Bapak..............
Saya adalah anak dari Ibu
Dan Bapak adalah suami baru dari Ibu saya, Pertiwi
Memang, bapak bukan yang pertama
Namun, apakah Ibu menghendaki demikian?
Pernah dulu ada yang mengisi hidup Ibu
Awalnya Ibu dan Bapak bahagia
Akan tetapi semakin lama Bapak semakin tidak memperdulikan Ibu
Bapak hanya memperhatikan keluarganya saja
Itulah yang membuat Bapak diganti dengan Bapak baru
Harapan Ibu bahagia tentu beralih pada Bapak baru
Berpuluh-puluh tahun Bapak baru mendampingi Ibu
Ibu memang bahagia, tapi tidak sepenuhnya
Hingga kemudian masalah serupa terjadi kembali
Digantilah dengan Bapak baru lagi
Dan tidak lama kemudian diganti dengan Bapak baru lagi
Diganti lagi dengan Bapak baru
Diganti dengan Bapak baru lagi
Apakah Ibu menghendaki demikian?
Bapak....................
Memang Ibu cantik dari penjuru mana pun
Ibu juga indah dari sudut mana pun
Tapi, apakah kecantikan Ibu hanya untuk disakiti?
Apakah keindahan Ibu untuk dinodai?
Maukah Bapak menjaga Ibu untuk saya?
Untuk Ibu Pertiwi
Surabaya, 21 Februari 2002
Yudie Matta
....connected through writing...
Me, I have my ownlife, and you have yours. But, we could be connected through writing. Isn't that great?
15 January 2012
07 December 2011
Ba(ha)sa Basi!
Mentari mulai merangkak naik. Cahaya kuningnya menyelinap di sela-sela rimbun dedaunan. Hangat sinarnya menyapa kulit-kulit yang riuh dalam aktifitas. Ini pagi yang cerah. Pagi yang membangkitkan selera untuk beraktifitas apa saja. Pagi yang selalu memberi hangat. Selalu memberi terang sinar yang nyaman. Selalu konsisten, tanpa diminta dan diperintah.
Nampak di sebuah halte bis, seorang wanita muda duduk tenang. Penampilannya sederhana, enak dipandang mata. Paduan kaos ketat warna putih dibalut kalung mutiara hitam bertumpuk dan jas hitam, dipadankan dengan rok hitam selutut. Make up nya tidak berlebihan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menawan.
Ia sibuk membalas pesan BBM (BlackBerry Message). Matanya senantiasa tertuju pada layar Blackberry. Sesekali tangan kanannya menyentuh tas Chanel hitam di sampingnya. Hanya untuk memastikan bahwa tas itu masih di tempat yang sama.
“Permisi mbak.” Seorang pria muda berpakaian rapi mengganggu konsentrasinya. Ia tidak menjawab pertanyaan pria itu. Hanya mengernyitkan dahi, seolah menunggu kata-kata berikutnya keluar dari mulut pria itu.
“Boleh saya duduk di sebelah mbak?”
Ia segera menoleh ke tempat kosong di sampingnya.
Sang pria senyum, matanya dialihkan ke tas Chanel hitam, dan tersenyum lagi.
Ia menyadari senyuman pria itu. Dipindahkannya tas Chanel hitam di pangkuannya.
“Terima kasih,” sang pria tersenyum dan menoleh ke wajahnya.
“Sendirian aja, mbak?”
Ia tersentak dengan pertanyaan sang pria. Segera ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke pria. Ia mengangguk, kemudian memasang ekspresi yang seakan menunggu serangkaian pertanyaan selanjutnya.
“Emang mau kemana, kerja ya?”
Ia sedikit mengangguk, dengan ekspresi yang sama: menunggu pertanyaan berikutnya.
“Daritadi gak ada suaranya, hanya mengangguk-angguk saja.”
Ia kaget dengan pertanyaan ini. Dipasangnya senyum ramah, “Itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu kan?”
“Iya sih. Mmm…. Maaf ya mbak kalo ganggu.”
Ia memaksa senyum ramah ke arah pria. Kemudian kembali sibuk dengan Blackberry-nya.
“Tempat kerjanya dimana, mbak?”
Tanpa menoleh, ia menjawab, “Kuningan.”
“Lumayan juga ya kalau dari sini.”
Ia melebarkan mulutnya, seolah memberi tanda ‘iya, kira-kira begitulah’.
“Mbak disini nunggu bis, taxi atau jemputan?”
Pertanyaan ini mengganggunya. Ia merasa pria di sampingnya akan terus mengajukan pertanyaan, maka dimasukkannya Blackberry ke dalam tas Chanel hitam.
“Gue hanya menikmati pagi di sini.”
“Enggak kerja, mbak?”
“Kerja.”
“Trus gak berangkat kerja?”
“Berangkat kemana?”
“Tadi katanya kantornya di Kuningan.”
“Ohh….gue tidak bekerja seperti di kantoran. Hanya ke kantor setelah semua pekerjaan siap saja.”
“Bidang apa sih, mbak?”
“Is it important to you?”
“Ya…sepertinya pekerjaan mbak menarik.”
Sejenak ia mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.
“Kalau tidak keberatan sih mbak.”
Pertanyaan ini hanya dijawab dengan senyum datar.
“Maaf ya mbak kalau tidak berkenan. Aku cuma pengen ngajak ngobrol mbak nya saja. Maklum mbak, aku ada dua interview dalam satu hari ini. Agak grogi dan bingung harus jawab apa ntar.”
Ia tersenyum, mencoba memahami keadaan pria di sampingnya. Tangannya mulai merogoh tas Chanel hitam, mencari Blackberry.
“Ngomong-ngomong, namaku Joni. Mbaknya siapa namanya?”
Ia tersentak dengan pertanyaan ini. Ia berhenti sejenak, dan menarik nafas.
“Gue Shanty.”
“Salam kenal ya mbak Santi,” pria itu menawarkan jabat tangan.
“Shanty, not Santi. S-H-A-N-T-Y, Shanty. You should say ‘SH’, not just ‘S’.”
“SHANTY? Bener begitu, mbak?”
Shanty tersenyum dan membalas tawaran jabat tangan Joni.
“Thanks Jhonny. Also with ‘H’? JHONNY or just JONI?”
“Joni mbak, gak pake ‘H’.”
“Ow, oke: Joni, nice to meet you, anyway.”
“Sama-sama mbak. Bahasa Inggris mbak bagus banget ya.”
“It’s just a common conversation, right?”
Joni mengangguk dengan semangat.
“Mbak Shanty emangnya kerja bidang apa sih, kok bahasa Inggrisnya lancer banget gitu.”
“Just called me Shanty.”
“Gak enak lha mbak.”
“Shanty aja cukup.”
“Dikiranya ntar aku gak sopan. Mbak Shanty umur berapa coba?”
Raut Shanty mendadak berubah. Nafasnya terhenti di tengah tenggorokan.
“Kalo aku 21 tahun, mbak.”
Shanty sudah kehilangan selera meneruskan perbincangan ini.
“Ok, I’ve got to go. Thanks Joni.”
Shanty segera menghentikan taxi, dan menghilang begitu saja bersama taxi.
*****
“Ibu Sonia?”
“Iya.”
“Silahkan, bu.”
Sonia mengikuti gadis berperawakan kecil dengan blazer serba ungu.
“Bu Sonia tunggu disini sebentar ya, saya akan informasikan bahwa ibu sudah disini.”
“Oke, terima kasih banyak.”
Sonia melihat sekeliling. Sebuah meja besar dikelilingi banyak kursi. Ia duduk di salah satu ujungnya. Dinding ruangan dicat putih bersih. Tidak banyak hiasan dinding yang dipasang. Setelah diamati, hanya ada kebijakan mutu perusahaan yang dibingkai bersandingan dengan bingkai visi dan misi perusahaan. Jam dinding menghias di sisi tembok tak berjendela. Dipandanginya jam dinding itu. Semakin lama, Sonia semakin jelas mendengar laju jarum detik yang menapak.
“Terima kasih sudah menunggu.”
Sonia tersentak. Dilihatnya ada 3 orang memasuki ruangan dan duduk di seberangnya.
“Baiklah, langsung saja kita mulai ya.”
“Iya, pak.” Sonia mengumpulkan kembali kesadarannya.
“Sebelumnya, perkenalkan nama saja Joko Heriyanto – Manager Media Communication. Di sebelah kiri saya, ada bapak Ardianto – Manager HRD, dan di sebelahnya, bapak Kurniawan Agung Yulianto – Manager Corporate Affairs.”
“Terima kasih, pak. Senang bertemu dengan Bapak-bapak sekalian.”
“Sekarang ceritakan tentang dirimu.”
“Baik, terima kasih banyak Bapak-bapak sekalian atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Nama saya Sonia Hutami, 37 tahun, anak ketiga dari keluarga 4 bersaudara di daerah Yogyakarta, dan saya single. Latar belakang pendidikan saya adalah Design Product Industry di ITS Surabaya dengan IPK 3.32 dari skala 4, namun saya berkesempatan untuk mengembangkan diri dan pengetahuan di beberapa bidang, seperti: marketing, graphic design, consultant, dan advertising pada 2 tahun terakhir. Saya suka membaca dan nonton film. Bagi saya, buku dan film adalah sumber inspirasi yang sangat dalam dan luas. Sementara itu dulu perkenalan dari saya, silahkan jika Bapak-bapak ada pertanyaan.”
“Terima kasih banyak Sonia. Menarik sekali perkenalannya.”
“Terima kasih, pak.”
“4 bersaudara ya? Dimana saudaramu?”
“Yang pertama di Jakarta, kedua di Singapore dan adik saya di Dubai.”
“Sudah menikah semuanya?”
“Iya.”
"Bagaimana dengan Sonia sendiri?"
"Maaf, maksud Bapak?"
“Apakah kamu ada rencana menikah.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Alasan pribadi yang tidak saya kehendaki jelaskan disini.”
“Kenapa?”
“Maaf pak, alasan pribadi.”
Kemudian ketiga orang itu berbisik satu sama lain. Menghentikan pertanyaan ke Sonia.
Sonia merasa gelisah dan sudah tidak nyaman berada di ruangan.
“Apakah Sonia tahu posisi apa yang lamar disini?”
“Iya. Advertising Manager.”
“Apakah Sonia juga membaca requirements yang kita minta?”
“Iya. Saya rasa bisa memenuhinya. Bapak-bapak bisa membaca resume saya untuk lebih detail pengalaman dan project yang pernah saya kerjakan.”
“Kita juga mensyaratkan wanita yang sudah atau pernah menikah.”
“Apakah syarat itu adalah keharusan.”
“Iya bagi kami. Karena kami pernah punya pengalaman buruk tentang hal itu.”
“Apakah pengalaman dan kualitas lain tidak dianggap, ketika masih single?”
“Maaf sekali, Sonia.”
“Baiklah, terima kasih Bapak-bapak atas waktu dan kesempatan interview yang diberikan.”
****
Suasana mall tidak begitu ramai. Mungkin jika di hari dan waktu kerja seperti ini, hanya orang yang benar-benar punya tujuan akan pergi ke mall, bukan sekedar windows shopping.
