Mentari mulai merangkak naik. Cahaya kuningnya menyelinap di sela-sela rimbun dedaunan. Hangat sinarnya menyapa kulit-kulit yang riuh dalam aktifitas. Ini pagi yang cerah. Pagi yang membangkitkan selera untuk beraktifitas apa saja. Pagi yang selalu memberi hangat. Selalu memberi terang sinar yang nyaman. Selalu konsisten, tanpa diminta dan diperintah.
Nampak di sebuah halte bis, seorang wanita muda duduk tenang. Penampilannya sederhana, enak dipandang mata. Paduan kaos ketat warna putih dibalut kalung mutiara hitam bertumpuk dan jas hitam, dipadankan dengan rok hitam selutut. Make up nya tidak berlebihan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menawan.
Ia sibuk membalas pesan BBM (BlackBerry Message). Matanya senantiasa tertuju pada layar Blackberry. Sesekali tangan kanannya menyentuh tas Chanel hitam di sampingnya. Hanya untuk memastikan bahwa tas itu masih di tempat yang sama.
“Permisi mbak.” Seorang pria muda berpakaian rapi mengganggu konsentrasinya. Ia tidak menjawab pertanyaan pria itu. Hanya mengernyitkan dahi, seolah menunggu kata-kata berikutnya keluar dari mulut pria itu.
“Boleh saya duduk di sebelah mbak?”
Ia segera menoleh ke tempat kosong di sampingnya.
Sang pria senyum, matanya dialihkan ke tas Chanel hitam, dan tersenyum lagi.
Ia menyadari senyuman pria itu. Dipindahkannya tas Chanel hitam di pangkuannya.
“Terima kasih,” sang pria tersenyum dan menoleh ke wajahnya.
“Sendirian aja, mbak?”
Ia tersentak dengan pertanyaan sang pria. Segera ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke pria. Ia mengangguk, kemudian memasang ekspresi yang seakan menunggu serangkaian pertanyaan selanjutnya.
“Emang mau kemana, kerja ya?”
Ia sedikit mengangguk, dengan ekspresi yang sama: menunggu pertanyaan berikutnya.
“Daritadi gak ada suaranya, hanya mengangguk-angguk saja.”
Ia kaget dengan pertanyaan ini. Dipasangnya senyum ramah, “Itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu kan?”
“Iya sih. Mmm…. Maaf ya mbak kalo ganggu.”
Ia memaksa senyum ramah ke arah pria. Kemudian kembali sibuk dengan Blackberry-nya.
“Tempat kerjanya dimana, mbak?”
Tanpa menoleh, ia menjawab, “Kuningan.”
“Lumayan juga ya kalau dari sini.”
Ia melebarkan mulutnya, seolah memberi tanda ‘iya, kira-kira begitulah’.
“Mbak disini nunggu bis, taxi atau jemputan?”
Pertanyaan ini mengganggunya. Ia merasa pria di sampingnya akan terus mengajukan pertanyaan, maka dimasukkannya Blackberry ke dalam tas Chanel hitam.
“Gue hanya menikmati pagi di sini.”
“Enggak kerja, mbak?”
“Kerja.”
“Trus gak berangkat kerja?”
“Berangkat kemana?”
“Tadi katanya kantornya di Kuningan.”
“Ohh….gue tidak bekerja seperti di kantoran. Hanya ke kantor setelah semua pekerjaan siap saja.”
“Bidang apa sih, mbak?”
“Is it important to you?”
“Ya…sepertinya pekerjaan mbak menarik.”
Sejenak ia mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.
“Kalau tidak keberatan sih mbak.”
Pertanyaan ini hanya dijawab dengan senyum datar.
“Maaf ya mbak kalau tidak berkenan. Aku cuma pengen ngajak ngobrol mbak nya saja. Maklum mbak, aku ada dua interview dalam satu hari ini. Agak grogi dan bingung harus jawab apa ntar.”
Ia tersenyum, mencoba memahami keadaan pria di sampingnya. Tangannya mulai merogoh tas Chanel hitam, mencari Blackberry.
“Ngomong-ngomong, namaku Joni. Mbaknya siapa namanya?”
Ia tersentak dengan pertanyaan ini. Ia berhenti sejenak, dan menarik nafas.
“Gue Shanty.”
“Salam kenal ya mbak Santi,” pria itu menawarkan jabat tangan.
“Shanty, not Santi. S-H-A-N-T-Y, Shanty. You should say ‘SH’, not just ‘S’.”
“SHANTY? Bener begitu, mbak?”
Shanty tersenyum dan membalas tawaran jabat tangan Joni.
“Thanks Jhonny. Also with ‘H’? JHONNY or just JONI?”
“Joni mbak, gak pake ‘H’.”
“Ow, oke: Joni, nice to meet you, anyway.”
“Sama-sama mbak. Bahasa Inggris mbak bagus banget ya.”
“It’s just a common conversation, right?”
Joni mengangguk dengan semangat.
“Mbak Shanty emangnya kerja bidang apa sih, kok bahasa Inggrisnya lancer banget gitu.”
“Just called me Shanty.”
“Gak enak lha mbak.”
“Shanty aja cukup.”
“Dikiranya ntar aku gak sopan. Mbak Shanty umur berapa coba?”
Raut Shanty mendadak berubah. Nafasnya terhenti di tengah tenggorokan.
“Kalo aku 21 tahun, mbak.”
Shanty sudah kehilangan selera meneruskan perbincangan ini.
“Ok, I’ve got to go. Thanks Joni.”
Shanty segera menghentikan taxi, dan menghilang begitu saja bersama taxi.
*****
“Ibu Sonia?”
“Iya.”
“Silahkan, bu.”
Sonia mengikuti gadis berperawakan kecil dengan blazer serba ungu.
“Bu Sonia tunggu disini sebentar ya, saya akan informasikan bahwa ibu sudah disini.”
“Oke, terima kasih banyak.”
Sonia melihat sekeliling. Sebuah meja besar dikelilingi banyak kursi. Ia duduk di salah satu ujungnya. Dinding ruangan dicat putih bersih. Tidak banyak hiasan dinding yang dipasang. Setelah diamati, hanya ada kebijakan mutu perusahaan yang dibingkai bersandingan dengan bingkai visi dan misi perusahaan. Jam dinding menghias di sisi tembok tak berjendela. Dipandanginya jam dinding itu. Semakin lama, Sonia semakin jelas mendengar laju jarum detik yang menapak.
“Terima kasih sudah menunggu.”
Sonia tersentak. Dilihatnya ada 3 orang memasuki ruangan dan duduk di seberangnya.
“Baiklah, langsung saja kita mulai ya.”
“Iya, pak.” Sonia mengumpulkan kembali kesadarannya.
