan kesempatan itu. Entah, Nicole juga tidak habis pikir, apakah karena dia murid baru, atau karena dia orang Indonesia?
“Mama, ada apa dengan Nicole?”
“Saya juga tidak tahu. Akhir-akhir ini dia lebih banyak diam.”
“Sudah tidak pernah cerita-cerita ke mama lagi?”
“Hanya seminggu saja, sejak kita pindah ke sini, Pa.”
“Mama sudah coba hubungi sekolah Nicole, dan bicara dengan guru kelasnya?”
“Sudah Pa, Mrs. Catherine memaklumi keadaan ini untuk murid baru.”
“Tapi ini sudah lima bulan Ma..”
“Itu juga sudah Mama sampaikan ke Mrs. Catherine. Dia hanya minta kita bersabar saja. Sementara dia akan maksimalkan perannya di sekolah.”
“Mama harus pantau Nicole lebih lagi, dan sering-sering berdiskusi dengan Mrs. Catherine…”
“Itu sudah menjadi tugas Mama, Papa..”
“Papa hanya khawatir, Ma..”
“Khawatir kenapa, Pa?”
“Nicole tidak dapat diterima di lingkungannya, termasuk gurunya.”
“Maksud Papa?”
“Karena kita orang Indonesia…..”
***
Pemirsa, kondisi di perbatasan Indonesia – Malaysia saat ini semakin memanas. Setelah kemarin 7 nelayan Malaysia ditangkap oleh pemerintah Indonesia karena diduga melanggar batas wilayah. Sekarang sedikitnya ada 15 nelayan Indonesia yang dinyatakan hilang. Disinyalir telah ditangkap pemerintah dirja Malaysia karena melanggar batas-batas wilayah. Saat ini kami mencoba menghubungi rekan kami yang berada di Malaysia untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Sebentar lagi kita akan terhubung dengan Muhammad Malik, wartawan senior yang berada di Malaysia.
Mohon maaf pemirsa, saat ini wartawan kami masih dalam proses negosiasi dengan pemerintah diraja Malaysia. Kami akan selalu update informasi terbaru mengenai ditangkapnya 15 nelayan Indonesia oleh pemerintah diraja Malaysia. Tetaplah bersama kami.
***
“Oke class, tomorrow we will discuss about bilateral relations. So, each of you has to explain your country and how bilateral relations with Singapore go until present. Enough for today, and see you tomorrow class…”
Nicole semakin terbebani dengan tugas yang diberikan Mrs. Catherine. Hanya dia satu-satunya orang Indonesia di dalam kelas. Meskipun banyak orang Malaysia dia kelas, yang juga rumpun melayu, tetapi di Singapura mereka memandangnya berbeda. Indonesia dipandang jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia. Apalagi dibandingkan dengan Singapura dan Negara-negara Eropa dan Amerika. Indonesia tidak sebanding dengan mereka. Karena itulah Nicole merasa kecil di hadapan mereka. Dan terasing.
Nicole hanya menghela nafas panjang. Bayangan akan dipandang rendah oleh teman-teman sekelasnya sudah mengganggunya. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang itu saja. Semakin berat saja beban yang harus dia tanggung.
Dengan malas, Nicole masukkan buku-buku ke dalam tasnya.
“Nicole… “ Suara lembut itu membuyarkan lamunan Nicole.
“Yes…” Nicole mencoba menata diri
“Do I disturb you?”
“No… not at all.”
“I’m Javelyn, anyway.” Javelyn menjulurkan tangannya
“Nicole…. How do you know my name?” Nicole menyambut tawaran salam hangat Jevelyn.
“You’re the new student, right? Is there any other new student whitin 5 months? It’s not difficult to remember one name, even you had bad introduction 5 months ago.” Jevelyn tersenyum ke arah Nicole, dan membantunya merapikan buku.
“Sorry, I just felt everyone’s here couldn’t accept me.”
“Whoho… wait a second…. What are you talking about?”
“Are they like me?”
“Who?”
“Students here”
“Why don’t you ask them?”
“They don’t care about me”
“So, do you care about them?”
“I just want to have some friends here”
“Have you asked them?”
“No…” Nicole memelankan suara dan menundukkan kepalanya. Bangkit dari duduknya.
“Do you mind if I accompany you?"
“Please…” Nicole pun merasa senang dengan kehadiran Jevelyn. Mereka bercerita banyak sepanjang perjalanan pulang.
***
“Baiklah rekan-rekan, kita mulai saja meeting kali ini. Bagian penjualan, pak Yohanes silahkan sampaikan laporannya.”
“Penjualan untuk bulan ini cenderung menurun Pak. Sampai pada angka 10%, jika kita tidak segera ambil tindakan, mungkin bulan-bulan berikutnya akan semakin parah.”
“Kenapa sampai sebesar itu penurunannya?”
“Kita mungkin kalah bersaing dengan produk China pak.”
“Mungkin? Adakah jawaban lain, yang bisa segera mungkin kita ambil tindakan?”
“Pak, mungkin ini bisa membantu?”
“Saya tidak ingin kemungkinan disini… mengerti? Yang saya inginkan informasi yang tepat.”
