31 August 2010

L.O.V.E

"Mau dijual berapa, bu?" tanya seorang lelaki berperawakan keras dengan wajah tidak bersahabat.
"Satu setengah saja, pak," jawab seorang ibu paruh baya dengan nada berat dan lirih.
"Mana bisa? Ibu minta satu saja saya masih mikir-mikir bu."
"Masa satu tidak bisa juga pak?"
"Delapan ratus. Kalau ibu tak mau, ambil lagi kalungnya."

Ibu terdiam sejenak. Dipandanginya kalung dalam genggaman bapak berperawakan keras. Matanya berkaca-kaca.

"Nanti bisa saya tebus balik kan pak?"
"Saya tidak bisa memastikan hal itu bu."
"Bisa bapak simpan dulu, sampai saya tebus balik?"
"Ibu mau jual atau gadaikan kalung ini?"
"Itu kalung pemberian almarhum Ibu saya pak."
"Kenapa Ibu jual?"
"Saya butuh uang pak."
"Saya juga butuh uang bu."
"Saya mohon pak..... bulan depan saya akan tebus balik. Bisa kan pak?"
"Harganya sudah berbeda lho bu kalau bulan depan."
"Yang penting saya bisa tebus balik kalung itu pak."

Bapak berperawakan keras tidak menaggapinya. Diberikannyaa sejumlah uang ke Ibu. Kemudian, bapak itu sibuk membungkus kalung, memberi tulisan pada plastik pembungkus dan menyimpannya dalam brankas.

Ibu menerima uang tersebut, tetapi hatinya masih tertinggal di kalung yang telah terbungkus plastik. Kakinya menjadi sulit beranjak.

"Bu, uangnya sudah kan?"

Ibu tersentak dari lamunannya. Dan perlahan meninggalkan kalung pemberian Ibu dan hatinya bersama bapak berperawakan keras.

* * *

Seorang pemuda sibuk menata baju dalam tas. Sesekali dia melirik jam yang diletakkan di atas meja belajarnya. Baju-baju yang semula tersusun rapi di almari, sekejap sudah berpindah di dalam tas. Meski tas itu nampak kecil, tetapi bisa menampung hampir semua baju di dalam almari.

“Dik, sudah siap berangkat?” Tanya Ibu sembari mengetuk pintu dengan perlahan
“Iya bu, sudah siap berangkat. Tinggal nunggu Ibu aja.”
“Ini, untuk bayar daftar ulang, ongkos dan makan Andik beberapa hari,” Ibu itu mengulurkan amplop yang tertutup rapi.
“Terima kasih Ibu. Semoga ini benar-benar bermanfaat buat Andik, agar bisa segera membantu Ibu,” segera Andik memeluk Ibunya.
“Maafkan Andik bu, kalau masih menjadi beban Ibu,” air mata Andik menetes di pundak Ibu.
“Tidak usah bilang seperti itu Dik. Sudah menjadi tanggung jawab Ibu.”
“Terima kasih Ibu…”
“Jaga diri baik-baik disana ya, Dik…”



~yudie~
Batam, 2 Januari 2010

Senandung Manusia

Seandainya aku adalah bunga terindah
Tentu aku mempesona tiap mata yang menatap
Senantiasa menarik perhatian dengan aromaku
Dan selalu mendapat segala puji yang ada

Seandainya aku adalah burung terindah
Kan ku hiasi alam dengan dendang merduku
Ku manja mata yang memandang dengan kelentikan bulu indahku
Serta kupersembahkan tarian yang akan mempesonamu

Seandainya aku adalah tempat terindah
Tiada akan ada ujung bagimu
Semua adalah indah
Kenyamanan dan ketentraman senantiasa terasa
Tiada gelap, tiada malam
Yang ada hanyalah bahagia

Seandainya aku bukan manusia
Dan berhenti menghitung kekuranganku
Tak lagi berharap lebih dari siapa dan apapun
Tiada lagi atasan-bawahan
Bukan lagi aku-kamu
Sehingga antara kita hanyalah satu
Yang senantiasa haus akan bahagia bersama

Dan ternyata aku hanyalah manusia
Yang lebih sempurna daripada apapun terindah di dunia
Dan masih selalu merasa kurang dengan semua
Dan jauh dari bahagia

Seharusnya aku pahami semua
Meski bunga terindah
Tiada bisa dia berpindah, merasakan tempat terindah
Dan melihat, juga mendengar nyanyian burung terindah

Meski aku tempat terindah
Hanya bisa merasa satu area
Tiada berpindah

Meski aku menjadi burung terindah
Yang bisa merasa bunga dan tempat terindah
Tetapi tidak bisa dibanding dengan manusia
Yang mempunyai jari, kaki, hati dan indahnya pikiran

Jika memang semua punya kekurangan
Mengapa aku gemar sekali menghitungnya?
Apakah aku manusia biasa?
Apakah kebiasaan manusia seperti itu?



Kumencari jawab dalam tanya
Berharap ujung yang indah kan kuterima
Berangan bahagia kan kudapat
Dan tanyaku berujung pada pasrah
Kepasrahan kepadaNya
Hanya Dia yang memahami keindahan dalam arti yang sejati
Dan hanya Dia yang mampu menempatkan segalanya
Dalam kapasitas keindahan dan kebahagiaan sesungguhnya

Sekarang..............
Apakah kau masih meragukanNya?