“Sebelumnya, perkenalkan nama saja Joko Heriyanto – Manager Media Communication. Di sebelah kiri saya, ada bapak Ardianto – Manager HRD, dan di sebelahnya, bapak Kurniawan Agung Yulianto – Manager Corporate Affairs.”
“Terima kasih, pak. Senang bertemu dengan Bapak-bapak sekalian.”
“Sekarang ceritakan tentang dirimu.”
“Baik, terima kasih banyak Bapak-bapak sekalian atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Nama saya Sonia Hutami, 37 tahun, anak ketiga dari keluarga 4 bersaudara di daerah Yogyakarta, dan saya single. Latar belakang pendidikan saya adalah Design Product Industry di ITS Surabaya dengan IPK 3.32 dari skala 4, namun saya berkesempatan untuk mengembangkan diri dan pengetahuan di beberapa bidang, seperti: marketing, graphic design, consultant, dan advertising pada 2 tahun terakhir. Saya suka membaca dan nonton film. Bagi saya, buku dan film adalah sumber inspirasi yang sangat dalam dan luas. Sementara itu dulu perkenalan dari saya, silahkan jika Bapak-bapak ada pertanyaan.”
“Terima kasih banyak Sonia. Menarik sekali perkenalannya.”
“Terima kasih, pak.”
“4 bersaudara ya? Dimana saudaramu?”
“Yang pertama di Jakarta, kedua di Singapore dan adik saya di Dubai.”
“Sudah menikah semuanya?”
“Iya.”
"Bagaimana dengan Sonia sendiri?"
"Maaf, maksud Bapak?"
“Apakah kamu ada rencana menikah.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Alasan pribadi yang tidak saya kehendaki jelaskan disini.”
“Kenapa?”
“Maaf pak, alasan pribadi.”
Kemudian ketiga orang itu berbisik satu sama lain. Menghentikan pertanyaan ke Sonia.
Sonia merasa gelisah dan sudah tidak nyaman berada di ruangan.
“Apakah Sonia tahu posisi apa yang lamar disini?”
“Iya. Advertising Manager.”
“Apakah Sonia juga membaca requirements yang kita minta?”
“Iya. Saya rasa bisa memenuhinya. Bapak-bapak bisa membaca resume saya untuk lebih detail pengalaman dan project yang pernah saya kerjakan.”
“Kita juga mensyaratkan wanita yang sudah atau pernah menikah.”
“Apakah syarat itu adalah keharusan.”
“Iya bagi kami. Karena kami pernah punya pengalaman buruk tentang hal itu.”
“Apakah pengalaman dan kualitas lain tidak dianggap, ketika masih single?”
“Maaf sekali, Sonia.”
“Baiklah, terima kasih Bapak-bapak atas waktu dan kesempatan interview yang diberikan.”
****
Suasana mall tidak begitu ramai. Mungkin jika di hari dan waktu kerja seperti ini, hanya orang yang benar-benar punya tujuan akan pergi ke mall, bukan sekedar windows shopping.
Nampak seorang ibu muda menenteng tas branded tengah mengamati seorang wanita yang sibuk dengan ipad nya sambil berjalan cepat. Dari jauh wanita sibuk itu sudah mencuri pandangannya, dan sekarang berjalan mengarah kepadanya.
"Hilda?"
"Maaf, dengan siapa ya?"
"Gue... Henny."
"Henny?"
"Iye. Elu Hilda Sukmawati kan?"
"Iya, benar. Kamu Henny siapa?"
"Gue Henny temen sekolah elu dulu."
"Henny, temen sekolah?"
"Iye, elu dulu SMA 45 kan? Goue dulu duduk di belakang elu waktu kelas dua."
"Oke... Henny, kamu benar-benar membuatku penasaran."
"Gue inget banget, dulu elu pendiam dan paling suka pergi ke sekolah dengan rambut dikuncir atau kepang dua."
"Henny... oiya.... Henny rambut pendek... Aku ingat sekarang."
"Itu dulu model Demi Moore yang lagi happening say."
"Iya, tau kok. Gimana kabarmu sekarang?"
"Gue baik. Seperti yang elu lihat sekarang, makin sehat. Kalo elu gimana, say? Udah nikah?"
"Aku baik dan sudah menikah."
"Sendirian aja kesini, mana suami elu?"
"Suami ada kerjaan sendiri. Aku kesini juga urusan kerjaan kok."
"Trus anak elu sama pembantu?"
"Kita belum punya anak, Hen. Anakmu sudah berapa?"
"Gue ada dua. Tuh mereka lagi milih sepatu sama mbak nya. Emang udah berapa lama menikah, say?"
"Sudah hampir sepuluh tahun."
"Apa kagak pengen punya anak?"
"Keluarga mana sih yang gak pengen punya anak, Hen?"
"Elu sudah periksa ke dokter kandungan?"
"Sudah sejak lima tahun yang lalu."
"Terus hasilnya gimana?"
"Kok jadinya investigasi gini sih?"
"Ya kan gue temen elu, siapa tau bisa membantu."
"Makasih Hen. Kita sudah mulai bisa menerima semua dan fokus pada kebahagiaan keluarga kita."
"Apa keluarga elu bisa bahagia tanpa anak? Ntar suami elu nyari lagi lho."
"Maaf Hen, lebih baik jangan omongin hal itu."
"Gue ada alternatif yg bagus, siapa tahu cocok buat elu."
"Makasih aja deh Hen."
"Gue beneran say...bentar, sepertinya gue simpen kartu namanya."
"Makasih Hen. Simpen aja kartu namanya. Aku harus buru-buru sudah ditunggu klien. Maaf ya."
***
Suasana mulai riuh. Ada sepuluh ibu yang sedang berkumpul. Sepertinya mereka berbincang, tetapi masing-masing seakan berbicara pada saat yang bersamaan. Entah, jika tidak ada yang menjadi pendengar apakah masih termasuk dalam perbincangan.
"Kemarin saya ketemu anak bu Dhani di mall bersama bapak-bapak."
"Sudah basi bu Ratna. Tiap malam minggu saya lihat Loni jalan dengan bapak-bapak."
"Oooo....namanya Loni. Ya maklum bu, saya tidak pernah ngobrol sama dia. Jangankan ngobrol, melihatnya duduk di teras saja gak pernah."
"Mungkin bukan level nya kali bu bergaul di lingkungan kita."
"Justru lingkungan kita yang tidak mau disamakan dengan dia, bu."
"Ibu pernah perhatikan penampilannya? Sepertinya kayak pajangan toko berjalan."
"Ah, bu Gina bisa aja."
"Benar bu. Saya pernah lihat dia pake gelang berderet, kalung dan anting. Semuanya warna pink, termasuk bajunya."
"Mungkin bu Gina aja yg pengen seperti Loni."
"Ih amit-amit, jangan sampai saya dan keturunan saya seperti dia."