“Pak, jika kita lihat perkembangan penjualan sejak dibukanya pasar di Singapura, ada tren yang perlu kita cermati.”
“Oke, silahkan lanjutkan. Yang lain, mohon diperhatikan dan kita akan diskusikan ini.”
“Penjualan dari bulan pertama sampai bulan ke empat tren nya meningkat dengan kenaikan rata-rata 3%”
“Namun kenapa kenapa penjualan di bulan kelima menurun?”
“Itu yang menjadi focus kita Pak.”
“So…”
“Kita coba kumpulkan beberapa informasi dan kabar yang beredar dalam kurun waktu tiga bulan ini. Dan ada beberapa hal yang kita prediksi sebagai penyebab penurunan penjualan kita.”
“Oke, apa itu?”
“Isu terosis yang beredar di Indonesia.”
“Apa hubungan antara isu teroris dengan penjualan terasi super?”
“Pak,ini Singapura…”
“Yang bilang ini Ngagel siapa?”
“Maksud saya, penduduk Singapura jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, secara intelektual.”
“Saya masih tidak paham dimana hubungannya?”
“Ketika isu-isu teroris terus dimunculkan, yang ada dalam pikiran mereka: Indonesia adalah Negara teroris. Jika seperti itu, bagaimana perasaan orang Singapura ketika menggunakan produk dari Indonesia? Mereka akan berpikir dua kali. Karena mereka benci teroris. Karena mereka tidak ingin menjadi seperti teroris. Karena………”
“Ada yang lain selain teroris?”
“Pak, saya belum selesai menyampaikan analisa tentang teroris.”
“Cukup, bagi saya tidak masuk akal.”
“Kalau saya menilai serangan produk China mempengaruhi penjualan kita pak. Jika Bapak perhatikan di hampir semua mall dan supermarket, akan banyak Bapak temui produk-produk China. Mulai dari elektronik sampai gelang rambut. Semunya produk China.”
“Apakah China juga menghasilkan trasi super?”
“Tidak pak.”
“Apakah mereka menggantikan kebutuhan trasi super dengan barang2 dari China?”
“Tidak juga pak.”
“Adakah analisa yang lain?”
“Tapi pak, barang2 China saat ini benar-benar merajai pasar…”
“Yang lain, please…”
“Begini pak, ini tidak langsung berhubungan dengan Singapura. Tetapi saya yakin ada relevansinya. Tentang isu perbatasan Indonesia-Malaysia. Karena Malaysia dan Singapura adalah sama-sama negara persemakmuran Inggris. Jika masalah perbatasan ini terus berlanjut, kita juga akan kena dampak kesulitan perijinan untuk memasarkan trasi super kita, Pak.”
“Analisa yang menarik. Yang lain cari data yang paling akurat untuk permasalahan ini. Kita akan meeting lagi besok untuk mencari tahu jalan keluar permasalahan ini. Terima kasih semuanya, dan meeting saya sudahi.”
***
“Javelyn, can I ask you question?”
“Please, anytime…”
“Why are you so kind to me?”
“I beg your pardon, is it wrong being nice?”
“No… I mean, all students not even look at me.”
“Don’t ask me about them… it none of my business.”
“So, why you…”
“If you ask me, maybe I even don’t know the right answer. I just like you and want to be your friend.”
“That’s all?”
“Anything you want to add up?”
Nicole menggelengkan kepala, “Thank you…”
“You’re welcome, friend…”Nicole pun tersenyum mendengar Jevelyn memanggilnya teman.
***
Pemirsa, kembali kita akan menghubungi Muhammad Malik, wartawan senior yang ada di Malaysia untuk mengetahui berita terkini mengenai penangkapan lima belas nelayan oleh pemerintah diraja Malaysia.
‘Malik, bisa dengar suara saya.’
‘Bisa Nita.’
‘Baik, silahkan dengan laporannya.’
‘Baik, Nita dan juga pemirsa sekalian, saat ini saya berada di kantor kepolisian diraja Malaysia, terkait penangkapan 15 nelayan Indonesia karena melanggar batas-batas wilayah. Bersama saya, sudah ada Bapak Maskin, salah satu nelayan yang ditangkap. Pak Maskin, bisa diceritakan kronologis kejadiannya?’
‘Saat itu kami sedang melakukan aktifitas seperti biasa, dan tiba-tiba saja polisi Malaysia datang dan menangkap kami.’
‘Seperti biasa? Apakah Bapak tahu telah melanggar batas wilayah?’
‘Setiap hari kita melempar jaring di daerah itu, Pak. Kita tidak tahu apakah itu masuk wilayah Indonesia atau Malaysia.’
‘Apakah tidak ada tanda khusus untuk perbatasan ini?’
‘Tidak ada pak.’
‘Baik, terima kasih pak Maskin. Nita, bisa saya laporkan juga bahwa kepolisian diraja Malaysia belum memberikan keterangan resmi seputar penangkapan ini. Kami akan update lagi informasi disini. Kembali ke Anda, saudari Nita.’
***
“You know what, Nicole?”
“Yes…”
“I always admire Indonesia.”
“You do?”
“Yes, for me, Indonesia is the beauty.”
“I think France is more beautiful.”