Nampak seorang ibu muda menenteng tas branded tengah mengamati seorang wanita yang sibuk dengan ipad nya sambil berjalan cepat. Dari jauh wanita sibuk itu sudah mencuri pandangannya, dan sekarang berjalan mengarah kepadanya.
"Hilda?"
"Maaf, dengan siapa ya?"
"Gue... Henny."
"Henny?"
"Iye. Elu Hilda Sukmawati kan?"
"Iya, benar. Kamu Henny siapa?"
"Gue Henny temen sekolah elu dulu."
"Henny, temen sekolah?"
"Iye, elu dulu SMA 45 kan? Goue dulu duduk di belakang elu waktu kelas dua."
"Oke... Henny, kamu benar-benar membuatku penasaran."
"Gue inget banget, dulu elu pendiam dan paling suka pergi ke sekolah dengan rambut dikuncir atau kepang dua."
"Henny... oiya.... Henny rambut pendek... Aku ingat sekarang."
"Itu dulu model Demi Moore yang lagi happening say."
"Iya, tau kok. Gimana kabarmu sekarang?"
"Gue baik. Seperti yang elu lihat sekarang, makin sehat. Kalo elu gimana, say? Udah nikah?"
"Aku baik dan sudah menikah."
"Sendirian aja kesini, mana suami elu?"
"Suami ada kerjaan sendiri. Aku kesini juga urusan kerjaan kok."
"Trus anak elu sama pembantu?"
"Kita belum punya anak, Hen. Anakmu sudah berapa?"
"Gue ada dua. Tuh mereka lagi milih sepatu sama mbak nya. Emang udah berapa lama menikah, say?"
"Sudah hampir sepuluh tahun."
"Apa kagak pengen punya anak?"
"Keluarga mana sih yang gak pengen punya anak, Hen?"
"Elu sudah periksa ke dokter kandungan?"
"Sudah sejak lima tahun yang lalu."
"Terus hasilnya gimana?"
"Kok jadinya investigasi gini sih?"
"Ya kan gue temen elu, siapa tau bisa membantu."
"Makasih Hen. Kita sudah mulai bisa menerima semua dan fokus pada kebahagiaan keluarga kita."
"Apa keluarga elu bisa bahagia tanpa anak? Ntar suami elu nyari lagi lho."
"Maaf Hen, lebih baik jangan omongin hal itu."
"Gue ada alternatif yg bagus, siapa tahu cocok buat elu."
"Makasih aja deh Hen."
"Gue beneran say...bentar, sepertinya gue simpen kartu namanya."
"Makasih Hen. Simpen aja kartu namanya. Aku harus buru-buru sudah ditunggu klien. Maaf ya."
***
Suasana mulai riuh. Ada sepuluh ibu yang sedang berkumpul. Sepertinya mereka berbincang, tetapi masing-masing seakan berbicara pada saat yang bersamaan. Entah, jika tidak ada yang menjadi pendengar apakah masih termasuk dalam perbincangan.
"Kemarin saya ketemu anak bu Dhani di mall bersama bapak-bapak."
"Sudah basi bu Ratna. Tiap malam minggu saya lihat Loni jalan dengan bapak-bapak."
"Oooo....namanya Loni. Ya maklum bu, saya tidak pernah ngobrol sama dia. Jangankan ngobrol, melihatnya duduk di teras saja gak pernah."
"Mungkin bukan level nya kali bu bergaul di lingkungan kita."
"Justru lingkungan kita yang tidak mau disamakan dengan dia, bu."
"Ibu pernah perhatikan penampilannya? Sepertinya kayak pajangan toko berjalan."
"Ah, bu Gina bisa aja."
"Benar bu. Saya pernah lihat dia pake gelang berderet, kalung dan anting. Semuanya warna pink, termasuk bajunya."
"Mungkin bu Gina aja yg pengen seperti Loni."
"Ih amit-amit, jangan sampai saya dan keturunan saya seperti dia."
"Saya heran, apa bu Dhani gak tahu kelakuan anaknya ya?"
"Mungkin aja tahu bu, tapi dibiarkan saja."
"Iya bener bu, lha wong suaminya sering pulang malam gak jelas aja, bu Dhani juga baik-baik saja."
"Apa bu Dhani gak pernah mikir atau curiga ya?"
"Emang pak Dhani kerja apa, bu Endang?"
"Saya juga kurang tahu bu. Yang pasti berangkat pagi dengan pakaian rapi dan pulangnya malam."
"Bu Dhani sekarang juga nampak kurusan ya."
"Kebanyakan pikiran bu."
"Kalau saya jadi bu Dhani, lebih baik cerai saja bu."
"Sssttttt.... bu Dhani datang."
"Maaf ibu-ibu saya datang terlambat, apakah arisannya sudah dikocok?"
"Belum. Kita juga baru ngumpul kok."
"Ah bu Dhani masa' masih nungguin uang kecil dari arisan sih."
"Eh bu Dhani, Loni sekarang sudah besar ya?"
"Umur berapa dia bu?"
"Kemarin baru lulus sekolah kan?"
"Kok gak dikuliahin aja sih bu?"
"Atau ikut ayahnya kerja aja."
"Iya, biasanya kalau bawaan dari orang dalam, prosesnya lebih cepat."
"Emang pak Dhani kerja bidang apa sih, bu?"
"Kantornya dimana bu?"
Bu Dhani menanggapi sejumlah pertanyaan tersebut dengan diam dan wajah datar.
"Maaf ibu-ibu, saya kesini untuk arisan. Bu Dahlia, silahkan mulai dikocok arisannya."
"Ah, bu Dhani kita kan bertetangga, jadi wajar kalo tanya masalah keluarga."
"Terima kasih bu atas perhatiannya. Tapi pertanyaannya semua dari sudut pandang yang berbeda, makanya saya tidak bisa jawab pertanyaannya."
"Tinggal dijawab, apa susahnya bu?"
"Maaf bu, saya tidak bisa menjawabnya. Lebih baik membenarkan sudut pandangnya dulu."
"Maksud ibu, kita tidak memahami permasalahan?"
"Maaf ibu-ibu kok jadi membicarakan saya?"
"Baiklah, kita mulai saja arisannya."
Ibu-ibu lantas sibuk dengan kocokan arisan. Riuh lagi, tanpa melirik ke arah bu Dhani. Seakan bu Dhani hadir dalam arisan, tapi tidak berada di tengah-tengah riuh ibu-ibu.
Jakarta, 7 December 2011
wrote with my tablet
yudie matta
note: tulisan ini terinspirasi dari komentar temen2 yg sering mendapatkan pertanyaan2 yg menurut org lain adalah bagian dari kesempurnaan. Sementara bagi yg ditanya, pertanyaan itu seakan pisau yang siap menancap di tubuh. To all, please do respect others in their own perfection.
Nampak di sebuah halte bis, seorang wanita muda duduk tenang. Penampilannya sederhana, enak dipandang mata. Paduan kaos ketat warna putih dibalut kalung mutiara hitam bertumpuk dan jas hitam, dipadankan dengan rok hitam selutut. Make up nya tidak berlebihan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menawan.
Ia sibuk membalas pesan BBM (BlackBerry Message). Matanya senantiasa tertuju pada layar Blackberry. Sesekali tangan kanannya menyentuh tas Chanel hitam di sampingnya. Hanya untuk memastikan bahwa tas itu masih di tempat yang sama.
“Permisi mbak.” Seorang pria muda berpakaian rapi mengganggu konsentrasinya. Ia tidak menjawab pertanyaan pria itu. Hanya mengernyitkan dahi, seolah menunggu kata-kata berikutnya keluar dari mulut pria itu.
“Boleh saya duduk di sebelah mbak?”
Ia segera menoleh ke tempat kosong di sampingnya.
Sang pria senyum, matanya dialihkan ke tas Chanel hitam, dan tersenyum lagi.
Ia menyadari senyuman pria itu. Dipindahkannya tas Chanel hitam di pangkuannya.
“Terima kasih,” sang pria tersenyum dan menoleh ke wajahnya.
“Sendirian aja, mbak?”
Ia tersentak dengan pertanyaan sang pria. Segera ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke pria. Ia mengangguk, kemudian memasang ekspresi yang seakan menunggu serangkaian pertanyaan selanjutnya.
“Emang mau kemana, kerja ya?”
Ia sedikit mengangguk, dengan ekspresi yang sama: menunggu pertanyaan berikutnya.
“Daritadi gak ada suaranya, hanya mengangguk-angguk saja.”
Ia kaget dengan pertanyaan ini. Dipasangnya senyum ramah, “Itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu kan?”
“Iya sih. Mmm…. Maaf ya mbak kalo ganggu.”
Ia memaksa senyum ramah ke arah pria. Kemudian kembali sibuk dengan Blackberry-nya.
“Tempat kerjanya dimana, mbak?”
Tanpa menoleh, ia menjawab, “Kuningan.”
“Lumayan juga ya kalau dari sini.”
Ia melebarkan mulutnya, seolah memberi tanda ‘iya, kira-kira begitulah’.
“Mbak disini nunggu bis, taxi atau jemputan?”
Pertanyaan ini mengganggunya. Ia merasa pria di sampingnya akan terus mengajukan pertanyaan, maka dimasukkannya Blackberry ke dalam tas Chanel hitam.
“Gue hanya menikmati pagi di sini.”
“Enggak kerja, mbak?”
“Kerja.”
“Trus gak berangkat kerja?”
“Berangkat kemana?”
“Tadi katanya kantornya di Kuningan.”
“Ohh….gue tidak bekerja seperti di kantoran. Hanya ke kantor setelah semua pekerjaan siap saja.”
“Bidang apa sih, mbak?”
“Is it important to you?”
“Ya…sepertinya pekerjaan mbak menarik.”
Sejenak ia mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.
“Kalau tidak keberatan sih mbak.”
Pertanyaan ini hanya dijawab dengan senyum datar.
“Maaf ya mbak kalau tidak berkenan. Aku cuma pengen ngajak ngobrol mbak nya saja. Maklum mbak, aku ada dua interview dalam satu hari ini. Agak grogi dan bingung harus jawab apa ntar.”
Ia tersenyum, mencoba memahami keadaan pria di sampingnya. Tangannya mulai merogoh tas Chanel hitam, mencari Blackberry.
“Ngomong-ngomong, namaku Joni. Mbaknya siapa namanya?”
Ia tersentak dengan pertanyaan ini. Ia berhenti sejenak, dan menarik nafas.
“Gue Shanty.”
“Salam kenal ya mbak Santi,” pria itu menawarkan jabat tangan.
“Shanty, not Santi. S-H-A-N-T-Y, Shanty. You should say ‘SH’, not just ‘S’.”
“SHANTY? Bener begitu, mbak?”
Shanty tersenyum dan membalas tawaran jabat tangan Joni.
“Thanks Jhonny. Also with ‘H’? JHONNY or just JONI?”
“Joni mbak, gak pake ‘H’.”
“Ow, oke: Joni, nice to meet you, anyway.”
