Mentari mulai merangkak naik. Cahaya kuningnya menyelinap di sela-sela rimbun dedaunan. Hangat sinarnya menyapa kulit-kulit yang riuh dalam aktifitas. Ini pagi yang cerah. Pagi yang membangkitkan selera untuk beraktifitas apa saja. Pagi yang selalu memberi hangat. Selalu memberi terang sinar yang nyaman. Selalu konsisten, tanpa diminta dan diperintah.
Nampak di sebuah halte bis, seorang wanita muda duduk tenang. Penampilannya sederhana, enak dipandang mata. Paduan kaos ketat warna putih dibalut kalung mutiara hitam bertumpuk dan jas hitam, dipadankan dengan rok hitam selutut. Make up nya tidak berlebihan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menawan.
Ia sibuk membalas pesan BBM (BlackBerry Message). Matanya senantiasa tertuju pada layar Blackberry. Sesekali tangan kanannya menyentuh tas Chanel hitam di sampingnya. Hanya untuk memastikan bahwa tas itu masih di tempat yang sama.
“Permisi mbak.” Seorang pria muda berpakaian rapi mengganggu konsentrasinya. Ia tidak menjawab pertanyaan pria itu. Hanya mengernyitkan dahi, seolah menunggu kata-kata berikutnya keluar dari mulut pria itu.
“Boleh saya duduk di sebelah mbak?”
Ia segera menoleh ke tempat kosong di sampingnya.
Sang pria senyum, matanya dialihkan ke tas Chanel hitam, dan tersenyum lagi.
Ia menyadari senyuman pria itu. Dipindahkannya tas Chanel hitam di pangkuannya.
“Terima kasih,” sang pria tersenyum dan menoleh ke wajahnya.
“Sendirian aja, mbak?”
Ia tersentak dengan pertanyaan sang pria. Segera ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke pria. Ia mengangguk, kemudian memasang ekspresi yang seakan menunggu serangkaian pertanyaan selanjutnya.
“Emang mau kemana, kerja ya?”
Ia sedikit mengangguk, dengan ekspresi yang sama: menunggu pertanyaan berikutnya.
“Daritadi gak ada suaranya, hanya mengangguk-angguk saja.”
Ia kaget dengan pertanyaan ini. Dipasangnya senyum ramah, “Itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu kan?”
“Iya sih. Mmm…. Maaf ya mbak kalo ganggu.”
Ia memaksa senyum ramah ke arah pria. Kemudian kembali sibuk dengan Blackberry-nya.
“Tempat kerjanya dimana, mbak?”
Tanpa menoleh, ia menjawab, “Kuningan.”
“Lumayan juga ya kalau dari sini.”
Ia melebarkan mulutnya, seolah memberi tanda ‘iya, kira-kira begitulah’.
“Mbak disini nunggu bis, taxi atau jemputan?”
Pertanyaan ini mengganggunya. Ia merasa pria di sampingnya akan terus mengajukan pertanyaan, maka dimasukkannya Blackberry ke dalam tas Chanel hitam.
“Gue hanya menikmati pagi di sini.”
“Enggak kerja, mbak?”
“Kerja.”
“Trus gak berangkat kerja?”
“Berangkat kemana?”
“Tadi katanya kantornya di Kuningan.”
“Ohh….gue tidak bekerja seperti di kantoran. Hanya ke kantor setelah semua pekerjaan siap saja.”
“Bidang apa sih, mbak?”
“Is it important to you?”
“Ya…sepertinya pekerjaan mbak menarik.”
Sejenak ia mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.
“Kalau tidak keberatan sih mbak.”
Pertanyaan ini hanya dijawab dengan senyum datar.
“Maaf ya mbak kalau tidak berkenan. Aku cuma pengen ngajak ngobrol mbak nya saja. Maklum mbak, aku ada dua interview dalam satu hari ini. Agak grogi dan bingung harus jawab apa ntar.”
Ia tersenyum, mencoba memahami keadaan pria di sampingnya. Tangannya mulai merogoh tas Chanel hitam, mencari Blackberry.
“Ngomong-ngomong, namaku Joni. Mbaknya siapa namanya?”
Ia tersentak dengan pertanyaan ini. Ia berhenti sejenak, dan menarik nafas.