"Saya heran, apa bu Dhani gak tahu kelakuan anaknya ya?"
"Mungkin aja tahu bu, tapi dibiarkan saja."
"Iya bener bu, lha wong suaminya sering pulang malam gak jelas aja, bu Dhani juga baik-baik saja."
"Apa bu Dhani gak pernah mikir atau curiga ya?"
"Emang pak Dhani kerja apa, bu Endang?"
"Saya juga kurang tahu bu. Yang pasti berangkat pagi dengan pakaian rapi dan pulangnya malam."
"Bu Dhani sekarang juga nampak kurusan ya."
"Kebanyakan pikiran bu."
"Kalau saya jadi bu Dhani, lebih baik cerai saja bu."
"Sssttttt.... bu Dhani datang."
"Maaf ibu-ibu saya datang terlambat, apakah arisannya sudah dikocok?"
"Belum. Kita juga baru ngumpul kok."
"Ah bu Dhani masa' masih nungguin uang kecil dari arisan sih."
"Eh bu Dhani, Loni sekarang sudah besar ya?"
"Umur berapa dia bu?"
"Kemarin baru lulus sekolah kan?"
"Kok gak dikuliahin aja sih bu?"
"Atau ikut ayahnya kerja aja."
"Iya, biasanya kalau bawaan dari orang dalam, prosesnya lebih cepat."
"Emang pak Dhani kerja bidang apa sih, bu?"
"Kantornya dimana bu?"
Bu Dhani menanggapi sejumlah pertanyaan tersebut dengan diam dan wajah datar.
"Maaf ibu-ibu, saya kesini untuk arisan. Bu Dahlia, silahkan mulai dikocok arisannya."
"Ah, bu Dhani kita kan bertetangga, jadi wajar kalo tanya masalah keluarga."
"Terima kasih bu atas perhatiannya. Tapi pertanyaannya semua dari sudut pandang yang berbeda, makanya saya tidak bisa jawab pertanyaannya."
"Tinggal dijawab, apa susahnya bu?"
"Maaf bu, saya tidak bisa menjawabnya. Lebih baik membenarkan sudut pandangnya dulu."
"Maksud ibu, kita tidak memahami permasalahan?"
"Maaf ibu-ibu kok jadi membicarakan saya?"
"Baiklah, kita mulai saja arisannya."
Ibu-ibu lantas sibuk dengan kocokan arisan. Riuh lagi, tanpa melirik ke arah bu Dhani. Seakan bu Dhani hadir dalam arisan, tapi tidak berada di tengah-tengah riuh ibu-ibu.
Jakarta, 7 December 2011
wrote with my tablet
yudie matta
note: tulisan ini terinspirasi dari komentar temen2 yg sering mendapatkan pertanyaan2 yg menurut org lain adalah bagian dari kesempurnaan. Sementara bagi yg ditanya, pertanyaan itu seakan pisau yang siap menancap di tubuh. To all, please do respect others in their own perfection.
Me, I have my ownlife, and you have yours. But, we could be connected through writing. Isn't that great?
07 December 2011
17 February 2011
Hangat temaram
Suasananya temaram. Penerangan seakan hanya sekedarnya agar orang tidak menabrak meja-meja yang sudah tertata rapi. Meski hanya lampu bohlam bergantungan hampir disetiap satu meter, namun cahayanya hanya cukup mengabarkan ke kita bahwa itu adalah bohlam, bukan membagi cahayanya. Belum lagi tampilan bohlam yang selalu memakai caping, walau tidak ada rintik air yang menetes. Itulah yang membuat cahaya kuning bohlam berkumpul di sebalik caping yang dipakainya. Dan begitulah sehingga suasana dalam ruangan temaram.
Pada sudut ruangan, nampak wanita muda sibuk dengan blackberry di tangannya.
Ri3ch4 c4nt13x bete nungguin…. Humpfff
Enaknya ngapain ya?
6 minutes ago . Like
Aldi89 bR0ndI mau ditemenin tante?
6 minutes ago . Like
G4G4H P3RK4S4 kok ditungguin, bukannya janjiannya besok?
5 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x @Aldi: mau dong, tp jgn skrg ya
@Ga’: yeee…. GR
3 minutes ago . 1 Like
G4G4H P3RK4S4 jadi, bsk cancel?
3 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x kan emang udah jadwalnya :P
2 minutes ago . Like
G4G4H P3RK4S4 kok dibilang GR?
2 minutes ago . Like
Aldi89 bR0ndI kapan?
1 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x @Ga’: jangan ngambek dong, ntar jelek lho :P
@Aldi: nanti dikabari…
48 seconds ago. Like
Outgoing call………
“Arga, apaan sih elu komen kayak gitu? Norak tahu…”
“Yang mulai siapa?”
“Kan cuma becanda, sayang.”
“Aku tahu becanda. Cuma giliran becanda ke aku kok sinis gitu?”
“Elu cemburu, Ga’?”
“Emang siapa Aldi itu? Berondong mana dia?”
“Anak kuliahan semester awal.”
“Icha pake juga?”
“Kok elu nanyanya gitu?”
“Ada yang salah dengan pertanyaanku?”
“Elu mau dibandingkan dengan berondong semester awal?”
“Risih aku ngeliat lagak berondong itu.”
“Tenang, tidak sebanding dengan elu kok. Gue hanya butuh variasi.”
“Variasi? Kupikir akulah variasimu?”
“Setelah gue cerai?”
“Honey, kamu jadi cerai?”
“Baru sebulan kemarin.”
“Kenapa tidak cerita?”
“Sejak kapan elu peduli rumah tangga gue?”
“Paling tidak kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi kan?”
“That’s it?”
“I know honey. Mungkin kita tidak perlu bahas ini sekarang. Besok makan malam?”
“We have appointment already, don’t we?”
“Yup…. Can’t wait until tomorrow.”
“See you tomorrow, then.”
“Miss you, honey.”
“Miss you too, handsome.”
Call ended
******
Incoming Call
“Ya Cha….”
“Nyampe mana Nin? Jam segini belum datang.”
“Maaf Cha, aku harus nganter anak-anak ke rumah neneknya biar bisa ngumpul sama kalian.”
“Kalian? Baru gue aja disini.”
“Rika sama Dita belum datang?”
“Aku belum call mereka. Paling Rika masih di ranjang, secara pengantin baru.”
“Hehehe….. aku usahakan 30 menit bisa menyusul kesana ya. Maaf banget.”
“Iya, tapi janji datang ya.”
“Pasti. Udahan ya, aku lagi nyetir nih, nanti kena 750ribu lagi.”
“Iya deh…. Dasar emak-emak, perhitungan banget.”
“Kan kamu juga emak, Icha….”
“I’m single woman now, have no kids, and don’t plan to. I love being single.”
“Udah ah, nanti aja ceritanya…. See ya.”