“Sama-sama mbak. Bahasa Inggris mbak bagus banget ya.”
“It’s just a common conversation, right?”
Joni mengangguk dengan semangat.
“Mbak Shanty emangnya kerja bidang apa sih, kok bahasa Inggrisnya lancer banget gitu.”
“Just called me Shanty.”
“Gak enak lha mbak.”
“Shanty aja cukup.”
“Dikiranya ntar aku gak sopan. Mbak Shanty umur berapa coba?”
Raut Shanty mendadak berubah. Nafasnya terhenti di tengah tenggorokan.
“Kalo aku 21 tahun, mbak.”
Shanty sudah kehilangan selera meneruskan perbincangan ini.
“Ok, I’ve got to go. Thanks Joni.”
Shanty segera menghentikan taxi, dan menghilang begitu saja bersama taxi.
*****
“Ibu Sonia?”
“Iya.”
“Silahkan, bu.”
Sonia mengikuti gadis berperawakan kecil dengan blazer serba ungu.
“Bu Sonia tunggu disini sebentar ya, saya akan informasikan bahwa ibu sudah disini.”
“Oke, terima kasih banyak.”
Sonia melihat sekeliling. Sebuah meja besar dikelilingi banyak kursi. Ia duduk di salah satu ujungnya. Dinding ruangan dicat putih bersih. Tidak banyak hiasan dinding yang dipasang. Setelah diamati, hanya ada kebijakan mutu perusahaan yang dibingkai bersandingan dengan bingkai visi dan misi perusahaan. Jam dinding menghias di sisi tembok tak berjendela. Dipandanginya jam dinding itu. Semakin lama, Sonia semakin jelas mendengar laju jarum detik yang menapak.
“Terima kasih sudah menunggu.”
Sonia tersentak. Dilihatnya ada 3 orang memasuki ruangan dan duduk di seberangnya.
“Baiklah, langsung saja kita mulai ya.”
“Iya, pak.” Sonia mengumpulkan kembali kesadarannya.
“Sebelumnya, perkenalkan nama saja Joko Heriyanto – Manager Media Communication. Di sebelah kiri saya, ada bapak Ardianto – Manager HRD, dan di sebelahnya, bapak Kurniawan Agung Yulianto – Manager Corporate Affairs.”
“Terima kasih, pak. Senang bertemu dengan Bapak-bapak sekalian.”
“Sekarang ceritakan tentang dirimu.”
“Baik, terima kasih banyak Bapak-bapak sekalian atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Nama saya Sonia Hutami, 37 tahun, anak ketiga dari keluarga 4 bersaudara di daerah Yogyakarta, dan saya single. Latar belakang pendidikan saya adalah Design Product Industry di ITS Surabaya dengan IPK 3.32 dari skala 4, namun saya berkesempatan untuk mengembangkan diri dan pengetahuan di beberapa bidang, seperti: marketing, graphic design, consultant, dan advertising pada 2 tahun terakhir. Saya suka membaca dan nonton film. Bagi saya, buku dan film adalah sumber inspirasi yang sangat dalam dan luas. Sementara itu dulu perkenalan dari saya, silahkan jika Bapak-bapak ada pertanyaan.”
“Terima kasih banyak Sonia. Menarik sekali perkenalannya.”
“Terima kasih, pak.”
“4 bersaudara ya? Dimana saudaramu?”
“Yang pertama di Jakarta, kedua di Singapore dan adik saya di Dubai.”
“Sudah menikah semuanya?”
“Iya.”
"Bagaimana dengan Sonia sendiri?"
"Maaf, maksud Bapak?"
“Apakah kamu ada rencana menikah.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Alasan pribadi yang tidak saya kehendaki jelaskan disini.”
“Kenapa?”
“Maaf pak, alasan pribadi.”
Kemudian ketiga orang itu berbisik satu sama lain. Menghentikan pertanyaan ke Sonia.
Sonia merasa gelisah dan sudah tidak nyaman berada di ruangan.
“Apakah Sonia tahu posisi apa yang lamar disini?”
“Iya. Advertising Manager.”
“Apakah Sonia juga membaca requirements yang kita minta?”
“Iya. Saya rasa bisa memenuhinya. Bapak-bapak bisa membaca resume saya untuk lebih detail pengalaman dan project yang pernah saya kerjakan.”
“Kita juga mensyaratkan wanita yang sudah atau pernah menikah.”
“Apakah syarat itu adalah keharusan.”
“Iya bagi kami. Karena kami pernah punya pengalaman buruk tentang hal itu.”
“Apakah pengalaman dan kualitas lain tidak dianggap, ketika masih single?”
“Maaf sekali, Sonia.”
“Baiklah, terima kasih Bapak-bapak atas waktu dan kesempatan interview yang diberikan.”
****
Suasana mall tidak begitu ramai. Mungkin jika di hari dan waktu kerja seperti ini, hanya orang yang benar-benar punya tujuan akan pergi ke mall, bukan sekedar windows shopping.
Nampak seorang ibu muda menenteng tas branded tengah mengamati seorang wanita yang sibuk dengan ipad nya sambil berjalan cepat. Dari jauh wanita sibuk itu sudah mencuri pandangannya, dan sekarang berjalan mengarah kepadanya.
"Hilda?"
"Maaf, dengan siapa ya?"
"Gue... Henny."
"Henny?"
"Iye. Elu Hilda Sukmawati kan?"
"Iya, benar. Kamu Henny siapa?"
"Gue Henny temen sekolah elu dulu."
"Henny, temen sekolah?"
"Iye, elu dulu SMA 45 kan? Goue dulu duduk di belakang elu waktu kelas dua."
"Oke... Henny, kamu benar-benar membuatku penasaran."
"Gue inget banget, dulu elu pendiam dan paling suka pergi ke sekolah dengan rambut dikuncir atau kepang dua."
"Henny... oiya.... Henny rambut pendek... Aku ingat sekarang."
"Itu dulu model Demi Moore yang lagi happening say."
"Iya, tau kok. Gimana kabarmu sekarang?"
"Gue baik. Seperti yang elu lihat sekarang, makin sehat. Kalo elu gimana, say? Udah nikah?"
"Aku baik dan sudah menikah."
"Sendirian aja kesini, mana suami elu?"
"Suami ada kerjaan sendiri. Aku kesini juga urusan kerjaan kok."
"Trus anak elu sama pembantu?"
"Kita belum punya anak, Hen. Anakmu sudah berapa?"
"Gue ada dua. Tuh mereka lagi milih sepatu sama mbak nya. Emang udah berapa lama menikah, say?"
"Sudah hampir sepuluh tahun."
"Apa kagak pengen punya anak?"
"Keluarga mana sih yang gak pengen punya anak, Hen?"
"Elu sudah periksa ke dokter kandungan?"
"Sudah sejak lima tahun yang lalu."
"Terus hasilnya gimana?"
"Kok jadinya investigasi gini sih?"
"Ya kan gue temen elu, siapa tau bisa membantu."
"Makasih Hen. Kita sudah mulai bisa menerima semua dan fokus pada kebahagiaan keluarga kita."
"Apa keluarga elu bisa bahagia tanpa anak? Ntar suami elu nyari lagi lho."
"Maaf Hen, lebih baik jangan omongin hal itu."
"Gue ada alternatif yg bagus, siapa tahu cocok buat elu."
"Makasih aja deh Hen."
"Gue beneran say...bentar, sepertinya gue simpen kartu namanya."
"Makasih Hen. Simpen aja kartu namanya. Aku harus buru-buru sudah ditunggu klien. Maaf ya."
***
Suasana mulai riuh. Ada sepuluh ibu yang sedang berkumpul. Sepertinya mereka berbincang, tetapi masing-masing seakan berbicara pada saat yang bersamaan. Entah, jika tidak ada yang menjadi pendengar apakah masih termasuk dalam perbincangan.
"Kemarin saya ketemu anak bu Dhani di mall bersama bapak-bapak."
"Sudah basi bu Ratna. Tiap malam minggu saya lihat Loni jalan dengan bapak-bapak."
"Oooo....namanya Loni. Ya maklum bu, saya tidak pernah ngobrol sama dia. Jangankan ngobrol, melihatnya duduk di teras saja gak pernah."
"Mungkin bukan level nya kali bu bergaul di lingkungan kita."
"Justru lingkungan kita yang tidak mau disamakan dengan dia, bu."
"Ibu pernah perhatikan penampilannya? Sepertinya kayak pajangan toko berjalan."
"Ah, bu Gina bisa aja."
"Benar bu. Saya pernah lihat dia pake gelang berderet, kalung dan anting. Semuanya warna pink, termasuk bajunya."
"Mungkin bu Gina aja yg pengen seperti Loni."
"Ih amit-amit, jangan sampai saya dan keturunan saya seperti dia."
"Saya heran, apa bu Dhani gak tahu kelakuan anaknya ya?"
"Mungkin aja tahu bu, tapi dibiarkan saja."
"Iya bener bu, lha wong suaminya sering pulang malam gak jelas aja, bu Dhani juga baik-baik saja."
"Apa bu Dhani gak pernah mikir atau curiga ya?"
"Emang pak Dhani kerja apa, bu Endang?"
"Saya juga kurang tahu bu. Yang pasti berangkat pagi dengan pakaian rapi dan pulangnya malam."
"Bu Dhani sekarang juga nampak kurusan ya."
"Kebanyakan pikiran bu."
"Kalau saya jadi bu Dhani, lebih baik cerai saja bu."
"Sssttttt.... bu Dhani datang."
"Maaf ibu-ibu saya datang terlambat, apakah arisannya sudah dikocok?"
"Belum. Kita juga baru ngumpul kok."
"Ah bu Dhani masa' masih nungguin uang kecil dari arisan sih."
"Eh bu Dhani, Loni sekarang sudah besar ya?"
"Umur berapa dia bu?"
"Kemarin baru lulus sekolah kan?"
"Kok gak dikuliahin aja sih bu?"
"Atau ikut ayahnya kerja aja."
"Iya, biasanya kalau bawaan dari orang dalam, prosesnya lebih cepat."
"Emang pak Dhani kerja bidang apa sih, bu?"
"Kantornya dimana bu?"
Bu Dhani menanggapi sejumlah pertanyaan tersebut dengan diam dan wajah datar.
"Maaf ibu-ibu, saya kesini untuk arisan. Bu Dahlia, silahkan mulai dikocok arisannya."
"Ah, bu Dhani kita kan bertetangga, jadi wajar kalo tanya masalah keluarga."
"Terima kasih bu atas perhatiannya. Tapi pertanyaannya semua dari sudut pandang yang berbeda, makanya saya tidak bisa jawab pertanyaannya."
"Tinggal dijawab, apa susahnya bu?"
"Maaf bu, saya tidak bisa menjawabnya. Lebih baik membenarkan sudut pandangnya dulu."
"Maksud ibu, kita tidak memahami permasalahan?"
"Maaf ibu-ibu kok jadi membicarakan saya?"
"Baiklah, kita mulai saja arisannya."
Ibu-ibu lantas sibuk dengan kocokan arisan. Riuh lagi, tanpa melirik ke arah bu Dhani. Seakan bu Dhani hadir dalam arisan, tapi tidak berada di tengah-tengah riuh ibu-ibu.