“Even I’m French, but for me the beauty is Indonesia.”
“Why?”
“Indonesia has a complete package. The people, culture, arts, dance, the islands and they are so unique.”
“They are?”
“Don’t you realize that? I know Indonesia when I was five. My parents took me to Bali, Lombok, Surabaya and Jakarta. It was amazing. I still can remember the details of that moment. Part of my heart belongs to them. That is why I always want to come back to Indonesia.”
“If you please, you can go with me. We can go together on weekend.”
“With all my pleasure, my friend.”
***
“Ma, Papa khawatir mimpi kita di Singapura tidak bisa terwujud.”
“Kok tiba-tiba Papa bilang seperti itu?”
“Indonesia ada masalah dengan Malaysia lagi, tentang perbatasan. Papa yakin akan berakibat juga di Singapura.”
“Lalu, bagaimana dengan kita?”
“Mama siap-siap saja, sewaktu-waktu kita bisa kembali ke Surabaya.”
“Apakah sampai separah itu, Pa?”
“Papa juga belum tahu pastinya. Mama jaga-jaga saja.”
“Iya Pa.”
***
Pemirsa, sebentar lagi pemerintah diraja Malaysia akan memberikan keterangan resmi terkait penangkapan 15 nelayan Indonesia. Dan kami akan menyampaikan beritanya kepada Anda secara langsung. Nampak di belakang saya, juru bicara kepolisian sudah keluar dari gedung. Segera kita akan dengarkan penyataan dari juru bicara kepolisian.
Thank you, ladies and gentlemen. After hard discussion with Indonesian Ministry in Malaysia, we can say this is mis-understanding problem. Thus, we ask Indonesian government to release 7 Malaysian fishermen, then we will release 10 Indonesian fishermen. Is there any question?
“Why were they caught?”
"Because they disobey boundary region.”
“Is there any discussion about this, Sir?”
“We will discuss it later, in separate time.”
“We face this boundary problem again and again. Is there any specific sign so fisherman could recognize the boundary, Sir?”
“Not yet, and we will discuss it later.”
“When?”
“We will inform you later.”
***
“Mama, malam ini boleh Nicole mengundang teman sekolah?”
“Nicole… You do surprise me. Apa Mama tidak salah dengar?”
“No Mama….. may I?”
“Of course my dear, it’d be my pleasure. Mama so surprise you use Indonesian, and invite your friend indeed.”
“If my French friend loves Indonesia. So, why don’t I?”
“You will invite your French friend?”
“Yes, Mama”
“Should I cook French food?”
“No, Mama. Jevelyn loves Indonesia as the way it is. Dia akan semakin gembira kalau Mama masak masakan Indonesia yang enak.”
“Tentu saja anakku, sayang.”
“Halo Papa, nanti makan malam di rumah ya. Ada tamu special.”
“Tamu special?”
“Iya Papa. Nicole baru saja minta mama menyiapkan makan malam untuk temannya.”
“Benar Ma?”
“Benar Pa. Temannya dari Perancis akan datang untuk makan malam bersama.”
“Papa senang mendengarnya.”
“Dan satu lagi Pa.”
“Apa itu?”
“Nicole tadi meminta mama dengan menggunakan bahasa Indonesia?”
“Apa? Papa kira Nicole tidak akan menggunakan bahasa Indonesia lagi, setelah kepindahan kita ke sini.”
“Mama juga punya pikiran begitu. Mama masih ingat betul, ketika kita pindah ke Singapura, Nicole bersikeras tidak mau ikut. Dan Papa tetap memaksa Nicole untuk ikut.”
“Iya Ma, Papa juga masih mengingatnya. Apalagi ketika Nicole bilang: Baiklah Pa, jika Papa memaksa Nicole ikut pindah ke Singapura mulai saat ini Nicole tidak memakai bahasa Indonesia. Itu kan harapan Papa, selalu melihat masa depan?”
“Pa, itu kan memang untuk kebaikan masa depan Nicole. Tidak ada yang perlu disesali, Papa.”
“Terima kasih banyak Ma.”
***
Pemirsa, sebentar lagi kita akan menyaksikan pembebasan nelayan Indonesia oleh pemerintah diraja Malaysia.Di balik tembok ini, mereka masih melakukan prosesi upacara. Sayup-sayup terdengar, nampaknya prosesi upacara telah selesai dilaksanakan. Mungkin sebentar lagi kita akan melihat ke lima belas nelayan Indonesia yang sudah tiga hari ditahan pemerintah diraja Malaysia karena melanggar batas wilayah.
Dari suara yang bisa kita dengar, prosesi upacara telah selesai dilaksanakan, tetapi kita tidak melihat adanya aktifitas di dekat pintu keluar. Perlu pemirsa ketahui, bahwa media massa dilarang masuk ke dalam kantor kepolisian diraja Malaysia. Sehingga kita hanya bisa melaporkan dari sini.
Pintu telah dibuka, kita akan coba wawancarai petugas yang berjaga di sana untuk mengetahui kondisi terkini.
"When will you release all Indonesian fishermen?”
“Wait until we finish doing all the process.”
“The ceremony has alredy finished, right?”
“Yes, but we still have administration process. So please, be patient.”