Call ended
****
Dita Lovely dari sederet jadwal hari ini, sekaranglah waktu yang dinantikan.
10 minutes ago . 18 Likes
Anita Muis sukses dengan semua jadwalnya ya mbak
10 minutes ago . Like
Rahmat Aja wanita karir banget :P
10 minutes ago . Like
Adinda Remaja jadwal apaan mbak yang dinantikan?
9 minutes ago . Like
Dewi Setiarini reminder: tomorrow we have meeting early morning. Beware and prepare!!!!
9 minutes ago . 1 Like
Dita Lovely @Anita: thanks
@Rahmat: hehehehe…. Gak juga kok :P
@Dinda: ngumpul ma tmn2 lama
@Dewi: do you have to remind me anytime and anywhere? Thanks anyway :P
6 minutes ago . Like
Galih Ananta jangan lupa jaga kesehatan teteh…
6 minutes ago . Like
Adinda Remaja so sweet… have a great time
5 minutes ago . Like
Richardo Richardo be proud of yourself
5 minutes ago . Like
Anita Muis anytime mbak…
5 minutes ago . Like
Dita Lovely thanks for all, do appreciate for your kindness
3 minutes ago . Like
Dewi Setiarini as your assistant, of course I do care and have to remind you anytime and anywhere, tomorrow will be our important client. And if as friend, I don’t care :P
2 minutes ago. 2 Likes
Dita Lovely wkwkwkwkwkwk…..
Love you, Dewi……..
2 minutes ago. Like
Ri3ch4 c4nt13x dimana bu?
1 minute ago . LIke
Rahmat Aja gak usah merendah mbak. Semua juga udah tahu kok… hehehehe
1 minute ago . Like
Dita Lovely @Icha: otw say…. Macet
@Rahmat: tahu apa? Kalo aku wanita? Gak perlu approval yang lain :P
20 seconds ago . 3 Like
Outgoing Call…..
“Icha, maaf aku masih kena macet.”
“Macet dimane?”
“Keluar kantor sudah padat merayap say.”
“Elu baru keluar kantor?”
“Iya, maaf ya. Banyak meeting hari ini.”
“Nunggu berape lama lagi say?”
“Pak Udin, kira-kira berapa lama lagi nyampe ke Kemang?”
“Kalo macet gini, mungkin sejaman bu.”
“Sejam say…”
“Gue udah denger omongan mang Udin say… Yaudah, buruan ya. Pasti kesini lho.”
“Iya….”
Call ended
******
Outgoing call….
“Cong….”
“Kemane aje elu say?”
“I know I’m very late…. Udah pada ngumpul Cong?”
“I wish…. Nina masih nganter anaknye ke rumah neneknye dan Dita terjebak macet.”
“Jadi cuman elu, Cong?”
“Iye…. BĂȘte banget. Ini udah setengah jam lebih say.”
“Gue coba lebih cepet bisa nyampe sana deh.”
“Masih di ranjang sama laki lu?”
“Muke lu nyungsep…. Ini lagi pulang belanja sama suami.”
“Suami….. I recognize that word before…”
“Elu jadi cerai, Cong?”
“I’ve got my dream now…”
“Gila lu. Ntar ah ceritanya, biar seru.”
“Iye… makanya cepetan sini.”
“Iye Cong…”
Call ended
Rika Asmara I love my husband, and will always be. Ya Allah, jauhkan dari godaan perceraian yang terkutuk. Amin
2 seconds ago . Like
****
Ri3ch4 c4nt13x dasar wanita, diajak ngumpul aja susahnya seribu alasan
3 seconds ago . Like
Dita Lovely thanks God, udah mulai lancar jalanan. Can’t wait sharing with my gals
3 seconds ago . Like
Rika Asmara sayang, aku pergi reunian dulu ya….
3 seconds ago . Like
****
Outgoing call….
“Icha…”
“Udeh nyampe mane, Nin?”
“Maaf, aku agak telat ya. Udah deket rumah neneknya anak-anak, ban bocor.”
“Lama-lama gue yang bocor, kelamaan sendirian disini.”
“Please Cha, understand my condition.”
“Iya deh… take care aja.”
“Thanks ya Cha…”
Call ended
*****
“Icha…………”
“Dita…. Oh God, thank you so much. At last, you send me someone…. Rapi amat?”
“Namanya juga kerja say.”
“Namanya juga bos, iya kan Dit?”
“Bisa aja kamu… Maaf ya, it’s all about the traffic.”
“I know Jakarta say.”
“So, mana yang lain?”
“Nina nganter anak-anaknya ke rumah neneknya, dan apesnya ban bocor.”
“Kok nganter anaknya sih. Emang kemana suaminya?”
“Elu belum tahu ceritanya?”
“Apaan?”
“Nina kan tipikal ibu rumah tangga konvensional. Nurut ape kate suami.”
“Their marriage is still fine, right?”
“Fine sih fine, cuman kalo gue dalam posisi Nina, udah buruan gugat.”
“Emang apa salahnya suami Nina?”
“Waktunya sedikit buat keluarga. Katanya sih karena kerjaan.”
“So what? I know and do understand that condition.”
“Gue nggak yakin emang karena kerjaan doang.”
“Jangan gitu dong, kita harus support Nina, bagaimanapun juga.”
“I do…”
“Kenapa nggak cari pembantu aja ya, biar gak repot.”
“Hello…. Don’t you remember what happened last year?”
“Did I miss something again?”
“Nina masih trauma dengan laporan pembantunya yang bilang suka dipeluk suaminya.”
“Yang bener Cha…”
“Yaelah…. Kemane aje elu say?”
“Trus… trus…..”
“Yaudah…. Dipecat lah pembantu itu. Yang gue heranin ya, Nina kok tegar amat jadi istri ya. Wait… yang bener tegar atau bodoh ya?”
“Don’t judge only from one side dong. It’s a family, means there’re more complicated things have to be considered.”
“Gue sih nggak begitu-begitu amat.”
“Trus, kabar kamu gimana Cha?”
“I’m fine, like you see right now. Prettier and just divorced.”
“WHAT???”
“Come on… divorce is not a bad thing. And it was my request, anyway.”
“How about your kids?”
“It’s not my kids anyway. So, why bother?”
“My God…..”
“Itu kan emang anak-anaknya Charlie dengan istri sebelumnya. Dengan gue, Charlie tidak punya anak.”
“What do you want, anyway?”
“I want to be free, and I realize marriage is not my kinda thing.”
“God bless you…. You decide, you responsible.”
“Sure…. Jangan khawatirkan aku lah. I’m fine. So, gimana cerita dari elu?”
“I’m good on my career.”
“Good…. “
“And mid of this year, I will move to France.”
“You will?”
“Iya…. Can you imagine that? Negara yang selalu kita omongin waktu jaman sekolah, bakalan jadi tempat tinggalku.”