“Gue Shanty.”
“Salam kenal ya mbak Santi,” pria itu menawarkan jabat tangan.
“Shanty, not Santi. S-H-A-N-T-Y, Shanty. You should say ‘SH’, not just ‘S’.”
“SHANTY? Bener begitu, mbak?”
Shanty tersenyum dan membalas tawaran jabat tangan Joni.
“Thanks Jhonny. Also with ‘H’? JHONNY or just JONI?”
“Joni mbak, gak pake ‘H’.”
“Ow, oke: Joni, nice to meet you, anyway.”
“Sama-sama mbak. Bahasa Inggris mbak bagus banget ya.”
“It’s just a common conversation, right?”
Joni mengangguk dengan semangat.
“Mbak Shanty emangnya kerja bidang apa sih, kok bahasa Inggrisnya lancer banget gitu.”
“Just called me Shanty.”
“Gak enak lha mbak.”
“Shanty aja cukup.”
“Dikiranya ntar aku gak sopan. Mbak Shanty umur berapa coba?”
Raut Shanty mendadak berubah. Nafasnya terhenti di tengah tenggorokan.
“Kalo aku 21 tahun, mbak.”
Shanty sudah kehilangan selera meneruskan perbincangan ini.
“Ok, I’ve got to go. Thanks Joni.”
Shanty segera menghentikan taxi, dan menghilang begitu saja bersama taxi.
*****
“Ibu Sonia?”
“Iya.”
“Silahkan, bu.”
Sonia mengikuti gadis berperawakan kecil dengan blazer serba ungu.
“Bu Sonia tunggu disini sebentar ya, saya akan informasikan bahwa ibu sudah disini.”
“Oke, terima kasih banyak.”
Sonia melihat sekeliling. Sebuah meja besar dikelilingi banyak kursi. Ia duduk di salah satu ujungnya. Dinding ruangan dicat putih bersih. Tidak banyak hiasan dinding yang dipasang. Setelah diamati, hanya ada kebijakan mutu perusahaan yang dibingkai bersandingan dengan bingkai visi dan misi perusahaan. Jam dinding menghias di sisi tembok tak berjendela. Dipandanginya jam dinding itu. Semakin lama, Sonia semakin jelas mendengar laju jarum detik yang menapak.
“Terima kasih sudah menunggu.”
Sonia tersentak. Dilihatnya ada 3 orang memasuki ruangan dan duduk di seberangnya.
“Baiklah, langsung saja kita mulai ya.”
“Iya, pak.” Sonia mengumpulkan kembali kesadarannya.
“Sebelumnya, perkenalkan nama saja Joko Heriyanto – Manager Media Communication. Di sebelah kiri saya, ada bapak Ardianto – Manager HRD, dan di sebelahnya, bapak Kurniawan Agung Yulianto – Manager Corporate Affairs.”
“Terima kasih, pak. Senang bertemu dengan Bapak-bapak sekalian.”
“Sekarang ceritakan tentang dirimu.”
“Baik, terima kasih banyak Bapak-bapak sekalian atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Nama saya Sonia Hutami, 37 tahun, anak ketiga dari keluarga 4 bersaudara di daerah Yogyakarta, dan saya single. Latar belakang pendidikan saya adalah Design Product Industry di ITS Surabaya dengan IPK 3.32 dari skala 4, namun saya berkesempatan untuk mengembangkan diri dan pengetahuan di beberapa bidang, seperti: marketing, graphic design, consultant, dan advertising pada 2 tahun terakhir. Saya suka membaca dan nonton film. Bagi saya, buku dan film adalah sumber inspirasi yang sangat dalam dan luas. Sementara itu dulu perkenalan dari saya, silahkan jika Bapak-bapak ada pertanyaan.”
“Terima kasih banyak Sonia. Menarik sekali perkenalannya.”
“Terima kasih, pak.”
“4 bersaudara ya? Dimana saudaramu?”
“Yang pertama di Jakarta, kedua di Singapore dan adik saya di Dubai.”
“Sudah menikah semuanya?”
“Iya.”
"Bagaimana dengan Sonia sendiri?"
"Maaf, maksud Bapak?"