Jakarta, 7 December 2011
wrote with my tablet
yudie matta
note: tulisan ini terinspirasi dari komentar temen2 yg sering mendapatkan pertanyaan2 yg menurut org lain adalah bagian dari kesempurnaan. Sementara bagi yg ditanya, pertanyaan itu seakan pisau yang siap menancap di tubuh. To all, please do respect others in their own perfection.
17 February 2011
Hangat temaram
Suasananya temaram. Penerangan seakan hanya sekedarnya agar orang tidak menabrak meja-meja yang sudah tertata rapi. Meski hanya lampu bohlam bergantungan hampir disetiap satu meter, namun cahayanya hanya cukup mengabarkan ke kita bahwa itu adalah bohlam, bukan membagi cahayanya. Belum lagi tampilan bohlam yang selalu memakai caping, walau tidak ada rintik air yang menetes. Itulah yang membuat cahaya kuning bohlam berkumpul di sebalik caping yang dipakainya. Dan begitulah sehingga suasana dalam ruangan temaram.
Pada sudut ruangan, nampak wanita muda sibuk dengan blackberry di tangannya.
Ri3ch4 c4nt13x bete nungguin…. Humpfff
Enaknya ngapain ya?
6 minutes ago . Like
Aldi89 bR0ndI mau ditemenin tante?
6 minutes ago . Like
G4G4H P3RK4S4 kok ditungguin, bukannya janjiannya besok?
5 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x @Aldi: mau dong, tp jgn skrg ya
@Ga’: yeee…. GR
3 minutes ago . 1 Like
G4G4H P3RK4S4 jadi, bsk cancel?
3 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x kan emang udah jadwalnya :P
2 minutes ago . Like
G4G4H P3RK4S4 kok dibilang GR?
2 minutes ago . Like
Aldi89 bR0ndI kapan?
1 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x @Ga’: jangan ngambek dong, ntar jelek lho :P
@Aldi: nanti dikabari…
48 seconds ago. Like
Outgoing call………
“Arga, apaan sih elu komen kayak gitu? Norak tahu…”
“Yang mulai siapa?”
“Kan cuma becanda, sayang.”
“Aku tahu becanda. Cuma giliran becanda ke aku kok sinis gitu?”
“Elu cemburu, Ga’?”
“Emang siapa Aldi itu? Berondong mana dia?”
“Anak kuliahan semester awal.”
“Icha pake juga?”
“Kok elu nanyanya gitu?”
“Ada yang salah dengan pertanyaanku?”
“Elu mau dibandingkan dengan berondong semester awal?”
“Risih aku ngeliat lagak berondong itu.”
“Tenang, tidak sebanding dengan elu kok. Gue hanya butuh variasi.”
“Variasi? Kupikir akulah variasimu?”
“Setelah gue cerai?”
“Honey, kamu jadi cerai?”
“Baru sebulan kemarin.”
“Kenapa tidak cerita?”
“Sejak kapan elu peduli rumah tangga gue?”
“Paling tidak kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi kan?”
“That’s it?”
“I know honey. Mungkin kita tidak perlu bahas ini sekarang. Besok makan malam?”
“We have appointment already, don’t we?”
“Yup…. Can’t wait until tomorrow.”
“See you tomorrow, then.”
“Miss you, honey.”
“Miss you too, handsome.”
Call ended
******
Incoming Call
“Ya Cha….”
“Nyampe mana Nin? Jam segini belum datang.”
“Maaf Cha, aku harus nganter anak-anak ke rumah neneknya biar bisa ngumpul sama kalian.”
“Kalian? Baru gue aja disini.”
“Rika sama Dita belum datang?”
“Aku belum call mereka. Paling Rika masih di ranjang, secara pengantin baru.”
“Hehehe….. aku usahakan 30 menit bisa menyusul kesana ya. Maaf banget.”
“Iya, tapi janji datang ya.”
“Pasti. Udahan ya, aku lagi nyetir nih, nanti kena 750ribu lagi.”
“Iya deh…. Dasar emak-emak, perhitungan banget.”
“Kan kamu juga emak, Icha….”
“I’m single woman now, have no kids, and don’t plan to. I love being single.”
“Udah ah, nanti aja ceritanya…. See ya.”
Call ended
****
Dita Lovely dari sederet jadwal hari ini, sekaranglah waktu yang dinantikan.
10 minutes ago . 18 Likes
Anita Muis sukses dengan semua jadwalnya ya mbak
10 minutes ago . Like
Rahmat Aja wanita karir banget :P
10 minutes ago . Like
Adinda Remaja jadwal apaan mbak yang dinantikan?
9 minutes ago . Like
Dewi Setiarini reminder: tomorrow we have meeting early morning. Beware and prepare!!!!
9 minutes ago . 1 Like
Dita Lovely @Anita: thanks
@Rahmat: hehehehe…. Gak juga kok :P
@Dinda: ngumpul ma tmn2 lama
@Dewi: do you have to remind me anytime and anywhere? Thanks anyway :P
6 minutes ago . Like
Galih Ananta jangan lupa jaga kesehatan teteh…
6 minutes ago . Like
Adinda Remaja so sweet… have a great time
5 minutes ago . Like
Richardo Richardo be proud of yourself
5 minutes ago . Like
Anita Muis anytime mbak…
5 minutes ago . Like
Dita Lovely thanks for all, do appreciate for your kindness
3 minutes ago . Like
Dewi Setiarini as your assistant, of course I do care and have to remind you anytime and anywhere, tomorrow will be our important client. And if as friend, I don’t care :P
2 minutes ago. 2 Likes
Dita Lovely wkwkwkwkwkwk…..
Love you, Dewi……..
2 minutes ago. Like
Ri3ch4 c4nt13x dimana bu?
1 minute ago . LIke
Rahmat Aja gak usah merendah mbak. Semua juga udah tahu kok… hehehehe
1 minute ago . Like
Dita Lovely @Icha: otw say…. Macet
@Rahmat: tahu apa? Kalo aku wanita? Gak perlu approval yang lain :P
20 seconds ago . 3 Like
Outgoing Call…..
“Icha, maaf aku masih kena macet.”
“Macet dimane?”
“Keluar kantor sudah padat merayap say.”
“Elu baru keluar kantor?”
“Iya, maaf ya. Banyak meeting hari ini.”
“Nunggu berape lama lagi say?”
“Pak Udin, kira-kira berapa lama lagi nyampe ke Kemang?”
“Kalo macet gini, mungkin sejaman bu.”
“Sejam say…”
“Gue udah denger omongan mang Udin say… Yaudah, buruan ya. Pasti kesini lho.”
“Iya….”
Call ended
******
Outgoing call….
“Cong….”
“Kemane aje elu say?”
“I know I’m very late…. Udah pada ngumpul Cong?”
“I wish…. Nina masih nganter anaknye ke rumah neneknye dan Dita terjebak macet.”
“Jadi cuman elu, Cong?”
“Iye…. BĂȘte banget. Ini udah setengah jam lebih say.”
“Gue coba lebih cepet bisa nyampe sana deh.”
“Masih di ranjang sama laki lu?”
“Muke lu nyungsep…. Ini lagi pulang belanja sama suami.”
“Suami….. I recognize that word before…”
“Elu jadi cerai, Cong?”
“I’ve got my dream now…”
“Gila lu. Ntar ah ceritanya, biar seru.”
“Iye… makanya cepetan sini.”
“Iye Cong…”
Call ended
Rika Asmara I love my husband, and will always be. Ya Allah, jauhkan dari godaan perceraian yang terkutuk. Amin
2 seconds ago . Like
****
Ri3ch4 c4nt13x dasar wanita, diajak ngumpul aja susahnya seribu alasan
3 seconds ago . Like
Dita Lovely thanks God, udah mulai lancar jalanan. Can’t wait sharing with my gals
3 seconds ago . Like
Rika Asmara sayang, aku pergi reunian dulu ya….
3 seconds ago . Like
****
Outgoing call….
“Icha…”
“Udeh nyampe mane, Nin?”
“Maaf, aku agak telat ya. Udah deket rumah neneknya anak-anak, ban bocor.”
“Lama-lama gue yang bocor, kelamaan sendirian disini.”
“Please Cha, understand my condition.”
“Iya deh… take care aja.”
“Thanks ya Cha…”
Call ended
*****
“Icha…………”
“Dita…. Oh God, thank you so much. At last, you send me someone…. Rapi amat?”
“Namanya juga kerja say.”
“Namanya juga bos, iya kan Dit?”
“Bisa aja kamu… Maaf ya, it’s all about the traffic.”
“I know Jakarta say.”
“So, mana yang lain?”
“Nina nganter anak-anaknya ke rumah neneknya, dan apesnya ban bocor.”
“Kok nganter anaknya sih. Emang kemana suaminya?”
“Elu belum tahu ceritanya?”
“Apaan?”
“Nina kan tipikal ibu rumah tangga konvensional. Nurut ape kate suami.”
“Their marriage is still fine, right?”
“Fine sih fine, cuman kalo gue dalam posisi Nina, udah buruan gugat.”
“Emang apa salahnya suami Nina?”
“Waktunya sedikit buat keluarga. Katanya sih karena kerjaan.”
“So what? I know and do understand that condition.”
“Gue nggak yakin emang karena kerjaan doang.”
“Jangan gitu dong, kita harus support Nina, bagaimanapun juga.”
“I do…”
“Kenapa nggak cari pembantu aja ya, biar gak repot.”
“Hello…. Don’t you remember what happened last year?”
“Did I miss something again?”
“Nina masih trauma dengan laporan pembantunya yang bilang suka dipeluk suaminya.”
“Yang bener Cha…”
“Yaelah…. Kemane aje elu say?”
“Trus… trus…..”
“Yaudah…. Dipecat lah pembantu itu. Yang gue heranin ya, Nina kok tegar amat jadi istri ya. Wait… yang bener tegar atau bodoh ya?”
“Don’t judge only from one side dong. It’s a family, means there’re more complicated things have to be considered.”
“Gue sih nggak begitu-begitu amat.”
“Trus, kabar kamu gimana Cha?”
“I’m fine, like you see right now. Prettier and just divorced.”
“WHAT???”
“Come on… divorce is not a bad thing. And it was my request, anyway.”
“How about your kids?”
“It’s not my kids anyway. So, why bother?”
“My God…..”
“Itu kan emang anak-anaknya Charlie dengan istri sebelumnya. Dengan gue, Charlie tidak punya anak.”
“What do you want, anyway?”
“I want to be free, and I realize marriage is not my kinda thing.”
“God bless you…. You decide, you responsible.”
“Sure…. Jangan khawatirkan aku lah. I’m fine. So, gimana cerita dari elu?”
“I’m good on my career.”
“Good…. “
“And mid of this year, I will move to France.”
“You will?”
“Iya…. Can you imagine that? Negara yang selalu kita omongin waktu jaman sekolah, bakalan jadi tempat tinggalku.”
“We have to cheer for that.”
“Thank you….”
“I’m so proud of you.”