“We have to cheer for that.”
“Thank you….”
“I’m so proud of you.”
“Paling tidak aku juga bisa senang melihatmu bahagia Cha, apapun keputusanmu.”
“Let’s toast for moving to France and divorcing.”
“Hahahahaha……”
********
Dita Lovely cheers for 2 hot single women :P
2 seconds ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x bahagia…. Yup, I deserve for that. Apapun keputusanku.
3 seconds ago . Like
*****
Incoming Call
“Ape say? Udah nyampe mana lu?”
“Icha, maaffff banget…”
“My God, it’s sound not good.”
“Iya, I have to apologize.”
“Nape say?”
“Aku gak bisa datang Cong.”
“You must be kidding me, right?”
“Unfortunately, I don’t.”
“Com’on, jangan buat buruk nama elu dalam persahabatan kita dong.”
“Maaf banget, Cong…. Kali ini, aku tidak ada pilihan.”
“Emangnya kenapa say?”
“Suami gue minta jatah lagi.”
“WHATT????”
Call Ended
“Hahahahahaha……..”
“Rikaaa….. elu emang brengsek.”
“Serius amat muke elu, Cong. Kayak mau melahirkan aje.”
“Elu pake acara gak datang segala. I’ve been waiting for nothing, then.”
“Hello…. you have me here.”
“Dita?”
“Pa kabar Rika. Makin cantik aja setelah nikah.”
“Makasih. Elu juga makin bersinar aja nih kayaknya.”
“Ngomong-ngomong masalah sinar. Dita akan pindah ke Perancis bulan Juni mendatang.”
“You will? Congratulation, honey.”
“Thank you, Rika. And you also congratulate Icha for being single.”
“I don’t think could do that. I’m just married.”
“Oh…. Maaf, bukan itu point aku, Rika. My point is we have to congratulate her for whatever her decision to achieve her happiness.”
“Are you happy, Cong?”
“I really am. Can’t you read the sign?”
“Toast for happiness…..”
“Wait until I have my drink.”
“Hahahahaha…….”
*****
Ri3ch4 c4nt13x I made a right decision, and have great friends. What a Life!!!
5 seconds ago . Like
Rika Asmara I love my life…..
5 second ago . Like
Dita Lovely This is the best refreshing time. Love you gals
5 seconds ago . Like
****
“Jadi gimana Dit rencana elu pindah ke Perancis?”
“Sekretarisku sudah menyiapkan semuanya?”
“Termasuk pasangan hidup?”
“Com’on gals, I don’t even think about it.”
“Not to think about it until you find one.”
“Do we have to find one? What’s the point?”
“Namanya juga pasangan hidup, Cong.”
“I know your point Rik, but I focus on my job right now.”
“Wait…. Apakah itu berarti ketika elu gak dapat pasangan, elu tidak masuk dalam kategori hidup?”
“Hidup elu enggak komplit, Cong?”
“Apakah harus diikat perkawinan?”
“JIka die bisa menemani selama hidup lu, why not?”
“So what’s the point?”
“To complete your life.”
“What for?”
“Happiness.”
“That’s it? I am happy now. Are you happy, Dit?”
“Icha…. You have to realize kalo Rika just married. Give her some respect, please.”
“Dita sayang, apakah janda tidak berhak mendapatkan respect?”
“Please, don’t be misunderstood.”
“I know, honey. Rika sayang, mungkin ukuran bahagia gue tidak sama dengan elu. Meski gue mutusin untuk cerai, tapi inilah jalan gue menemukan bahagia.”
“Maaf Cong, gue paham maksud elu.”
“Jadi, gimana kehidupan kalian setelah mendapatkan kebahagiaan yang diimpikan selama ini?”
“Gue ngerasa bebas dalam arti yang sebenarnya. Nggak perlu jaim-jaim lagi, apalagi buat-buat alasan kalo pergi kemana-mana.”
“Kalo gue rasanya lebih aman dan tentram, setelah ada mas Henry. Elu gimana, Dit?”
“Aku bahagia. Satu persatu daftar impianku sudah mulai terwujud.”
“Undang kite ke Perancis ya say?”
“Sure… I will.”
“Where will you stay?”
“I don’t know exactly, but I will inform you later.”
“Mungkin next new year, we should celebrate in France.”
“Gue suka elu Cong, pinter banget kalo arrange acara. Gimana, Dit?”
“Aku bisa arrange tempatnya. Cuma aku belum bisa pastikan bisa join apa enggak.”
“Com’ on… for our friendship.”
“Mungkin kalaupun aku bisa, nggak bisa seharian.”
“Yang pasti old&new nya bisa kan?”
“Tentu, aku akan usahakan.”
“Maaf, aku terlambat.”
“NINA……..”
“It’s okey say, asal kamu datang aje.”
“Jadi, gimana ban bocornya?”
“Sudah diganti. Besok pagi setelah ngantar anak-anak harus segera ditambal.”
“Besok pagi nganter anak? Apa elu akan tidur tempat mertua elu?”
“Nggak Cha, aku jemput anak-anak setelah dari sini.”
“Emang elu tahu sampai jam berapa kita disini?”
“Jam berape, Cong?”
“Until drop….. hehehehe.”
“Kenapa nggak minta suami kamu jemput, Nin?”
“Mas Adit masih ada urusan dengan klien dia.”
“By the way, Adit kerja di perusahaan apa Nin?”
“Di perusahaan Oil and Gas.”
“What position?”
“Manager Marketing.”
“Don’t ask, he must be very busy.”
“Masa’ gak ada perhatian sama sekali ke elu, Nin?”
“Bukan begitu Cha, kita udah komitmen dari awal untuk berbagi tugas. Dan aku nggak keberatan kok jemput anak-anak lagi.”
“Bukan masalah keberatan dengan komitmen kalian. Apa elu bahagia dengan seperti ini?”
“Icha, please give your respect.”
“So, gimana rasanya jadi ibu, Nin?”
“Menyenangkan. Sama sekali jauh dari bayangan.”
“In good or bad things?”
“Both ways.”
“Oiya, next new year Dita ngundang kita di Perancis.”
“Perancis?”
“Iye, Juni depan Dita akan pindah kesane. Dan kita akan rayakan tahun baru disana.”
“Aku harus diskusikan dulu dengan mas Adit.”
“Nina sayang, ini bukan penawaran iya atau enggak, jadi jangan tanya laki elu boleh ikut apa enggak.”
“Iye Nin, kesempatan kita untuk bersama. Aku juga akan arrange rencana ini dengan mas Henry.”
“Aku hanya pikirkan anak-anak.”
“Kan bisa elu minta mertua elu jagain untuk sementara waktu.”
“Nina, take sometime to think about it. I do appreciate when you join us.”
“Ok, I’ll think about it.”