“Apakah kamu ada rencana menikah.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Alasan pribadi yang tidak saya kehendaki jelaskan disini.”
“Kenapa?”
“Maaf pak, alasan pribadi.”
Kemudian ketiga orang itu berbisik satu sama lain. Menghentikan pertanyaan ke Sonia.
Sonia merasa gelisah dan sudah tidak nyaman berada di ruangan.
“Apakah Sonia tahu posisi apa yang lamar disini?”
“Iya. Advertising Manager.”
“Apakah Sonia juga membaca requirements yang kita minta?”
“Iya. Saya rasa bisa memenuhinya. Bapak-bapak bisa membaca resume saya untuk lebih detail pengalaman dan project yang pernah saya kerjakan.”
“Kita juga mensyaratkan wanita yang sudah atau pernah menikah.”
“Apakah syarat itu adalah keharusan.”
“Iya bagi kami. Karena kami pernah punya pengalaman buruk tentang hal itu.”
“Apakah pengalaman dan kualitas lain tidak dianggap, ketika masih single?”
“Maaf sekali, Sonia.”
“Baiklah, terima kasih Bapak-bapak atas waktu dan kesempatan interview yang diberikan.”
****
Suasana mall tidak begitu ramai. Mungkin jika di hari dan waktu kerja seperti ini, hanya orang yang benar-benar punya tujuan akan pergi ke mall, bukan sekedar windows shopping.
Nampak seorang ibu muda menenteng tas branded tengah mengamati seorang wanita yang sibuk dengan ipad nya sambil berjalan cepat. Dari jauh wanita sibuk itu sudah mencuri pandangannya, dan sekarang berjalan mengarah kepadanya.
"Hilda?"
"Maaf, dengan siapa ya?"
"Gue... Henny."
"Henny?"
"Iye. Elu Hilda Sukmawati kan?"
"Iya, benar. Kamu Henny siapa?"
"Gue Henny temen sekolah elu dulu."
"Henny, temen sekolah?"
"Iye, elu dulu SMA 45 kan? Goue dulu duduk di belakang elu waktu kelas dua."
"Oke... Henny, kamu benar-benar membuatku penasaran."
"Gue inget banget, dulu elu pendiam dan paling suka pergi ke sekolah dengan rambut dikuncir atau kepang dua."
"Henny... oiya.... Henny rambut pendek... Aku ingat sekarang."
"Itu dulu model Demi Moore yang lagi happening say."
"Iya, tau kok. Gimana kabarmu sekarang?"
"Gue baik. Seperti yang elu lihat sekarang, makin sehat. Kalo elu gimana, say? Udah nikah?"
"Aku baik dan sudah menikah."
"Sendirian aja kesini, mana suami elu?"
"Suami ada kerjaan sendiri. Aku kesini juga urusan kerjaan kok."
"Trus anak elu sama pembantu?"
"Kita belum punya anak, Hen. Anakmu sudah berapa?"
"Gue ada dua. Tuh mereka lagi milih sepatu sama mbak nya. Emang udah berapa lama menikah, say?"
"Sudah hampir sepuluh tahun."
"Apa kagak pengen punya anak?"
"Keluarga mana sih yang gak pengen punya anak, Hen?"
"Elu sudah periksa ke dokter kandungan?"
"Sudah sejak lima tahun yang lalu."
"Terus hasilnya gimana?"
"Kok jadinya investigasi gini sih?"
"Ya kan gue temen elu, siapa tau bisa membantu."
"Makasih Hen. Kita sudah mulai bisa menerima semua dan fokus pada kebahagiaan keluarga kita."
"Apa keluarga elu bisa bahagia tanpa anak? Ntar suami elu nyari lagi lho."
"Maaf Hen, lebih baik jangan omongin hal itu."
"Gue ada alternatif yg bagus, siapa tahu cocok buat elu."
"Makasih aja deh Hen."
"Gue beneran say...bentar, sepertinya gue simpen kartu namanya."
"Makasih Hen. Simpen aja kartu namanya. Aku harus buru-buru sudah ditunggu klien. Maaf ya."
***
Suasana mulai riuh. Ada sepuluh ibu yang sedang berkumpul. Sepertinya mereka berbincang, tetapi masing-masing seakan berbicara pada saat yang bersamaan. Entah, jika tidak ada yang menjadi pendengar apakah masih termasuk dalam perbincangan.