“Paling tidak aku juga bisa senang melihatmu bahagia Cha, apapun keputusanmu.”
“Let’s toast for moving to France and divorcing.”
“Hahahahaha……”
********
Dita Lovely cheers for 2 hot single women :P
2 seconds ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x bahagia…. Yup, I deserve for that. Apapun keputusanku.
3 seconds ago . Like
*****
Incoming Call
“Ape say? Udah nyampe mana lu?”
“Icha, maaffff banget…”
“My God, it’s sound not good.”
“Iya, I have to apologize.”
“Nape say?”
“Aku gak bisa datang Cong.”
“You must be kidding me, right?”
“Unfortunately, I don’t.”
“Com’on, jangan buat buruk nama elu dalam persahabatan kita dong.”
“Maaf banget, Cong…. Kali ini, aku tidak ada pilihan.”
“Emangnya kenapa say?”
“Suami gue minta jatah lagi.”
“WHATT????”
Call Ended
“Hahahahahaha……..”
“Rikaaa….. elu emang brengsek.”
“Serius amat muke elu, Cong. Kayak mau melahirkan aje.”
“Elu pake acara gak datang segala. I’ve been waiting for nothing, then.”
“Hello…. you have me here.”
“Dita?”
“Pa kabar Rika. Makin cantik aja setelah nikah.”
“Makasih. Elu juga makin bersinar aja nih kayaknya.”
“Ngomong-ngomong masalah sinar. Dita akan pindah ke Perancis bulan Juni mendatang.”
“You will? Congratulation, honey.”
“Thank you, Rika. And you also congratulate Icha for being single.”
“I don’t think could do that. I’m just married.”
“Oh…. Maaf, bukan itu point aku, Rika. My point is we have to congratulate her for whatever her decision to achieve her happiness.”
“Are you happy, Cong?”
“I really am. Can’t you read the sign?”
“Toast for happiness…..”
“Wait until I have my drink.”
“Hahahahaha…….”
*****
Ri3ch4 c4nt13x I made a right decision, and have great friends. What a Life!!!
5 seconds ago . Like
Rika Asmara I love my life…..
5 second ago . Like
Dita Lovely This is the best refreshing time. Love you gals
5 seconds ago . Like
****
“Jadi gimana Dit rencana elu pindah ke Perancis?”
“Sekretarisku sudah menyiapkan semuanya?”
“Termasuk pasangan hidup?”
“Com’on gals, I don’t even think about it.”
“Not to think about it until you find one.”
“Do we have to find one? What’s the point?”
“Namanya juga pasangan hidup, Cong.”
“I know your point Rik, but I focus on my job right now.”
“Wait…. Apakah itu berarti ketika elu gak dapat pasangan, elu tidak masuk dalam kategori hidup?”
“Hidup elu enggak komplit, Cong?”
“Apakah harus diikat perkawinan?”
“JIka die bisa menemani selama hidup lu, why not?”
“So what’s the point?”
“To complete your life.”
“What for?”
“Happiness.”
“That’s it? I am happy now. Are you happy, Dit?”
“Icha…. You have to realize kalo Rika just married. Give her some respect, please.”
“Dita sayang, apakah janda tidak berhak mendapatkan respect?”
“Please, don’t be misunderstood.”
“I know, honey. Rika sayang, mungkin ukuran bahagia gue tidak sama dengan elu. Meski gue mutusin untuk cerai, tapi inilah jalan gue menemukan bahagia.”
“Maaf Cong, gue paham maksud elu.”
“Jadi, gimana kehidupan kalian setelah mendapatkan kebahagiaan yang diimpikan selama ini?”
“Gue ngerasa bebas dalam arti yang sebenarnya. Nggak perlu jaim-jaim lagi, apalagi buat-buat alasan kalo pergi kemana-mana.”
“Kalo gue rasanya lebih aman dan tentram, setelah ada mas Henry. Elu gimana, Dit?”
“Aku bahagia. Satu persatu daftar impianku sudah mulai terwujud.”
“Undang kite ke Perancis ya say?”
“Sure… I will.”
“Where will you stay?”
“I don’t know exactly, but I will inform you later.”
“Mungkin next new year, we should celebrate in France.”
“Gue suka elu Cong, pinter banget kalo arrange acara. Gimana, Dit?”
“Aku bisa arrange tempatnya. Cuma aku belum bisa pastikan bisa join apa enggak.”
“Com’ on… for our friendship.”
“Mungkin kalaupun aku bisa, nggak bisa seharian.”
“Yang pasti old&new nya bisa kan?”
“Tentu, aku akan usahakan.”
“Maaf, aku terlambat.”
“NINA……..”
“It’s okey say, asal kamu datang aje.”
“Jadi, gimana ban bocornya?”
“Sudah diganti. Besok pagi setelah ngantar anak-anak harus segera ditambal.”
“Besok pagi nganter anak? Apa elu akan tidur tempat mertua elu?”
“Nggak Cha, aku jemput anak-anak setelah dari sini.”
“Emang elu tahu sampai jam berapa kita disini?”
“Jam berape, Cong?”
“Until drop….. hehehehe.”
“Kenapa nggak minta suami kamu jemput, Nin?”
“Mas Adit masih ada urusan dengan klien dia.”
“By the way, Adit kerja di perusahaan apa Nin?”
“Di perusahaan Oil and Gas.”
“What position?”
“Manager Marketing.”
“Don’t ask, he must be very busy.”
“Masa’ gak ada perhatian sama sekali ke elu, Nin?”
“Bukan begitu Cha, kita udah komitmen dari awal untuk berbagi tugas. Dan aku nggak keberatan kok jemput anak-anak lagi.”
“Bukan masalah keberatan dengan komitmen kalian. Apa elu bahagia dengan seperti ini?”
“Icha, please give your respect.”
“So, gimana rasanya jadi ibu, Nin?”
“Menyenangkan. Sama sekali jauh dari bayangan.”
“In good or bad things?”
“Both ways.”
“Oiya, next new year Dita ngundang kita di Perancis.”
“Perancis?”
“Iye, Juni depan Dita akan pindah kesane. Dan kita akan rayakan tahun baru disana.”
“Aku harus diskusikan dulu dengan mas Adit.”
“Nina sayang, ini bukan penawaran iya atau enggak, jadi jangan tanya laki elu boleh ikut apa enggak.”
“Iye Nin, kesempatan kita untuk bersama. Aku juga akan arrange rencana ini dengan mas Henry.”
“Aku hanya pikirkan anak-anak.”
“Kan bisa elu minta mertua elu jagain untuk sementara waktu.”
“Nina, take sometime to think about it. I do appreciate when you join us.”
“Ok, I’ll think about it.”
****
Ri3ch4 c4nt13x Marriage….. thanks God, I’m over it
3 seconds ago . Like
****
Incoming Call
“Iya ma..”
“Jam berapa kamu pulang jemput anak-anakmu?”
“Kenapa ma?”
“Kalau dia atas jam 10, kamu temui bi Iyah aja ya. Papa dan Mama sudah tidur.”
“Iya ma.”
“Jangan kemalaman pulangnya, kasihan anak-anakmu, besok sekolah kan?”
“Iya ma.”
“Jangan Cuma mikir seneng sendiri, kamu sudah punya anak dua”
“Iya ma…”
Call Ended
“Siapa Nin?”
“Ibu mertua.”
“Ada ape say?”
“Aku gak boleh pulang malam-malam.”
“Kan elu baru datang.”
“Iya, maaf banget Cha.”
“At least you’ve come here.”
“Mau balik sekarang? Tunggu 15 menit lagi aje.”
“Pengennya gitu Cha. Perjalanan ke rumah mertua sejam. Dan mertua bilang gak akan nemuin kalo diatas jam sepuluh.”
“Fiyuh….. “
“Thanks ya Nin, udah nyempetin mau datang.”
“I do apologize. Please, continue enjoying your night without me.”
“Take care say….. jangan lupa next new year.”
“Iya, I will update you.”
“Salam buat anak-anak ya…”
Dan begitulah temarannya suasana masih tetap tinggal, meski Nina sudah beranjak meninggalkan Icha, Dita dan Rika. Mereka masih menghangatkan suasana dengan perbincangan akan banyak hal. Perbincangan yang bercampur dengan kerinduan lah yang membuat suasana temaran itu bertambah hangat.
yudie matta
Hong Kong, 17 Februari 2011
@HKAirport waiting connecting flight
NB: Tulisan ini belum menemukan klimaks-nya. Diusahakan akan dilanjutkan lain waktu. The point is: aku ingin menghadirkan sebuah cerita dengan kemasan yang berbeda. Semoga bisa dimengerti dan diterima.
Pada sudut ruangan, nampak wanita muda sibuk dengan blackberry di tangannya.
Ri3ch4 c4nt13x bete nungguin…. Humpfff
Enaknya ngapain ya?
6 minutes ago . Like
Aldi89 bR0ndI mau ditemenin tante?
6 minutes ago . Like
G4G4H P3RK4S4 kok ditungguin, bukannya janjiannya besok?
5 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x @Aldi: mau dong, tp jgn skrg ya
@Ga’: yeee…. GR
3 minutes ago . 1 Like
G4G4H P3RK4S4 jadi, bsk cancel?
3 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x kan emang udah jadwalnya :P
2 minutes ago . Like
G4G4H P3RK4S4 kok dibilang GR?
2 minutes ago . Like
Aldi89 bR0ndI kapan?
1 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x @Ga’: jangan ngambek dong, ntar jelek lho :P
@Aldi: nanti dikabari…
48 seconds ago. Like
Outgoing call………
“Arga, apaan sih elu komen kayak gitu? Norak tahu…”
“Yang mulai siapa?”
“Kan cuma becanda, sayang.”
“Aku tahu becanda. Cuma giliran becanda ke aku kok sinis gitu?”
“Elu cemburu, Ga’?”
“Emang siapa Aldi itu? Berondong mana dia?”
“Anak kuliahan semester awal.”
“Icha pake juga?”
“Kok elu nanyanya gitu?”
“Ada yang salah dengan pertanyaanku?”
“Elu mau dibandingkan dengan berondong semester awal?”
“Risih aku ngeliat lagak berondong itu.”
“Tenang, tidak sebanding dengan elu kok. Gue hanya butuh variasi.”
“Variasi? Kupikir akulah variasimu?”
“Setelah gue cerai?”
“Honey, kamu jadi cerai?”
“Baru sebulan kemarin.”
“Kenapa tidak cerita?”
“Sejak kapan elu peduli rumah tangga gue?”
“Paling tidak kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi kan?”
“That’s it?”
“I know honey. Mungkin kita tidak perlu bahas ini sekarang. Besok makan malam?”
“We have appointment already, don’t we?”
“Yup…. Can’t wait until tomorrow.”
“See you tomorrow, then.”
“Miss you, honey.”
“Miss you too, handsome.”
Call ended
******
Incoming Call
“Ya Cha….”
“Nyampe mana Nin? Jam segini belum datang.”
“Maaf Cha, aku harus nganter anak-anak ke rumah neneknya biar bisa ngumpul sama kalian.”
“Kalian? Baru gue aja disini.”