****
Ri3ch4 c4nt13x Marriage….. thanks God, I’m over it
3 seconds ago . Like
****
Incoming Call
“Iya ma..”
“Jam berapa kamu pulang jemput anak-anakmu?”
“Kenapa ma?”
“Kalau dia atas jam 10, kamu temui bi Iyah aja ya. Papa dan Mama sudah tidur.”
“Iya ma.”
“Jangan kemalaman pulangnya, kasihan anak-anakmu, besok sekolah kan?”
“Iya ma.”
“Jangan Cuma mikir seneng sendiri, kamu sudah punya anak dua”
“Iya ma…”
Call Ended
“Siapa Nin?”
“Ibu mertua.”
“Ada ape say?”
“Aku gak boleh pulang malam-malam.”
“Kan elu baru datang.”
“Iya, maaf banget Cha.”
“At least you’ve come here.”
“Mau balik sekarang? Tunggu 15 menit lagi aje.”
“Pengennya gitu Cha. Perjalanan ke rumah mertua sejam. Dan mertua bilang gak akan nemuin kalo diatas jam sepuluh.”
“Fiyuh….. “
“Thanks ya Nin, udah nyempetin mau datang.”
“I do apologize. Please, continue enjoying your night without me.”
“Take care say….. jangan lupa next new year.”
“Iya, I will update you.”
“Salam buat anak-anak ya…”
Dan begitulah temarannya suasana masih tetap tinggal, meski Nina sudah beranjak meninggalkan Icha, Dita dan Rika. Mereka masih menghangatkan suasana dengan perbincangan akan banyak hal. Perbincangan yang bercampur dengan kerinduan lah yang membuat suasana temaran itu bertambah hangat.
yudie matta
Hong Kong, 17 Februari 2011
@HKAirport waiting connecting flight
NB: Tulisan ini belum menemukan klimaks-nya. Diusahakan akan dilanjutkan lain waktu. The point is: aku ingin menghadirkan sebuah cerita dengan kemasan yang berbeda. Semoga bisa dimengerti dan diterima.
Pada sudut ruangan, nampak wanita muda sibuk dengan blackberry di tangannya.
Ri3ch4 c4nt13x bete nungguin…. Humpfff
Enaknya ngapain ya?
6 minutes ago . Like
Aldi89 bR0ndI mau ditemenin tante?
6 minutes ago . Like
G4G4H P3RK4S4 kok ditungguin, bukannya janjiannya besok?
5 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x @Aldi: mau dong, tp jgn skrg ya
@Ga’: yeee…. GR
3 minutes ago . 1 Like
G4G4H P3RK4S4 jadi, bsk cancel?
3 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x kan emang udah jadwalnya :P
2 minutes ago . Like
G4G4H P3RK4S4 kok dibilang GR?
2 minutes ago . Like
Aldi89 bR0ndI kapan?
1 minutes ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x @Ga’: jangan ngambek dong, ntar jelek lho :P
@Aldi: nanti dikabari…
48 seconds ago. Like
Outgoing call………
“Arga, apaan sih elu komen kayak gitu? Norak tahu…”
“Yang mulai siapa?”
“Kan cuma becanda, sayang.”
“Aku tahu becanda. Cuma giliran becanda ke aku kok sinis gitu?”
“Elu cemburu, Ga’?”
“Emang siapa Aldi itu? Berondong mana dia?”
“Anak kuliahan semester awal.”
“Icha pake juga?”
“Kok elu nanyanya gitu?”
“Ada yang salah dengan pertanyaanku?”
“Elu mau dibandingkan dengan berondong semester awal?”
“Risih aku ngeliat lagak berondong itu.”
“Tenang, tidak sebanding dengan elu kok. Gue hanya butuh variasi.”
“Variasi? Kupikir akulah variasimu?”
“Setelah gue cerai?”
“Honey, kamu jadi cerai?”
“Baru sebulan kemarin.”
“Kenapa tidak cerita?”
“Sejak kapan elu peduli rumah tangga gue?”
“Paling tidak kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi kan?”
“That’s it?”
“I know honey. Mungkin kita tidak perlu bahas ini sekarang. Besok makan malam?”
“We have appointment already, don’t we?”
“Yup…. Can’t wait until tomorrow.”
“See you tomorrow, then.”
“Miss you, honey.”
“Miss you too, handsome.”
Call ended
******
Incoming Call
“Ya Cha….”
“Nyampe mana Nin? Jam segini belum datang.”
“Maaf Cha, aku harus nganter anak-anak ke rumah neneknya biar bisa ngumpul sama kalian.”
“Kalian? Baru gue aja disini.”
“Rika sama Dita belum datang?”
“Aku belum call mereka. Paling Rika masih di ranjang, secara pengantin baru.”
“Hehehe….. aku usahakan 30 menit bisa menyusul kesana ya. Maaf banget.”
“Iya, tapi janji datang ya.”
“Pasti. Udahan ya, aku lagi nyetir nih, nanti kena 750ribu lagi.”
“Iya deh…. Dasar emak-emak, perhitungan banget.”
“Kan kamu juga emak, Icha….”
“I’m single woman now, have no kids, and don’t plan to. I love being single.”
“Udah ah, nanti aja ceritanya…. See ya.”
Call ended
****
Dita Lovely dari sederet jadwal hari ini, sekaranglah waktu yang dinantikan.
10 minutes ago . 18 Likes
Anita Muis sukses dengan semua jadwalnya ya mbak
10 minutes ago . Like
Rahmat Aja wanita karir banget :P
10 minutes ago . Like
Adinda Remaja jadwal apaan mbak yang dinantikan?
9 minutes ago . Like
Dewi Setiarini reminder: tomorrow we have meeting early morning. Beware and prepare!!!!
9 minutes ago . 1 Like
Dita Lovely @Anita: thanks
@Rahmat: hehehehe…. Gak juga kok :P
@Dinda: ngumpul ma tmn2 lama
@Dewi: do you have to remind me anytime and anywhere? Thanks anyway :P
6 minutes ago . Like
Galih Ananta jangan lupa jaga kesehatan teteh…
6 minutes ago . Like
Adinda Remaja so sweet… have a great time
5 minutes ago . Like
Richardo Richardo be proud of yourself
5 minutes ago . Like
Anita Muis anytime mbak…
5 minutes ago . Like
Dita Lovely thanks for all, do appreciate for your kindness
3 minutes ago . Like
Dewi Setiarini as your assistant, of course I do care and have to remind you anytime and anywhere, tomorrow will be our important client. And if as friend, I don’t care :P
2 minutes ago. 2 Likes
Dita Lovely wkwkwkwkwkwk…..
Love you, Dewi……..
2 minutes ago. Like
Ri3ch4 c4nt13x dimana bu?