Pemirsa, ternyata setelah prosesi upacara, masih ada proses administrasi yang perlu dilalui kelima belas nelayan Indonesia. Kami akan selalu update informasinya. Tetaplah bersama kami.
***
“Good evening, Sir and Mam.”
“Good evening Javelyn, please have a seat.”
“Thank you.”
“So, how long have you been here, in Singapore?”
“About three years.”
“Quite long…. Do you enjoy Singapore?”
“Do I have a choice not to enjoy Singapore?”
“Hahahaha….. you are smart kid…..”
“Enough conversation…… the food’s coming, give us a way.”
“Here, you cannot have discussion while having dinner.”
“Oke…. Noted.’
“But, the most important thing, you have to eat up them all.”
“Mama….”
“You cooked so many food, how can I?”
“Kidding, Jevelyn…. At least you have to eat up the food on your plate.”
“Sure, Mam.”
“Thank you for this wonderful dinner. The food’s amazing.”
“My pleasure, Javelyn.”
“And you also have a warm family. I feel so comfort and warm among you.”
“What a great compliment. Thank you.”
“I mean it, seriously. You make me love Indonesia more and more.”
“How wonderful. You should join us visit some places in Indonesia on your weekend.”
“I told you…. I’ve already told Jevalyn so.”
“So, what do you think, Jevelyn?”
“My pleasure…”
***
“Pak, sudah dengar berita terbaru?”
“Berita apa?”
“Indonesia-Malaysia akan membebaskan nelayan yang ditawan.”
“Good news.”
“Pemerintah Indonesia sudah membebaskan nelayan Malaysia. Tetapi pemerintah diraja Malaysia belum membebaskan nelayan Indonesia.”
“Kenapa?”
“Mereka harus melewati proses administrasi terlebih dahulu. Rencananya akan dibebaskan pagi ini. Biasanya disiarkan langsung oleh televisi Indonesia.”
“Tolong bawa televisi ke ruangan, saya ingin melihat beritanya.”
“Baik Pak.”
Pemirsa, saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sebentar lagi, pemerintah diraja Malaysia akan membebaskan kelima belas nelayan Indonesia yang sudah ditahan empat hari, sampai hari ini, karena melanggar batas wilayah. Perlu saya informasikan, sesuai kesepakatan, baik Indonesia maupun Malaysia akan membebaskan nelayan yang ditahan, karena dianggap ini adalah masalah salah pengertian semata. Kemarin, pemerintah Indonesia sudah membebaskan ketujuh nelayan Malaysia yang ditahan dengan alasan serupa. Rencananya, pembicaraan tentang batas-batas wilayah Indonesia – Malaysia akan dibahas lebih intensive, mengingat sering terjadinya penangkapan karena alas an melanggar batas wilayah.
Pintu gerbang sudah dibuka, dan nampak nelayan Indonesia keluar satu per satu. Kita akan coba mewawancarai mereka.
‘Pak Maskin, bagaimana perasaan Anda sudah dibebaskan?’
‘Tentu senang Pak, bisa berkumpul dengan keluarga kembali.’
‘Apa suka-duka Bapak selama ditahan pemerintah diraja Malaysia?’
‘Yang namanya ditahan mana ada sukanya, Pak?’
‘Apa yang Bapak rasakan selama ditahan.’
‘Ya kangen keluarga, Pak.’
Baiklah pemirsa, kelima belas nelayan Indonesia yang telah ditahan pemerintah diraja Malaysia telah dibebaskan dan bisa berkumpul lagi bersama keluarga. Demikian laporan Muhammad Malik dan juru kamera Salahudin dari Malaysia. Kini kita kembali ke studio.
“Pak Yohanes, segera ke ruangan saya.”
“Baik pak.”
“Bapak memanggil saya?”
“Pak Yohanes sudah mengikuti berita terkini?”
“Sudah Pak.”
“Berarti masalah perbatasan Indonesia-Malaysia sudah bukan penghambat penjualan kita lagi.”
“Iya Pak.”
“Tugas pak Yohanes sekarang mempersiapkan strategi pemasaran, agar penjualan kita kembali meningkat.”
“Baik Pak.”
“Tiga hari lagi saya minta semua konsep strategi pemasaran terbaru bisa Bapak siapkan.’
“Iya Pak.”
***
Thank you Mrs Catherine for the time and opportunity given to me. I’d like to share about Indonesia. How beauty Indonesia is. And one thing you need to know, that I would use my mother tongue language, bahasa Indonesia to explain this. Because, I love Indonesia. I love being Indonesian. And I love each part of Indonesia. I have already wrote all my speech on paper in English. So, you can understand what I’m saying by reading the paper I gave to you.
Yudie Matta
04-11-2010
at desk - office
Note: Saya dedikasikan cerpen ini untuk teman berbagi yang telah merayakan ulang tahunnya September kemarin. Sorry if I’m late uploading this short-story. I need to find some fresh idea in writing. Anyway, I keep my promise, don’t I? Enjoy………..