"Kemarin saya ketemu anak bu Dhani di mall bersama bapak-bapak."
"Sudah basi bu Ratna. Tiap malam minggu saya lihat Loni jalan dengan bapak-bapak."
"Oooo....namanya Loni. Ya maklum bu, saya tidak pernah ngobrol sama dia. Jangankan ngobrol, melihatnya duduk di teras saja gak pernah."
"Mungkin bukan level nya kali bu bergaul di lingkungan kita."
"Justru lingkungan kita yang tidak mau disamakan dengan dia, bu."
"Ibu pernah perhatikan penampilannya? Sepertinya kayak pajangan toko berjalan."
"Ah, bu Gina bisa aja."
"Benar bu. Saya pernah lihat dia pake gelang berderet, kalung dan anting. Semuanya warna pink, termasuk bajunya."
"Mungkin bu Gina aja yg pengen seperti Loni."
"Ih amit-amit, jangan sampai saya dan keturunan saya seperti dia."
"Saya heran, apa bu Dhani gak tahu kelakuan anaknya ya?"
"Mungkin aja tahu bu, tapi dibiarkan saja."
"Iya bener bu, lha wong suaminya sering pulang malam gak jelas aja, bu Dhani juga baik-baik saja."
"Apa bu Dhani gak pernah mikir atau curiga ya?"
"Emang pak Dhani kerja apa, bu Endang?"
"Saya juga kurang tahu bu. Yang pasti berangkat pagi dengan pakaian rapi dan pulangnya malam."
"Bu Dhani sekarang juga nampak kurusan ya."
"Kebanyakan pikiran bu."
"Kalau saya jadi bu Dhani, lebih baik cerai saja bu."
"Sssttttt.... bu Dhani datang."
"Maaf ibu-ibu saya datang terlambat, apakah arisannya sudah dikocok?"
"Belum. Kita juga baru ngumpul kok."
"Ah bu Dhani masa' masih nungguin uang kecil dari arisan sih."
"Eh bu Dhani, Loni sekarang sudah besar ya?"
"Umur berapa dia bu?"
"Kemarin baru lulus sekolah kan?"
"Kok gak dikuliahin aja sih bu?"
"Atau ikut ayahnya kerja aja."
"Iya, biasanya kalau bawaan dari orang dalam, prosesnya lebih cepat."
"Emang pak Dhani kerja bidang apa sih, bu?"
"Kantornya dimana bu?"
Bu Dhani menanggapi sejumlah pertanyaan tersebut dengan diam dan wajah datar.
"Maaf ibu-ibu, saya kesini untuk arisan. Bu Dahlia, silahkan mulai dikocok arisannya."
"Ah, bu Dhani kita kan bertetangga, jadi wajar kalo tanya masalah keluarga."
"Terima kasih bu atas perhatiannya. Tapi pertanyaannya semua dari sudut pandang yang berbeda, makanya saya tidak bisa jawab pertanyaannya."
"Tinggal dijawab, apa susahnya bu?"
"Maaf bu, saya tidak bisa menjawabnya. Lebih baik membenarkan sudut pandangnya dulu."
"Maksud ibu, kita tidak memahami permasalahan?"
"Maaf ibu-ibu kok jadi membicarakan saya?"
"Baiklah, kita mulai saja arisannya."
Ibu-ibu lantas sibuk dengan kocokan arisan. Riuh lagi, tanpa melirik ke arah bu Dhani. Seakan bu Dhani hadir dalam arisan, tapi tidak berada di tengah-tengah riuh ibu-ibu.
Jakarta, 7 December 2011
wrote with my tablet
yudie matta
note: tulisan ini terinspirasi dari komentar temen2 yg sering mendapatkan pertanyaan2 yg menurut org lain adalah bagian dari kesempurnaan. Sementara bagi yg ditanya, pertanyaan itu seakan pisau yang siap menancap di tubuh. To all, please do respect others in their own perfection.
1 comment:
yup, agree! my perfection is not yur perfection ^_^
Ngga semua pertanyaan harus dijawab kan? (but its very annoying when others ask it again and again and again and again and again...)
Post a Comment