1 minute ago . LIke
Rahmat Aja gak usah merendah mbak. Semua juga udah tahu kok… hehehehe
1 minute ago . Like
Dita Lovely @Icha: otw say…. Macet
@Rahmat: tahu apa? Kalo aku wanita? Gak perlu approval yang lain :P
20 seconds ago . 3 Like
Outgoing Call…..
“Icha, maaf aku masih kena macet.”
“Macet dimane?”
“Keluar kantor sudah padat merayap say.”
“Elu baru keluar kantor?”
“Iya, maaf ya. Banyak meeting hari ini.”
“Nunggu berape lama lagi say?”
“Pak Udin, kira-kira berapa lama lagi nyampe ke Kemang?”
“Kalo macet gini, mungkin sejaman bu.”
“Sejam say…”
“Gue udah denger omongan mang Udin say… Yaudah, buruan ya. Pasti kesini lho.”
“Iya….”
Call ended
******
Outgoing call….
“Cong….”
“Kemane aje elu say?”
“I know I’m very late…. Udah pada ngumpul Cong?”
“I wish…. Nina masih nganter anaknye ke rumah neneknye dan Dita terjebak macet.”
“Jadi cuman elu, Cong?”
“Iye…. BĂȘte banget. Ini udah setengah jam lebih say.”
“Gue coba lebih cepet bisa nyampe sana deh.”
“Masih di ranjang sama laki lu?”
“Muke lu nyungsep…. Ini lagi pulang belanja sama suami.”
“Suami….. I recognize that word before…”
“Elu jadi cerai, Cong?”
“I’ve got my dream now…”
“Gila lu. Ntar ah ceritanya, biar seru.”
“Iye… makanya cepetan sini.”
“Iye Cong…”
Call ended
Rika Asmara I love my husband, and will always be. Ya Allah, jauhkan dari godaan perceraian yang terkutuk. Amin
2 seconds ago . Like
****
Ri3ch4 c4nt13x dasar wanita, diajak ngumpul aja susahnya seribu alasan
3 seconds ago . Like
Dita Lovely thanks God, udah mulai lancar jalanan. Can’t wait sharing with my gals
3 seconds ago . Like
Rika Asmara sayang, aku pergi reunian dulu ya….
3 seconds ago . Like
****
Outgoing call….
“Icha…”
“Udeh nyampe mane, Nin?”
“Maaf, aku agak telat ya. Udah deket rumah neneknya anak-anak, ban bocor.”
“Lama-lama gue yang bocor, kelamaan sendirian disini.”
“Please Cha, understand my condition.”
“Iya deh… take care aja.”
“Thanks ya Cha…”
Call ended
*****
“Icha…………”
“Dita…. Oh God, thank you so much. At last, you send me someone…. Rapi amat?”
“Namanya juga kerja say.”
“Namanya juga bos, iya kan Dit?”
“Bisa aja kamu… Maaf ya, it’s all about the traffic.”
“I know Jakarta say.”
“So, mana yang lain?”
“Nina nganter anak-anaknya ke rumah neneknya, dan apesnya ban bocor.”
“Kok nganter anaknya sih. Emang kemana suaminya?”
“Elu belum tahu ceritanya?”
“Apaan?”
“Nina kan tipikal ibu rumah tangga konvensional. Nurut ape kate suami.”
“Their marriage is still fine, right?”
“Fine sih fine, cuman kalo gue dalam posisi Nina, udah buruan gugat.”
“Emang apa salahnya suami Nina?”
“Waktunya sedikit buat keluarga. Katanya sih karena kerjaan.”
“So what? I know and do understand that condition.”
“Gue nggak yakin emang karena kerjaan doang.”
“Jangan gitu dong, kita harus support Nina, bagaimanapun juga.”
“I do…”
“Kenapa nggak cari pembantu aja ya, biar gak repot.”
“Hello…. Don’t you remember what happened last year?”
“Did I miss something again?”
“Nina masih trauma dengan laporan pembantunya yang bilang suka dipeluk suaminya.”
“Yang bener Cha…”
“Yaelah…. Kemane aje elu say?”
“Trus… trus…..”
“Yaudah…. Dipecat lah pembantu itu. Yang gue heranin ya, Nina kok tegar amat jadi istri ya. Wait… yang bener tegar atau bodoh ya?”
“Don’t judge only from one side dong. It’s a family, means there’re more complicated things have to be considered.”
“Gue sih nggak begitu-begitu amat.”
“Trus, kabar kamu gimana Cha?”
“I’m fine, like you see right now. Prettier and just divorced.”
“WHAT???”
“Come on… divorce is not a bad thing. And it was my request, anyway.”
“How about your kids?”
“It’s not my kids anyway. So, why bother?”
“My God…..”
“Itu kan emang anak-anaknya Charlie dengan istri sebelumnya. Dengan gue, Charlie tidak punya anak.”
“What do you want, anyway?”
“I want to be free, and I realize marriage is not my kinda thing.”
“God bless you…. You decide, you responsible.”
“Sure…. Jangan khawatirkan aku lah. I’m fine. So, gimana cerita dari elu?”
“I’m good on my career.”
“Good…. “
“And mid of this year, I will move to France.”
“You will?”
“Iya…. Can you imagine that? Negara yang selalu kita omongin waktu jaman sekolah, bakalan jadi tempat tinggalku.”
“We have to cheer for that.”
“Thank you….”
“I’m so proud of you.”
“Paling tidak aku juga bisa senang melihatmu bahagia Cha, apapun keputusanmu.”
“Let’s toast for moving to France and divorcing.”
“Hahahahaha……”
********
Dita Lovely cheers for 2 hot single women :P
2 seconds ago . Like
Ri3ch4 c4nt13x bahagia…. Yup, I deserve for that. Apapun keputusanku.
3 seconds ago . Like
*****
Incoming Call
“Ape say? Udah nyampe mana lu?”
“Icha, maaffff banget…”
“My God, it’s sound not good.”
“Iya, I have to apologize.”
“Nape say?”
“Aku gak bisa datang Cong.”
“You must be kidding me, right?”
“Unfortunately, I don’t.”
“Com’on, jangan buat buruk nama elu dalam persahabatan kita dong.”
“Maaf banget, Cong…. Kali ini, aku tidak ada pilihan.”
“Emangnya kenapa say?”
“Suami gue minta jatah lagi.”
“WHATT????”
Call Ended
“Hahahahahaha……..”
“Rikaaa….. elu emang brengsek.”
“Serius amat muke elu, Cong. Kayak mau melahirkan aje.”
“Elu pake acara gak datang segala. I’ve been waiting for nothing, then.”
“Hello…. you have me here.”
“Dita?”
“Pa kabar Rika. Makin cantik aja setelah nikah.”
“Makasih. Elu juga makin bersinar aja nih kayaknya.”
“Ngomong-ngomong masalah sinar. Dita akan pindah ke Perancis bulan Juni mendatang.”