07 September 2010
Sendiri
ku bangun... ku tersadar... ku berjalan
ku berjalan... ku tersadar... ku berharap
ku berharap... ku tersadar... ku berkembang
ku berkembang... ku tersadar... ku bahagia
ku berucap... kusadari... ada arti
ku berucap... kusadari... tak sendiri
ku berucap... kusadari... ada harap lebih
ku berucap... kusadari... akan lebih berarti
sadarku... menjalankan sendi2 dalam otakku
dan merajut keimanan dalam laku
serta memantapkan diri
bahwa aku tidak sendiri
kesendirianku...
bukan tanda kelemahanku
tidak berarti aku tak mampu
aku bisa merasakan kehadiranNya... dalam kesendirianku
akan bisa memahami indah diriku... dalam kesendirianku
serta menyusun rencana masa depanku... dalam kesendirianku
kau tahu...
dalam kesendirianku
aku masih membutuhkanmu.....
~djombang, Sept 7th '10~
ku berjalan... ku tersadar... ku berharap
ku berharap... ku tersadar... ku berkembang
ku berkembang... ku tersadar... ku bahagia
ku berucap... kusadari... ada arti
ku berucap... kusadari... tak sendiri
ku berucap... kusadari... ada harap lebih
ku berucap... kusadari... akan lebih berarti
sadarku... menjalankan sendi2 dalam otakku
dan merajut keimanan dalam laku
serta memantapkan diri
bahwa aku tidak sendiri
kesendirianku...
bukan tanda kelemahanku
tidak berarti aku tak mampu
aku bisa merasakan kehadiranNya... dalam kesendirianku
akan bisa memahami indah diriku... dalam kesendirianku
serta menyusun rencana masa depanku... dalam kesendirianku
kau tahu...
dalam kesendirianku
aku masih membutuhkanmu.....
~djombang, Sept 7th '10~
31 August 2010
L.O.V.E
"Mau dijual berapa, bu?" tanya seorang lelaki berperawakan keras dengan wajah tidak bersahabat.
"Satu setengah saja, pak," jawab seorang ibu paruh baya dengan nada berat dan lirih.
"Mana bisa? Ibu minta satu saja saya masih mikir-mikir bu."
"Masa satu tidak bisa juga pak?"
"Delapan ratus. Kalau ibu tak mau, ambil lagi kalungnya."
Ibu terdiam sejenak. Dipandanginya kalung dalam genggaman bapak berperawakan keras. Matanya berkaca-kaca.
"Nanti bisa saya tebus balik kan pak?"
"Saya tidak bisa memastikan hal itu bu."
"Bisa bapak simpan dulu, sampai saya tebus balik?"
"Ibu mau jual atau gadaikan kalung ini?"
"Itu kalung pemberian almarhum Ibu saya pak."
"Kenapa Ibu jual?"
"Saya butuh uang pak."
"Saya juga butuh uang bu."
"Saya mohon pak..... bulan depan saya akan tebus balik. Bisa kan pak?"
"Harganya sudah berbeda lho bu kalau bulan depan."
"Yang penting saya bisa tebus balik kalung itu pak."
Bapak berperawakan keras tidak menaggapinya. Diberikannyaa sejumlah uang ke Ibu. Kemudian, bapak itu sibuk membungkus kalung, memberi tulisan pada plastik pembungkus dan menyimpannya dalam brankas.
Ibu menerima uang tersebut, tetapi hatinya masih tertinggal di kalung yang telah terbungkus plastik. Kakinya menjadi sulit beranjak.
"Bu, uangnya sudah kan?"
Ibu tersentak dari lamunannya. Dan perlahan meninggalkan kalung pemberian Ibu dan hatinya bersama bapak berperawakan keras.
* * *
Seorang pemuda sibuk menata baju dalam tas. Sesekali dia melirik jam yang diletakkan di atas meja belajarnya. Baju-baju yang semula tersusun rapi di almari, sekejap sudah berpindah di dalam tas. Meski tas itu nampak kecil, tetapi bisa menampung hampir semua baju di dalam almari.
“Dik, sudah siap berangkat?” Tanya Ibu sembari mengetuk pintu dengan perlahan
“Iya bu, sudah siap berangkat. Tinggal nunggu Ibu aja.”
“Ini, untuk bayar daftar ulang, ongkos dan makan Andik beberapa hari,” Ibu itu mengulurkan amplop yang tertutup rapi.
“Terima kasih Ibu. Semoga ini benar-benar bermanfaat buat Andik, agar bisa segera membantu Ibu,” segera Andik memeluk Ibunya.
“Maafkan Andik bu, kalau masih menjadi beban Ibu,” air mata Andik menetes di pundak Ibu.
“Tidak usah bilang seperti itu Dik. Sudah menjadi tanggung jawab Ibu.”
“Terima kasih Ibu…”
“Jaga diri baik-baik disana ya, Dik…”
~yudie~
Batam, 2 Januari 2010
"Satu setengah saja, pak," jawab seorang ibu paruh baya dengan nada berat dan lirih.
"Mana bisa? Ibu minta satu saja saya masih mikir-mikir bu."
"Masa satu tidak bisa juga pak?"
"Delapan ratus. Kalau ibu tak mau, ambil lagi kalungnya."
Ibu terdiam sejenak. Dipandanginya kalung dalam genggaman bapak berperawakan keras. Matanya berkaca-kaca.