Batam, 23 Agustus 2010
~yudie~

09 August 2010

Doaku


Dalam keheningan, aku menyapaMu. Meskipun ku tahu, diriku tidaklah pantas menyebut namaMu. Namun aku juga tahu, kelapangan pintu maafMu sangatlah besar, jauh diluar jangkauanku sebagai ciptaanMu.

Dalam kesunyian aku menyadari kekuranganku. Yang senantiasa menuntutMu, tanpa memberikan yang terbaik untukMu. Dan senantiasa mengeluh, selalu merasa kurang. Padahal Engkau menyiapkan yang terbaik untukku.

Dalam kehampaan aku tersadar. Aku bukanlah yang terbaik diantara yang terburuk. Pun bukanlah yang terjelek diantara yang paling baik. Sampai akhirnya aku sadari: Aku tiada punya arti, tanpa kasihMu. Aku tiada bermakna, tanpa berkahMu. Dan tiada terarah, tanpa petunjukMu.

Ya Allah…… perkenankan hambaMu ini mempersembahkan sujud keihklasan untuk setiap rahmat yang tercurah. Perkenankan hambaMu ini menyampaikan doa-doa dalam setiap nafas untuk setiap ampunan yang Kau beri. Dan perkenankan hambaMu ini memuji namaMu yang kutitipkan dalam tiap aliran darahku. Sehingga aku bisa menjadi makhlukMu yang senantiasa bersyukur. Menjadi hambaMu yang senantiasa merinduMu. Menjadi ciptaanMU yang senantiasa memuji kebesaranMU.

Amin….


~yudie matta~
Rindu Ramadhan
Batam, August 9th 2010

06 August 2010

Kebahagiaan dalam Antrian


Matahari tengah beranjak naik. Teriknya bukan kepalang. Meski waktu masih menunjukkan pukul Sembilan pagi, tapi rasa panas matahari mampu menembus jaket. Untuk mengenyahkan rasa panas dan gerah, Sardi sedapat mungkin menggerakkan badannya, mengelap keringatnya dan berlindung pada bayangan orang yang berdiri di depannya.

Nampak antrian masih panjang. Sardi menghitung masih ada tiga puluh orang yang harus dilaluinya untuk sampai pada posisi paling depan.

Di posisi terdepan, seorang Bapak tua berkaca mata. Hampir seluruh rambutnya adalah uban. Beberapa kali dia melepas kaca matanya dan mengelapnya dengan baju lusuhnya. Baju bercorak kotak-kotak, pastinya semula berwarna hitam. Kini sudah berubah menjadi abu-abu. Di bagian leher dan tangan, warna abu-abu itu semakin mendekat ke putih.

Meski warna baju pudar, tersirat rona bahagia di wajah Bapak itu. Matanya berbinar sejak dia masih di posisi ketiga dari yang terdepan. Sesekali senyum ditebar ke orang-orang di sekitarnya, meski tak ada satu pun yang dikenal. Inilah pencapaian tertinggi di hari ini, berada di posisi terdepan antrian.

Sardi memperhatikan benar Bapak itu. Kebahagiaannya bisa dirasakan Sardi, meski harus melewati tiga puluh tubuh. Kebahagiaan yang diawali dengan degupan jantung semakin kencang. Terangkatnya ujung-ujung bibir menjadi sebuah senyuman. Dada yang terlapangkan oleh keikhlasan, dan melihat orang-orang sekitar adalah saudara yang berarti dalam hidup.

Sardi terdiam. Mencoba meresapi rasa itu. Mencermati setiap gerak Bapak itu.

Ini rasa yang belum pernah aku rasakan,” gumamnya.

Haruskah aku menunggu melewati ketiga puluh orang ini dahulu untuk merasakannya?

Sardi mulai bertanya-tanya.

……………………………Sardi terdiam………………………………

Pikirannya melayang mencari jawab. Dan matanya berkelana menjawab keresahan.

………………………tubuhnya mematung…………………………

Hingga ia dikejutkan dengan kedatangan seorang ibu dengan rambut acak-acakan. Wajahnya ramah menyapa Sardi. Kemudian membenarkan daster yang dipakainya. Kembali tersenyum ramah pada Sardi. Menata kunciran rambutnya. Dan masih memasang senyum ramah pada Sardi.

Sardi senantiasa membalas keramahan ibu itu dengan senyuman. Tiba-tiba, tanya akan perasaan pada Bapak di barisan depan mulai tergantikan dengan senyum ramah Ibu yang baru datang. Ia suka suasana hatinya. Dadanya terlapangkan dengan keikhlasan, yang membuatnya selalu membalas keramahan senyum Ibu dengan keikhlasan senyum. Ujung-ujung bibir yang mengembang menjadi sebuah senyuman indah. Dan degupan jantung yang berirama menyanyikan kebahagiaan dan ketenangan.

Sama seperti yang dirasa ketika memperhatikan Bapak di barisan paling depan.

…………………………………hening…………………………………

Sardi tersadar, perasaan terindah bukanlah dengan berada di barisan paling depan antrian. Bukan pula mendapat jatah sembako, meski berhari-hari dia tidak makan layak. Kebahagiaan itu sudah ada dalam dirinya. Ia berdiam disana untuk disapa, dan dibukakan jalannya. Mengapa selalu menunggu alasan untuk berbahagia?

Sardi pun mengembangkan senyuman pada pikirannya sendiri.


At my desk,
office – Batam
August 6th 2010