“Rika sama Dita belum datang?”
“Aku belum call mereka. Paling Rika masih di ranjang, secara pengantin baru.”
“Hehehe….. aku usahakan 30 menit bisa menyusul kesana ya. Maaf banget.”
“Iya, tapi janji datang ya.”
“Pasti. Udahan ya, aku lagi nyetir nih, nanti kena 750ribu lagi.”
“Iya deh…. Dasar emak-emak, perhitungan banget.”
“Kan kamu juga emak, Icha….”
“I’m single woman now, have no kids, and don’t plan to. I love being single.”
“Udah ah, nanti aja ceritanya…. See ya.”
Call ended
****
Dita Lovely dari sederet jadwal hari ini, sekaranglah waktu yang dinantikan.
10 minutes ago . 18 Likes
Anita Muis sukses dengan semua jadwalnya ya mbak
10 minutes ago . Like
Rahmat Aja wanita karir banget :P
10 minutes ago . Like
Adinda Remaja jadwal apaan mbak yang dinantikan?
9 minutes ago . Like
Dewi Setiarini reminder: tomorrow we have meeting early morning. Beware and prepare!!!!
9 minutes ago . 1 Like
Dita Lovely @Anita: thanks
@Rahmat: hehehehe…. Gak juga kok :P
@Dinda: ngumpul ma tmn2 lama
@Dewi: do you have to remind me anytime and anywhere? Thanks anyway :P
6 minutes ago . Like
Galih Ananta jangan lupa jaga kesehatan teteh…
6 minutes ago . Like
Adinda Remaja so sweet… have a great time
5 minutes ago . Like
Richardo Richardo be proud of yourself
5 minutes ago . Like
Anita Muis anytime mbak…
5 minutes ago . Like
Dita Lovely thanks for all, do appreciate for your kindness
3 minutes ago . Like
Dewi Setiarini as your assistant, of course I do care and have to remind you anytime and anywhere, tomorrow will be our important client. And if as friend, I don’t care :P
2 minutes ago. 2 Likes
Dita Lovely wkwkwkwkwkwk…..
Love you, Dewi……..
2 minutes ago. Like
Ri3ch4 c4nt13x dimana bu?
1 minute ago . LIke
Rahmat Aja gak usah merendah mbak. Semua juga udah tahu kok… hehehehe
1 minute ago . Like
Dita Lovely @Icha: otw say…. Macet
@Rahmat: tahu apa? Kalo aku wanita? Gak perlu approval yang lain :P
20 seconds ago . 3 Like
Outgoing Call…..
“Icha, maaf aku masih kena macet.”
“Macet dimane?”
“Keluar kantor sudah padat merayap say.”
“Elu baru keluar kantor?”
“Iya, maaf ya. Banyak meeting hari ini.”
“Nunggu berape lama lagi say?”
“Pak Udin, kira-kira berapa lama lagi nyampe ke Kemang?”
“Kalo macet gini, mungkin sejaman bu.”
“Sejam say…”
“Gue udah denger omongan mang Udin say… Yaudah, buruan ya. Pasti kesini lho.”
“Iya….”
Call ended
******
Outgoing call….
“Cong….”
“Kemane aje elu say?”
“I know I’m very late…. Udah pada ngumpul Cong?”
“I wish…. Nina masih nganter anaknye ke rumah neneknye dan Dita terjebak macet.”
“Jadi cuman elu, Cong?”
“Iye…. BĂȘte banget. Ini udah setengah jam lebih say.”
“Gue coba lebih cepet bisa nyampe sana deh.”
“Masih di ranjang sama laki lu?”
“Muke lu nyungsep…. Ini lagi pulang belanja sama suami.”
“Suami….. I recognize that word before…”
“Elu jadi cerai, Cong?”
“I’ve got my dream now…”
“Gila lu. Ntar ah ceritanya, biar seru.”
“Iye… makanya cepetan sini.”
“Iye Cong…”
Call ended
Rika Asmara I love my husband, and will always be. Ya Allah, jauhkan dari godaan perceraian yang terkutuk. Amin
2 seconds ago . Like
****
Ri3ch4 c4nt13x dasar wanita, diajak ngumpul aja susahnya seribu alasan
3 seconds ago . Like
Dita Lovely thanks God, udah mulai lancar jalanan. Can’t wait sharing with my gals
3 seconds ago . Like
Rika Asmara sayang, aku pergi reunian dulu ya….
3 seconds ago . Like
****
Outgoing call….
“Icha…”
“Udeh nyampe mane, Nin?”
“Maaf, aku agak telat ya. Udah deket rumah neneknya anak-anak, ban bocor.”
“Lama-lama gue yang bocor, kelamaan sendirian disini.”
“Please Cha, understand my condition.”
“Iya deh… take care aja.”
“Thanks ya Cha…”
Call ended
*****
“Icha…………”
“Dita…. Oh God, thank you so much. At last, you send me someone…. Rapi amat?”
“Namanya juga kerja say.”
“Namanya juga bos, iya kan Dit?”
“Bisa aja kamu… Maaf ya, it’s all about the traffic.”
“I know Jakarta say.”
“So, mana yang lain?”
“Nina nganter anak-anaknya ke rumah neneknya, dan apesnya ban bocor.”
“Kok nganter anaknya sih. Emang kemana suaminya?”
“Elu belum tahu ceritanya?”
“Apaan?”
“Nina kan tipikal ibu rumah tangga konvensional. Nurut ape kate suami.”
“Their marriage is still fine, right?”
“Fine sih fine, cuman kalo gue dalam posisi Nina, udah buruan gugat.”
“Emang apa salahnya suami Nina?”
“Waktunya sedikit buat keluarga. Katanya sih karena kerjaan.”
“So what? I know and do understand that condition.”
“Gue nggak yakin emang karena kerjaan doang.”
“Jangan gitu dong, kita harus support Nina, bagaimanapun juga.”
“I do…”
“Kenapa nggak cari pembantu aja ya, biar gak repot.”
“Hello…. Don’t you remember what happened last year?”
“Did I miss something again?”
“Nina masih trauma dengan laporan pembantunya yang bilang suka dipeluk suaminya.”
“Yang bener Cha…”
“Yaelah…. Kemane aje elu say?”
“Trus… trus…..”
“Yaudah…. Dipecat lah pembantu itu. Yang gue heranin ya, Nina kok tegar amat jadi istri ya. Wait… yang bener tegar atau bodoh ya?”
“Don’t judge only from one side dong. It’s a family, means there’re more complicated things have to be considered.”
“Gue sih nggak begitu-begitu amat.”
“Trus, kabar kamu gimana Cha?”
“I’m fine, like you see right now. Prettier and just divorced.”
“WHAT???”
“Come on… divorce is not a bad thing. And it was my request, anyway.”
“How about your kids?”
“It’s not my kids anyway. So, why bother?”
“My God…..”
“Itu kan emang anak-anaknya Charlie dengan istri sebelumnya. Dengan gue, Charlie tidak punya anak.”
“What do you want, anyway?”
“I want to be free, and I realize marriage is not my kinda thing.”
“God bless you…. You decide, you responsible.”
“Sure…. Jangan khawatirkan aku lah. I’m fine. So, gimana cerita dari elu?”
“I’m good on my career.”
“Good…. “
“And mid of this year, I will move to France.”
“You will?”
“Iya…. Can you imagine that? Negara yang selalu kita omongin waktu jaman sekolah, bakalan jadi tempat tinggalku.”
“We have to cheer for that.”
“Thank you….”
“I’m so proud of you.”
“Paling tidak aku juga bisa senang melihatmu bahagia Cha, apapun keputusanmu.”
“Let’s toast for moving to France and divorcing.”
“Hahahahaha……”
********
Dita Lovely cheers for 2 hot single women :P
2 seconds ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x bahagia…. Yup, I deserve for that. Apapun keputusanku.
3 seconds ago . Like
*****
Incoming Call
“Ape say? Udah nyampe mana lu?”
“Icha, maaffff banget…”
“My God, it’s sound not good.”
“Iya, I have to apologize.”
“Nape say?”
“Aku gak bisa datang Cong.”
“You must be kidding me, right?”
“Unfortunately, I don’t.”
“Com’on, jangan buat buruk nama elu dalam persahabatan kita dong.”
“Maaf banget, Cong…. Kali ini, aku tidak ada pilihan.”
“Emangnya kenapa say?”
“Suami gue minta jatah lagi.”
“WHATT????”
Call Ended
“Hahahahahaha……..”
“Rikaaa….. elu emang brengsek.”
“Serius amat muke elu, Cong. Kayak mau melahirkan aje.”
“Elu pake acara gak datang segala. I’ve been waiting for nothing, then.”
“Hello…. you have me here.”
“Dita?”
“Pa kabar Rika. Makin cantik aja setelah nikah.”
“Makasih. Elu juga makin bersinar aja nih kayaknya.”
“Ngomong-ngomong masalah sinar. Dita akan pindah ke Perancis bulan Juni mendatang.”
“You will? Congratulation, honey.”
“Thank you, Rika. And you also congratulate Icha for being single.”
“I don’t think could do that. I’m just married.”
“Oh…. Maaf, bukan itu point aku, Rika. My point is we have to congratulate her for whatever her decision to achieve her happiness.”
“Are you happy, Cong?”
“I really am. Can’t you read the sign?”
“Toast for happiness…..”
“Wait until I have my drink.”
“Hahahahaha…….”
*****
Ri3ch4 c4nt13x I made a right decision, and have great friends. What a Life!!!
5 seconds ago . Like
Rika Asmara I love my life…..
5 second ago . Like
Dita Lovely This is the best refreshing time. Love you gals
5 seconds ago . Like
****
“Jadi gimana Dit rencana elu pindah ke Perancis?”
“Sekretarisku sudah menyiapkan semuanya?”
“Termasuk pasangan hidup?”
“Com’on gals, I don’t even think about it.”
“Not to think about it until you find one.”
“Do we have to find one? What’s the point?”
“Namanya juga pasangan hidup, Cong.”
“I know your point Rik, but I focus on my job right now.”
“Wait…. Apakah itu berarti ketika elu gak dapat pasangan, elu tidak masuk dalam kategori hidup?”
“Hidup elu enggak komplit, Cong?”
“Apakah harus diikat perkawinan?”
“JIka die bisa menemani selama hidup lu, why not?”
“So what’s the point?”
“To complete your life.”
“What for?”
“Happiness.”
“That’s it? I am happy now. Are you happy, Dit?”
“Icha…. You have to realize kalo Rika just married. Give her some respect, please.”
“Dita sayang, apakah janda tidak berhak mendapatkan respect?”
“Please, don’t be misunderstood.”
“I know, honey. Rika sayang, mungkin ukuran bahagia gue tidak sama dengan elu. Meski gue mutusin untuk cerai, tapi inilah jalan gue menemukan bahagia.”
“Maaf Cong, gue paham maksud elu.”
“Jadi, gimana kehidupan kalian setelah mendapatkan kebahagiaan yang diimpikan selama ini?”