"Nanti bisa saya tebus balik kan pak?"

"Saya tidak bisa memastikan hal itu bu."
"Bisa bapak simpan dulu, sampai saya tebus balik?"
"Ibu mau jual atau gadaikan kalung ini?"
"Itu kalung pemberian almarhum Ibu saya pak."
"Kenapa Ibu jual?"
"Saya butuh uang pak."
"Saya juga butuh uang bu."
"Saya mohon pak..... bulan depan saya akan tebus balik. Bisa kan pak?"
"Harganya sudah berbeda lho bu kalau bulan depan."
"Yang penting saya bisa tebus balik kalung itu pak."
Bapak berperawakan keras tidak menaggapinya. Diberikannyaa sejumlah uang ke Ibu. Kemudian, bapak itu sibuk membungkus kalung, memberi tulisan pada plastik pembungkus dan menyimpannya dalam brankas.
Ibu menerima uang tersebut, tetapi hatinya masih tertinggal di kalung yang telah terbungkus plastik. Kakinya menjadi sulit beranjak.
"Bu, uangnya sudah kan?"
Ibu tersentak dari lamunannya. Dan perlahan meninggalkan kalung pemberian Ibu dan hatinya bersama bapak berperawakan keras.
* * *
Seorang pemuda sibuk menata baju dalam tas. Sesekali dia melirik jam yang diletakkan di atas meja belajarnya. Baju-baju yang semula tersusun rapi di almari, sekejap sudah berpindah di dalam tas. Meski tas itu nampak kecil, tetapi bisa menampung hampir semua baju di dalam almari.
“Dik, sudah siap berangkat?” Tanya Ibu sembari mengetuk pintu dengan perlahan
“Iya bu, sudah siap berangkat. Tinggal nunggu Ibu aja.”
“Ini, untuk bayar daftar ulang, ongkos dan makan Andik beberapa hari,” Ibu itu mengulurkan amplop yang tertutup rapi.
“Terima kasih Ibu. Semoga ini benar-benar bermanfaat buat Andik, agar bisa segera membantu Ibu,” segera Andik memeluk Ibunya.
“Maafkan Andik bu, kalau masih menjadi beban Ibu,” air mata Andik menetes di pundak Ibu.
“Tidak usah bilang seperti itu Dik. Sudah menjadi tanggung jawab Ibu.”
“Terima kasih Ibu…”
“Jaga diri baik-baik disana ya, Dik…”
~yudie~
Batam, 2 Januari 2010
Senandung Manusia
Seandainya aku adalah bunga terindahTentu aku mempesona tiap mata yang menatap
Senantiasa menarik perhatian dengan aromaku
Dan selalu mendapat segala puji yang ada
Seandainya aku adalah burung terindah
Kan ku hiasi alam dengan dendang merduku
Ku manja mata yang memandang dengan kelentikan bulu indahku
Serta kupersembahkan tarian yang akan mempesonamu
Seandainya aku adalah tempat terindahTiada akan ada ujung bagimu
Semua adalah indah
Kenyamanan dan ketentraman senantiasa terasa
Tiada gelap, tiada malam
Yang ada hanyalah bahagia
Seandainya aku bukan manusia
Dan berhenti menghitung kekuranganku
Tak lagi berharap lebih dari siapa dan apapun
Tiada lagi atasan-bawahan
Bukan lagi aku-kamu
Sehingga antara kita hanyalah satu
Yang senantiasa haus akan bahagia bersama
Dan ternyata aku hanyalah manusia
Yang lebih sempurna daripada apapun terindah di dunia
Dan masih selalu merasa kurang dengan semua
Dan jauh dari bahagia
Seharusnya aku pahami semua
Meski bunga terindah
Tiada bisa dia berpindah, merasakan tempat terindah
Dan melihat, juga mendengar nyanyian burung terindah
Meski aku tempat terindah
Hanya bisa merasa satu area
Tiada berpindah
Meski aku menjadi burung terindahYang bisa merasa bunga dan tempat terindah
Tetapi tidak bisa dibanding dengan manusia
Yang mempunyai jari, kaki, hati dan indahnya pikiran
Jika memang semua punya kekurangan
Mengapa aku gemar sekali menghitungnya?
Apakah aku manusia biasa?
Apakah kebiasaan manusia seperti itu?

Kumencari jawab dalam tanya
Berharap ujung yang indah kan kuterima
Berangan bahagia kan kudapat
Dan tanyaku berujung pada pasrah
Kepasrahan kepadaNya
Hanya Dia yang memahami keindahan dalam arti yang sejati
Dan hanya Dia yang mampu menempatkan segalanya
Dalam kapasitas keindahan dan kebahagiaan sesungguhnya
Sekarang..............
Apakah kau masih meragukanNya?
Batam, 23 Agustus 2010
~yudie~
09 August 2010
Doaku

Dalam keheningan, aku menyapaMu. Meskipun ku tahu, diriku tidaklah pantas menyebut namaMu. Namun aku juga tahu, kelapangan pintu maafMu sangatlah besar, jauh diluar jangkauanku sebagai ciptaanMu.
