"Satu setengah saja, pak," jawab seorang ibu paruh baya dengan nada berat dan lirih.
"Mana bisa? Ibu minta satu saja saya masih mikir-mikir bu."
"Masa satu tidak bisa juga pak?"
"Delapan ratus. Kalau ibu tak mau, ambil lagi kalungnya."
Ibu terdiam sejenak. Dipandanginya kalung dalam genggaman bapak berperawakan keras. Matanya berkaca-kaca.
"Nanti bisa saya tebus balik kan pak?"

"Saya tidak bisa memastikan hal itu bu."
"Bisa bapak simpan dulu, sampai saya tebus balik?"
"Ibu mau jual atau gadaikan kalung ini?"
"Itu kalung pemberian almarhum Ibu saya pak."
"Kenapa Ibu jual?"
"Saya butuh uang pak."
"Saya juga butuh uang bu."
"Saya mohon pak..... bulan depan saya akan tebus balik. Bisa kan pak?"
"Harganya sudah berbeda lho bu kalau bulan depan."
"Yang penting saya bisa tebus balik kalung itu pak."
Bapak berperawakan keras tidak menaggapinya. Diberikannyaa sejumlah uang ke Ibu. Kemudian, bapak itu sibuk membungkus kalung, memberi tulisan pada plastik pembungkus dan menyimpannya dalam brankas.
Ibu menerima uang tersebut, tetapi hatinya masih tertinggal di kalung yang telah terbungkus plastik. Kakinya menjadi sulit beranjak.
"Bu, uangnya sudah kan?"
Ibu tersentak dari lamunannya. Dan perlahan meninggalkan kalung pemberian Ibu dan hatinya bersama bapak berperawakan keras.
* * *
Seorang pemuda sibuk menata baju dalam tas. Sesekali dia melirik jam yang diletakkan di atas meja belajarnya. Baju-baju yang semula tersusun rapi di almari, sekejap sudah berpindah di dalam tas. Meski tas itu nampak kecil, tetapi bisa menampung hampir semua baju di dalam almari.
“Dik, sudah siap berangkat?” Tanya Ibu sembari mengetuk pintu dengan perlahan
“Iya bu, sudah siap berangkat. Tinggal nunggu Ibu aja.”
“Ini, untuk bayar daftar ulang, ongkos dan makan Andik beberapa hari,” Ibu itu mengulurkan amplop yang tertutup rapi.
“Terima kasih Ibu. Semoga ini benar-benar bermanfaat buat Andik, agar bisa segera membantu Ibu,” segera Andik memeluk Ibunya.
“Maafkan Andik bu, kalau masih menjadi beban Ibu,” air mata Andik menetes di pundak Ibu.
“Tidak usah bilang seperti itu Dik. Sudah menjadi tanggung jawab Ibu.”
“Terima kasih Ibu…”
“Jaga diri baik-baik disana ya, Dik…”
~yudie~
Batam, 2 Januari 2010