“Gue ngerasa bebas dalam arti yang sebenarnya. Nggak perlu jaim-jaim lagi, apalagi buat-buat alasan kalo pergi kemana-mana.”
“Kalo gue rasanya lebih aman dan tentram, setelah ada mas Henry. Elu gimana, Dit?”
“Aku bahagia. Satu persatu daftar impianku sudah mulai terwujud.”
“Undang kite ke Perancis ya say?”
“Sure… I will.”
“Where will you stay?”
“I don’t know exactly, but I will inform you later.”
“Mungkin next new year, we should celebrate in France.”
“Gue suka elu Cong, pinter banget kalo arrange acara. Gimana, Dit?”
“Aku bisa arrange tempatnya. Cuma aku belum bisa pastikan bisa join apa enggak.”
“Com’ on… for our friendship.”
“Mungkin kalaupun aku bisa, nggak bisa seharian.”
“Yang pasti old&new nya bisa kan?”
“Tentu, aku akan usahakan.”
“Maaf, aku terlambat.”
“NINA……..”
“It’s okey say, asal kamu datang aje.”
“Jadi, gimana ban bocornya?”
“Sudah diganti. Besok pagi setelah ngantar anak-anak harus segera ditambal.”
“Besok pagi nganter anak? Apa elu akan tidur tempat mertua elu?”
“Nggak Cha, aku jemput anak-anak setelah dari sini.”
“Emang elu tahu sampai jam berapa kita disini?”
“Jam berape, Cong?”
“Until drop….. hehehehe.”
“Kenapa nggak minta suami kamu jemput, Nin?”
“Mas Adit masih ada urusan dengan klien dia.”
“By the way, Adit kerja di perusahaan apa Nin?”
“Di perusahaan Oil and Gas.”
“What position?”
“Manager Marketing.”
“Don’t ask, he must be very busy.”
“Masa’ gak ada perhatian sama sekali ke elu, Nin?”
“Bukan begitu Cha, kita udah komitmen dari awal untuk berbagi tugas. Dan aku nggak keberatan kok jemput anak-anak lagi.”
“Bukan masalah keberatan dengan komitmen kalian. Apa elu bahagia dengan seperti ini?”
“Icha, please give your respect.”
“So, gimana rasanya jadi ibu, Nin?”
“Menyenangkan. Sama sekali jauh dari bayangan.”
“In good or bad things?”
“Both ways.”
“Oiya, next new year Dita ngundang kita di Perancis.”
“Perancis?”
“Iye, Juni depan Dita akan pindah kesane. Dan kita akan rayakan tahun baru disana.”
“Aku harus diskusikan dulu dengan mas Adit.”
“Nina sayang, ini bukan penawaran iya atau enggak, jadi jangan tanya laki elu boleh ikut apa enggak.”
“Iye Nin, kesempatan kita untuk bersama. Aku juga akan arrange rencana ini dengan mas Henry.”
“Aku hanya pikirkan anak-anak.”
“Kan bisa elu minta mertua elu jagain untuk sementara waktu.”
“Nina, take sometime to think about it. I do appreciate when you join us.”
“Ok, I’ll think about it.”
****
Ri3ch4 c4nt13x Marriage….. thanks God, I’m over it
3 seconds ago . Like
****
Incoming Call
“Iya ma..”
“Jam berapa kamu pulang jemput anak-anakmu?”
“Kenapa ma?”
“Kalau dia atas jam 10, kamu temui bi Iyah aja ya. Papa dan Mama sudah tidur.”
“Iya ma.”
“Jangan kemalaman pulangnya, kasihan anak-anakmu, besok sekolah kan?”
“Iya ma.”
“Jangan Cuma mikir seneng sendiri, kamu sudah punya anak dua”
“Iya ma…”
Call Ended
“Siapa Nin?”
“Ibu mertua.”
“Ada ape say?”
“Aku gak boleh pulang malam-malam.”
“Kan elu baru datang.”
“Iya, maaf banget Cha.”
“At least you’ve come here.”
“Mau balik sekarang? Tunggu 15 menit lagi aje.”
“Pengennya gitu Cha. Perjalanan ke rumah mertua sejam. Dan mertua bilang gak akan nemuin kalo diatas jam sepuluh.”
“Fiyuh….. “
“Thanks ya Nin, udah nyempetin mau datang.”
“I do apologize. Please, continue enjoying your night without me.”
“Take care say….. jangan lupa next new year.”
“Iya, I will update you.”
“Salam buat anak-anak ya…”
Dan begitulah temarannya suasana masih tetap tinggal, meski Nina sudah beranjak meninggalkan Icha, Dita dan Rika. Mereka masih menghangatkan suasana dengan perbincangan akan banyak hal. Perbincangan yang bercampur dengan kerinduan lah yang membuat suasana temaran itu bertambah hangat.
yudie matta
Hong Kong, 17 Februari 2011
@HKAirport waiting connecting flight
NB: Tulisan ini belum menemukan klimaks-nya. Diusahakan akan dilanjutkan lain waktu. The point is: aku ingin menghadirkan sebuah cerita dengan kemasan yang berbeda. Semoga bisa dimengerti dan diterima.
30 December 2010
Sebuah Nama
Ada sebuah nama yang senantiasa menemani hatiku
yang selalu menuntunku menjadi terbaik
yang menerangi jalan cintaku
yang memayungiku dari hujan kehampaan
yang membuka mata ketidaktahuanku
yang menghantarkanku pada gerbang kesyukuran
yang menyemikan benih keikhlasanku
yang menyatukan puing pengetahuanku
yang menjadikanku pribadi terpilih
Dia memberi lebih dari yang kuminta
Dia selalu ada pada saat apapun
Dia tidak pernah menuntut di luar kemampuaku
Dia yang memahamiku seutuhnya
Dia adalah seluruh kata terindah
Terima kasih telah menjadikanku sebagai diriku
Terima kasih telah mengembangkanku
Terima kasih telah memperindah hari-hariku
Terima kasih telah membahagiakan hidupku
Terima kasih telah memembangkitkan semangatku
Terima kasih telah menuntunku untuk selalu berterima kasih
Terima kasih......
Meski kata tak pernah cukup mewakili rasa
Namun keindahannya tak mengurangi makna
Dan maknanya tidak mengerdilkan niatku
Terima kasih,
Hanya ada satu
Lailahaillallah
yudie matta
301210
10:09PM
@room
yang selalu menuntunku menjadi terbaik
yang menerangi jalan cintaku
yang memayungiku dari hujan kehampaan
yang membuka mata ketidaktahuanku
yang menghantarkanku pada gerbang kesyukuran
yang menyemikan benih keikhlasanku
yang menyatukan puing pengetahuanku
yang menjadikanku pribadi terpilih
Dia memberi lebih dari yang kuminta
Dia selalu ada pada saat apapun
Dia tidak pernah menuntut di luar kemampuaku
Dia yang memahamiku seutuhnya
Dia adalah seluruh kata terindah
Terima kasih telah menjadikanku sebagai diriku
Terima kasih telah mengembangkanku
Terima kasih telah memperindah hari-hariku
Terima kasih telah membahagiakan hidupku
Terima kasih telah memembangkitkan semangatku
Terima kasih telah menuntunku untuk selalu berterima kasih
Terima kasih......
Meski kata tak pernah cukup mewakili rasa
Namun keindahannya tak mengurangi makna
Dan maknanya tidak mengerdilkan niatku
Terima kasih,
Hanya ada satu
Lailahaillallah
yudie matta
301210
10:09PM
@room
Bicara Waktu

Hari ini Kamis tanggal 25 November 2010. Banyak yang merasa, bukan hari yang istimewa. Kamis yang biasa, karena kamis bisa dirasa pada setiap minggunya. Bukan tanggal 25 yang istimewa, karena setiap bulan punya tanggal 25. Bukan pula November yang istimewa, karena dari tahun ke tahun akan selalu ada bulan November. Dan juga bukan tahun yang istimewa, karena sebentar lagi tahun ini juga akan berlalu. Jadi, ada apa dengan Kamis, 25 November 2010?
Memang, secara terpisah hari dan tanggal tersebut tidaklah istimewa. Sama dengan pada umumnya. Namun ketika dia menjadi satu, akan menjadi istimewa. Istimewa buatku, belum berarti istimewa juga buat orang lain. Meskipun dia merasakan hal yang sama denganku saat ini.
Ini adalah hari terakhirku bekerja di Batam. Dalam dua hari ke depan, aku akan pindah ke kota lain. Bukan perpindahan yang aku anggap sebagai hal yang istimewa. Tetapi lebih pada kesempatan yang telah aku raih sampai sejauh ini. Sementara, mungkin, orang lain menganggapnya istimewa karena kota tujuan yang lebih istimewa. Atau pekerjaan baru yang lebih istimewa. Mungkin ada orang istmewa yang akan ditemuinya disana. Dan banyak alasan lain yang menjadikannya istimewa. Jadi, sebenarnya istimewa hanyalah cara kita memaknai keadaan yang ada.
Life is about learning and moving on. Itu yang senantiasa aku pegang. Aku sudah banyak mendapatkan pelajaran dari satu kota dan kota yang lain. Pelajaran yang mungkin sama, atau berbeda sama sekali. Yang paling penting, mereka bisa membuatku semakin berkembang dalam pemikiran dan bersikap.

Nah, di Batam pun demikian. Tuhan telah menuliskan garis hidupku untuk dijalani di Batam, meskipun itu tidak lama. Karena sebelum aku sampai di Batam, tidak ada terlintas di benak untuk berkarir di kota ini. Tetapi aku rasa ada rencana besar yang memang sudah Tuhan persiapkan untukku, sampai akhirnya aku di Batam.
Menyesal? Tidak sama sekali. Karena tidak ada manfaat dari penyesalan. Malah hanya akan membuang banyak energy. Bahagia? Aku tidak bisa meyakini sepenuhnya. Akan tetapi yang paling penting: Aku Mensyukurinya. Mulai dari pekerjaan, jabatan, rekan kerja, atasan, rumah singgah, teman-teman dekat, teman sharing, dan banyak teman lainnya yang sudah selayaknya aku syukuri. Mereka telah menjadi bagian dalam proses perkembangan masa depanku. Alhamdulillah, terima kasih teman……….
Future will always be mystery. Itulah indahnya hidup, karena kita tidak pernah tahu esok akan seperti apa. Coba bayangkan, jika Anda tahu segala hal setiap waktu. Apakah hidupmu akan indah? Sama halnya dengan menonton film yang sudah Anda tonton sebelumnya. Apakah Anda menikmatinya. Ya, itulah keindahan hidup. Penuh dengan misteri. Apa yang akan terjadi kemudian adalah kesempatan untuk beryukur di waktu setelahnya. Jadi, bukankah akan semakin banyak kesempatan bagi kita untuk bersyukur?