Dalam kesunyian aku menyadari kekuranganku. Yang senantiasa menuntutMu, tanpa memberikan yang terbaik untukMu. Dan senantiasa mengeluh, selalu merasa kurang. Padahal Engkau menyiapkan yang terbaik untukku.
Dalam kehampaan aku tersadar. Aku bukanlah yang terbaik diantara yang terburuk. Pun bukanlah yang terjelek diantara yang paling baik. Sampai akhirnya aku sadari: Aku tiada punya arti, tanpa kasihMu. Aku tiada bermakna, tanpa berkahMu. Dan tiada terarah, tanpa petunjukMu.
Ya Allah…… perkenankan hambaMu ini mempersembahkan sujud keihklasan untuk setiap rahmat yang tercurah. Perkenankan hambaMu ini menyampaikan doa-doa dalam setiap nafas untuk setiap ampunan yang Kau beri. Dan perkenankan hambaMu ini memuji namaMu yang kutitipkan dalam tiap aliran darahku. Sehingga aku bisa menjadi makhlukMu yang senantiasa bersyukur. Menjadi hambaMu yang senantiasa merinduMu. Menjadi ciptaanMU yang senantiasa memuji kebesaranMU.
Amin….
~yudie matta~
Rindu Ramadhan
Batam, August 9th 2010
06 August 2010
Kebahagiaan dalam Antrian
Matahari tengah beranjak naik. Teriknya bukan kepalang. Meski waktu masih menunjukkan pukul Sembilan pagi, tapi rasa panas matahari mampu menembus jaket. Untuk mengenyahkan rasa panas dan gerah, Sardi sedapat mungkin menggerakkan badannya, mengelap keringatnya dan berlindung pada bayangan orang yang berdiri di depannya.
Nampak antrian masih panjang. Sardi menghitung masih ada tiga puluh orang yang harus dilaluinya untuk sampai pada posisi paling depan.
Di posisi terdepan, seorang Bapak tua berkaca mata. Hampir seluruh rambutnya adalah uban. Beberapa kali dia melepas kaca matanya dan mengelapnya dengan baju lusuhnya. Baju bercorak kotak-kotak, pastinya semula berwarna hitam. Kini sudah berubah menjadi abu-abu. Di bagian leher dan tangan, warna abu-abu itu semakin mendekat ke putih.
Meski warna baju pudar, tersirat rona bahagia di wajah Bapak itu. Matanya berbinar sejak dia masih di posisi ketiga dari yang terdepan. Sesekali senyum ditebar ke orang-orang di sekitarnya, meski tak ada satu pun yang dikenal. Inilah pencapaian tertinggi di hari ini, berada di posisi terdepan antrian.
Sardi memperhatikan benar Bapak itu. Kebahagiaannya bisa dirasakan Sardi, meski harus melewati tiga puluh tubuh. Kebahagiaan yang diawali dengan degupan jantung semakin kencang. Terangkatnya ujung-ujung bibir menjadi sebuah senyuman. Dada yang terlapangkan oleh keikhlasan, dan melihat orang-orang sekitar adalah saudara yang berarti dalam hidup.
Sardi terdiam. Mencoba meresapi rasa itu. Mencermati setiap gerak Bapak itu.
“Ini rasa yang belum pernah aku rasakan,” gumamnya.
“Haruskah aku menunggu melewati ketiga puluh orang ini dahulu untuk merasakannya?”
Sardi mulai bertanya-tanya.
……………………………Sardi terdiam………………………………
Pikirannya melayang mencari jawab. Dan matanya berkelana menjawab keresahan.
………………………tubuhnya mematung…………………………
Hingga ia dikejutkan dengan kedatangan seorang ibu dengan rambut acak-acakan. Wajahnya ramah menyapa Sardi. Kemudian membenarkan daster yang dipakainya. Kembali tersenyum ramah pada Sardi. Menata kunciran rambutnya. Dan masih memasang senyum ramah pada Sardi.
Sardi senantiasa membalas keramahan ibu itu dengan senyuman. Tiba-tiba, tanya akan perasaan pada Bapak di barisan depan mulai tergantikan dengan senyum ramah Ibu yang baru datang. Ia suka suasana hatinya. Dadanya terlapangkan dengan keikhlasan, yang membuatnya selalu membalas keramahan senyum Ibu dengan keikhlasan senyum. Ujung-ujung bibir yang mengembang menjadi sebuah senyuman indah. Dan degupan jantung yang berirama menyanyikan kebahagiaan dan ketenangan.
Sama seperti yang dirasa ketika memperhatikan Bapak di barisan paling depan.
…………………………………hening…………………………………
Sardi tersadar, perasaan terindah bukanlah dengan berada di barisan paling depan antrian. Bukan pula mendapat jatah sembako, meski berhari-hari dia tidak makan layak. Kebahagiaan itu sudah ada dalam dirinya. Ia berdiam disana untuk disapa, dan dibukakan jalannya. Mengapa selalu menunggu alasan untuk berbahagia?
Sardi pun mengembangkan senyuman pada pikirannya sendiri.