Dan karena ketidaktahuanku akan hari esok itulah, aku membekali diri dengan rasa syukur. Karena itulah bekal yang membuat hidupku menjadi indah. Selayak Anda membawa kacamata 3D ketika hendak pergi menonton film dengan efek 3D. Keindahannya akan nampak begitu jelas. Nah, apakah Anda sudah membekali diri dengan rasa syukur untuk menatap hari esok?Harapan setiap orang ketika memulai sesuatu yang baru adalah mendapatkan yang lebih baik. Tentu, aku juga berharap demikian. Namun, bukan berarti aku menilai buruk dengan yang ada sekarang. No…… bukankah tadi aku sudah bilang bahwa Life is about learning and Moving on? Tidak ada baik dan buruk selama Anda menganggapnya sebagai sebuah pelajaran. Yang dianggap baik, akan senantiasa digunakan dan dikembangkan agar dapat yang lebih baik. Dan yang dianggap buruk, akan digunakan untuk memperbaiki diri dalam perkembangan. Intinya sama-sama belajar, bukan? Jadi, kenapa sibuk dengan label-label seperti itu? Yang pasti, sudah banyak pelajaran yang didapatkan, dan bisa berkembang bersamanya. Adakah yang lain?
Ngomong-ngomong tentang harapan, pasti tak lepas dari awal-akhir dan baru-yang berhubungan erat dengan waktu. Hanya waktulah yang bisa memutuskan awal menjadi akhir, dan baru menjadi lama. Kita, sama sekali, tidak punya kuasa untuk menghentikannya. Dan satu hal yang bisa kita lakukan untuk menyikapinya adalah: memanfaatkannya.Apakah Anda pernah punya baju baru yang tersimpan lama di lemari. Mulai sejak beli, dan masih ada bandrol harganya, Anda simpan dalam lemari. Anda merasa sayang memakainya karena masih baru, dan belum ada kesempatan khusus yang mengharuskan Anda memakainya. Namun ketika tiba giliran Anda untuk waktunya, baju baru itu sudah tidak muat lagi. Sayang bukan?
Waktu memang hanya bisa dikalahkan dengan pemanfaatan. Karena waktu akan selalu berjalan maju. Tidak ada kata mundur untuk waktu. Sehingga ketika kita bisa memanfaatkan waktu, kemudian mengalahkannya. Kita akan menjadi orang yang maju. Sebuah logika yang sederhana, bukan?
Yudie Matta
25-11-10
last day@office
07 November 2010
Refleksi 711: Ingatkan Aku!!!

Ada seorang kawan yang hendak pindah kerja ke kota lain, dan dia update status di facebook: “Goodbye all my friends, I’m gonna miss you all.” Bukan hanya satu atau dua orang yang melakukan hal serupa. Ada beberapa kawan yang update status dengan maksud kurang lebih sama. Mereka meninggalkan tempat lama untuk sebuah harapan baru.
Jika kita kembali melihat ke kehidupan ini, sebenarnya awal-akhir, baru-lama, tua-muda di hampir semua lini kehidupan mempunyai fase ini. Ada bayi yang baru lahir, ada pula orang yang dimakamkan karena nyawa meninggalkan raganya. Ada pagi, sementara di belahan bumi lain sudah beranjak petang. Ada yang menangis, ada pula yang tertawa. Ada yang merayakan ulang tahun, ada pula yang memperingati hari kematian. Itulah kehidupan.
Beberapa menit yang lalu, aku juga merasakan transisi itu. Aku meninggalkan twenty something untuk sebuah awal.
Jadi teringat pesan singkat seorang sahabat dekat menyampaikan “Enjoy your blast” yang terbaca oleh benakku seperti “Enjoy your last twenty something”, dan itulah yang menginspirasiku menuliskan refleksi ini.
Sebenarnya, ketika kita meninggalkan sesuatu, pada dasarnya kita memasuki gerbang untuk suatu yang baru. Aku sengaja menggunakan kata ‘BARU’ disini, karena the future will always be mystery, masa depan akan selalu menjadi misteri. Siapapun tidak akan bisa tahu apa yang akan terjadi pada menit-menit yang akan datang. Dan kata ‘BARU’ selalu identik dengan sebuah pengharapan. Sehingga ketika aku menggunakan ‘memasuki gerbang untuk suatu yang baru’, itu adalah sebuah motivasi bahwa di menit-menit selanjutnya akan mendapatkan berkah dan pengalaman yang lebih, dalam banyak hal, dari sebelumnya.
Bukan mudah memasuki sesuatu yang baru, pun bukan suatu yang susah. Dia hanya bergantung dari bagaimana kita mempersiapkan diri. Ketika aku menyampaikan akan meninggalkan twenty something, secara bebas aku terjemahkan telah memiliki pengalaman sepanjang umurku. Yang menjadi pertanyaan, pengalaman seperti apa yang sudah membekali diriku memasuki suatu yang baru?
Sebuah serial garapan Hollywood sempat menyadarkanku. Aku akan coba menceritakan sekilas. Jadi, di dalam keluarga hiduplah seorang kakek yang senantiasa meminta anak dan cucunya untuk membunuh dirinya. Tentu, anak maupun cucunya menolak keinginannya tersebut. Usia kakek ini sudah sangat renta. Dan diceritakan dalam serial tersebut, sudah tidak ada lagi penghuni kota yang seumuran dengan dia. Mungkin dia adalah orang tertua di dalam kota itu. Yang menarik buatku, dan kemudian menyadarkanku adalah: ketika sang kakek mencoba menjelaskan kepada cucunya yang telah menolak untuk membunuhnya. Dia bilang suasana hatinya begitu hampa, apalagi ketika menyaksikan satu per satu kawan atau saudaranya telah tiada. Beban itulah yang menurut dia terlalu berat untuk ditanggung.Karena itulah, ketika ada kawan berulang tahun, aku selalu menghindari doa semoga panjang umur. Karena tidak semua orang ternyata menikmati panjangnya umur. Dan sebenarnya esensi hidup di dunia bukan dari panjangnya umur. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada itu. Apakah itu?
Sebenarnya jawaban pertanyaan tersebut sudah coba ditampakkan dalam beberapa kejadian. Coba perhatikan bagaimana ilmu pengetahuan menjawab permasalahan yang kemudian jawabannya kembali pada alam. Ilmu pengetahuan mengakui bahwa bentuk segi enam atau hexagonal adalah bentuk yang paling optimal untuk penyimpanan. Karena bentuk heksagonal yang simetris, jika digabungkan akan menghasilkan kombinasi ruang guna yang sempurna, tidak menghasilkan ruang-ruang sisa yang tak berguna. Lebih jauh, bentuk ruang dengan penampang segitiga atau segiempat bisa jadi juga menghasilkan kombinasi yang optimal. Walaupun demikian, bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat bentuk-bentuk ini ternyata lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk membuat bentuk ruang dengan penampang heksagonal. Ruang penyimpanan berbentuk heksagonal, ternyata membutuhkan bahan baku lilin paling sedikit, dengan daya tampung terbesar. Dan jawaban tersebut terisnpirasi dari sarang lebah. Ilmu pengetahuan juga mengakui bahwabahan sutera yang terbuat dari jaring laba-laba lebih kuat dan ringan dari baja. Meski Nampak sederhana, ternyata mereka mempunyai kontribusi yang besar buat yang lain. Atau aku bisa mengalihbasakan bahwa mereka telah memberikan nilai dan manfaat bagi yang lain.
Dan jika bicara tentang manfaat, tidak ada salahnya kita kembali pada masa ketika duduk di Sekolah Dasar. Dimana kita diajari rantai makanan: rumput dimakan oleh sapi. Sapi dimakan oleh manusia. Dan manusia mati dimakan hewan mikro yang hidup di tanah, yang menjadikan tanah subur. Tanah subur inilah yang membuat rumput tumbuh sehat. Begitu seterusnya. Masing-masing mempunya manfaat pada porsinya sendiri-sendiri.

Nah, jika dalam rantai makanan tersebut manusia mati yang sudah jelas memberikan manfaat. Bagaimanakah dengan manusia yang masih hidup? Apakah kamu mau kalah dengan rumput yang sehat dan segar, merelakan dirinya (baca: member manfaat) dimakan oleh sapi? Sapi juga pasti akan dipilih yang sehat dan segar untuk disembelih dan dimakan manusia.
Aku bukanlah guru spiritual. Kapasitas spiritualku pun tidak lebih baik darimu. Namun, sebagai sesama manusia sudah selayaknya kita untuk saling berbagi. Berbagi rasa, pengetahuan dan ilmu. Jadi, ingatkan aku jika dalam tulisan ini ada kekliruan. Ingatkan aku jika ada salah dalam lisan, perbuatan maupun tulisan. Ingatkan aku bahwa masih ada yang jauh lebih baik dariku. Ingatkan aku bahwa masih banyak yang kurang beruntung dibandingkan aku. Ingatkan aku untuk senantiasa membantu sesama. Ingatkan aku untuk selalu ingat padaNya. Ingatkan aku untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Ingatkan aku untuk menjaga tali silaturahmi. Ingatkan aku untuk senantiasa menjadi baik. Ingatkan aku untuk berterima kasih. Ingatkan aku untuk selalu bersyukur. Ingatkan aku untuk senantasa menjunjung kejujuran. Ingatkan aku untuk peduli sesama. Ingatkan aku untuk berlapang dada. Ingatkan aku untuk membuang jauh kesombongan dalam diri. Ingatkan aku untuk meminta maaf jika berbuat salah. Dan bersama mari kita saling mengingatkan untuk senantiasa memberi arti dan manfaat bagi sesama.
Yudie Matta
Listening Farah
composed by Mohamed Naiem
07-11-2010
01:58
05 November 2010
Aku dan Kamu
Aku adalah gajah
Yang tangguh dan perkasa
Tanpa belalai, gading dan telinga besar
Aku adalah lilin
Di tengah2 gulita malam
Dengan nyala satu titik saja
Aku adalah sebuah buku
Banyak kata mengisi tiap halaman
Namun tiada berhubungan satu dan yang lain
Aku adalah bunga
Tanpa warna
Tanpa aroma
Aku adalah sinar
Yang bisa menerangi dalam kegelapan
Hadir di tengah terik siang
Aku adalah manusia
Yang penuh cinta dan kasih
Tanpa seorang kekasih
Kekeringan ini
Kehampaan ini
Ketiadaan ini
Senantiasa hadir
Saat ku mengajukan tanya
Akan arti rasa
Aku tiada sesiapa
Sampai kau hadir dan memberi makna
yudie matta
05-11-10
last day @office
Yang tangguh dan perkasa
Tanpa belalai, gading dan telinga besar
Aku adalah lilin
Di tengah2 gulita malam
Dengan nyala satu titik saja
Aku adalah sebuah bukuBanyak kata mengisi tiap halaman
Namun tiada berhubungan satu dan yang lain
Aku adalah bunga
Tanpa warna
Tanpa aroma
Aku adalah sinar
Yang bisa menerangi dalam kegelapan
Hadir di tengah terik siang
Aku adalah manusia
Yang penuh cinta dan kasih
Tanpa seorang kekasih
Kekeringan iniKehampaan ini
Ketiadaan ini
Senantiasa hadir
Saat ku mengajukan tanya
Akan arti rasa
Aku tiada sesiapa
Sampai kau hadir dan memberi makna
yudie matta
05-11-10
last day @office
Subscribe to:
Posts (Atom)