At my desk,
office – Batam
August 6th 2010
04 July 2010
Bangku Taman
Suasana pagi begitu hangat dan bersahabat. Matahari menyapa bumi dengan sinar yang membuai menghangatkan dan udara yang sepoi menyejukkan. Adalah taman sejoli yang baru selesai dibangun pemerintah kota dua bulan yang lalu. Letaknya tidak jauh dari pusat kota. Rumputnya hijau segar hampir menutup seluruh tanah. Pohon-pohon rindang ada di sepanjang jalan setapak. Bangku taman ditempatkan begitu apik pada sudut-sudut taman. Di sekeliling bangku taman, ditanam bunga-bunga yang mulai bersemi. Tempat yang sempurna untuk memadu kasih.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Merenungi nasib. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya menerawang. Pikirannya entah kemana. Hatinya gelisah. Kakinya bergerak tanpa irama.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Merenungi kisah cintanya yang tragis. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya menerawang. Pikirannya entah kemana. Hatinya gelisah. Kakinya bergerak tanpa irama.
Namanya andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Masih tidak percaya kekasih memutuskannya. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya menerawang. Pikirannya entah kemana. Hatinya gelisah. Kakinya digerakkan tanpa irama.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Mencoba menerima keputusan kekasihnya. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya menerawang. Pikirannya mulai ditenangkan. Hatinya masih gelisah. Kakinya digerakkan tanpa irama.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Mulai tenang meski putus cinta. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya melihat sekeliling taman. Pikirannya mulai tenang. Hatinya masih gelisah. Kakinya masih digerakkan tanpa irama.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Berharap mendapatkan pengganti kekasihnya. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya melirik gadis yang hendak duduk di sebelahnya. Pikirannya tenang. Hatinya tidak gelisah. Kakinya digerakkan perlahan.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Berharap mendapatkan pengganti kekasihnya. Membawa makanan kecil. Lama tidak dimakannya. Matanya menatap gadis yang duduk disebelahnya. Pikirannya tenang. Hatinya tidak gelisah. Kakinya digerakkan perlahan.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk mendekati gadis. Yakin mendapatkan pengganti kekasihnya. Membawa makanan kecil. Menawarkannya ke gadis. Matanya menatap gadis. Pikirannya tenang. Hatinya tenteram. Kakinya tidak digerakkan.
Namanya Andi. Sepuluh menit yang lalu sudah melupakan putus cintanya. Duduk di dekat gadis. Berbincang dengannya. Membawa makanan kecil. Lupa tidak memakannya. Matanya berbinar. Pikirannya tenang. Hatinya tenteram. Kakinya tidak digerakkan.
Namanya Shinta. Sudah setahun tidak memadu kasih. Duduk disamping Andi. Berbincang dengannya. Memegang tas. Sesekali memakan makanan kecil Andi. Matanya berbinar. Pikirannya tenang. Hatinya tenteram. Kakinya bergantung anggun.
~yudie matta~
040710
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Merenungi nasib. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya menerawang. Pikirannya entah kemana. Hatinya gelisah. Kakinya bergerak tanpa irama.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Merenungi kisah cintanya yang tragis. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya menerawang. Pikirannya entah kemana. Hatinya gelisah. Kakinya bergerak tanpa irama.
Namanya andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Masih tidak percaya kekasih memutuskannya. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya menerawang. Pikirannya entah kemana. Hatinya gelisah. Kakinya digerakkan tanpa irama.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Mencoba menerima keputusan kekasihnya. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya menerawang. Pikirannya mulai ditenangkan. Hatinya masih gelisah. Kakinya digerakkan tanpa irama.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Mulai tenang meski putus cinta. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya melihat sekeliling taman. Pikirannya mulai tenang. Hatinya masih gelisah. Kakinya masih digerakkan tanpa irama.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Berharap mendapatkan pengganti kekasihnya. Membawa makanan kecil. Sesekali dimakannya. Matanya melirik gadis yang hendak duduk di sebelahnya. Pikirannya tenang. Hatinya tidak gelisah. Kakinya digerakkan perlahan.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk di sudut bangku. Berharap mendapatkan pengganti kekasihnya. Membawa makanan kecil. Lama tidak dimakannya. Matanya menatap gadis yang duduk disebelahnya. Pikirannya tenang. Hatinya tidak gelisah. Kakinya digerakkan perlahan.
Namanya Andi. Baru satu bulan putus cinta. Duduk mendekati gadis. Yakin mendapatkan pengganti kekasihnya. Membawa makanan kecil. Menawarkannya ke gadis. Matanya menatap gadis. Pikirannya tenang. Hatinya tenteram. Kakinya tidak digerakkan.
Namanya Andi. Sepuluh menit yang lalu sudah melupakan putus cintanya. Duduk di dekat gadis. Berbincang dengannya. Membawa makanan kecil. Lupa tidak memakannya. Matanya berbinar. Pikirannya tenang. Hatinya tenteram. Kakinya tidak digerakkan.
Namanya Shinta. Sudah setahun tidak memadu kasih. Duduk disamping Andi. Berbincang dengannya. Memegang tas. Sesekali memakan makanan kecil Andi. Matanya berbinar. Pikirannya tenang. Hatinya tenteram. Kakinya bergantung anggun.
~yudie matta~
040710
Subscribe to:
Posts (Atom)