“You will? Congratulation, honey.”
“Thank you, Rika. And you also congratulate Icha for being single.”
“I don’t think could do that. I’m just married.”
“Oh…. Maaf, bukan itu point aku, Rika. My point is we have to congratulate her for whatever her decision to achieve her happiness.”
“Are you happy, Cong?”
“I really am. Can’t you read the sign?”
“Toast for happiness…..”
“Wait until I have my drink.”
“Hahahahaha…….”
*****
Ri3ch4 c4nt13x I made a right decision, and have great friends. What a Life!!!
5 seconds ago . Like
Rika Asmara I love my life…..
5 second ago . Like
Dita Lovely This is the best refreshing time. Love you gals
5 seconds ago . Like
****
“Jadi gimana Dit rencana elu pindah ke Perancis?”
“Sekretarisku sudah menyiapkan semuanya?”
“Termasuk pasangan hidup?”
“Com’on gals, I don’t even think about it.”
“Not to think about it until you find one.”
“Do we have to find one? What’s the point?”
“Namanya juga pasangan hidup, Cong.”
“I know your point Rik, but I focus on my job right now.”
“Wait…. Apakah itu berarti ketika elu gak dapat pasangan, elu tidak masuk dalam kategori hidup?”
“Hidup elu enggak komplit, Cong?”
“Apakah harus diikat perkawinan?”
“JIka die bisa menemani selama hidup lu, why not?”
“So what’s the point?”
“To complete your life.”
“What for?”
“Happiness.”
“That’s it? I am happy now. Are you happy, Dit?”
“Icha…. You have to realize kalo Rika just married. Give her some respect, please.”
“Dita sayang, apakah janda tidak berhak mendapatkan respect?”
“Please, don’t be misunderstood.”
“I know, honey. Rika sayang, mungkin ukuran bahagia gue tidak sama dengan elu. Meski gue mutusin untuk cerai, tapi inilah jalan gue menemukan bahagia.”
“Maaf Cong, gue paham maksud elu.”
“Jadi, gimana kehidupan kalian setelah mendapatkan kebahagiaan yang diimpikan selama ini?”
“Gue ngerasa bebas dalam arti yang sebenarnya. Nggak perlu jaim-jaim lagi, apalagi buat-buat alasan kalo pergi kemana-mana.”
“Kalo gue rasanya lebih aman dan tentram, setelah ada mas Henry. Elu gimana, Dit?”
“Aku bahagia. Satu persatu daftar impianku sudah mulai terwujud.”
“Undang kite ke Perancis ya say?”
“Sure… I will.”
“Where will you stay?”
“I don’t know exactly, but I will inform you later.”
“Mungkin next new year, we should celebrate in France.”
“Gue suka elu Cong, pinter banget kalo arrange acara. Gimana, Dit?”
“Aku bisa arrange tempatnya. Cuma aku belum bisa pastikan bisa join apa enggak.”
“Com’ on… for our friendship.”
“Mungkin kalaupun aku bisa, nggak bisa seharian.”
“Yang pasti old&new nya bisa kan?”
“Tentu, aku akan usahakan.”
“Maaf, aku terlambat.”
“NINA……..”
“It’s okey say, asal kamu datang aje.”
“Jadi, gimana ban bocornya?”
“Sudah diganti. Besok pagi setelah ngantar anak-anak harus segera ditambal.”
“Besok pagi nganter anak? Apa elu akan tidur tempat mertua elu?”
“Nggak Cha, aku jemput anak-anak setelah dari sini.”
“Emang elu tahu sampai jam berapa kita disini?”
“Jam berape, Cong?”
“Until drop….. hehehehe.”
“Kenapa nggak minta suami kamu jemput, Nin?”
“Mas Adit masih ada urusan dengan klien dia.”
“By the way, Adit kerja di perusahaan apa Nin?”
“Di perusahaan Oil and Gas.”
“What position?”
“Manager Marketing.”
“Don’t ask, he must be very busy.”
“Masa’ gak ada perhatian sama sekali ke elu, Nin?”
“Bukan begitu Cha, kita udah komitmen dari awal untuk berbagi tugas. Dan aku nggak keberatan kok jemput anak-anak lagi.”
“Bukan masalah keberatan dengan komitmen kalian. Apa elu bahagia dengan seperti ini?”
“Icha, please give your respect.”
“So, gimana rasanya jadi ibu, Nin?”
“Menyenangkan. Sama sekali jauh dari bayangan.”
“In good or bad things?”
“Both ways.”
“Oiya, next new year Dita ngundang kita di Perancis.”
“Perancis?”
“Iye, Juni depan Dita akan pindah kesane. Dan kita akan rayakan tahun baru disana.”
“Aku harus diskusikan dulu dengan mas Adit.”
“Nina sayang, ini bukan penawaran iya atau enggak, jadi jangan tanya laki elu boleh ikut apa enggak.”
“Iye Nin, kesempatan kita untuk bersama. Aku juga akan arrange rencana ini dengan mas Henry.”
“Aku hanya pikirkan anak-anak.”
“Kan bisa elu minta mertua elu jagain untuk sementara waktu.”
“Nina, take sometime to think about it. I do appreciate when you join us.”
“Ok, I’ll think about it.”
****
Ri3ch4 c4nt13x Marriage….. thanks God, I’m over it
3 seconds ago . Like
****
Incoming Call
“Iya ma..”
“Jam berapa kamu pulang jemput anak-anakmu?”
“Kenapa ma?”
“Kalau dia atas jam 10, kamu temui bi Iyah aja ya. Papa dan Mama sudah tidur.”
“Iya ma.”
“Jangan kemalaman pulangnya, kasihan anak-anakmu, besok sekolah kan?”
“Iya ma.”
“Jangan Cuma mikir seneng sendiri, kamu sudah punya anak dua”
“Iya ma…”
Call Ended
“Siapa Nin?”
“Ibu mertua.”
“Ada ape say?”
“Aku gak boleh pulang malam-malam.”
“Kan elu baru datang.”
“Iya, maaf banget Cha.”
“At least you’ve come here.”
“Mau balik sekarang? Tunggu 15 menit lagi aje.”
“Pengennya gitu Cha. Perjalanan ke rumah mertua sejam. Dan mertua bilang gak akan nemuin kalo diatas jam sepuluh.”
“Fiyuh….. “
“Thanks ya Nin, udah nyempetin mau datang.”
“I do apologize. Please, continue enjoying your night without me.”
“Take care say….. jangan lupa next new year.”
“Iya, I will update you.”
“Salam buat anak-anak ya…”
Dan begitulah temarannya suasana masih tetap tinggal, meski Nina sudah beranjak meninggalkan Icha, Dita dan Rika. Mereka masih menghangatkan suasana dengan perbincangan akan banyak hal. Perbincangan yang bercampur dengan kerinduan lah yang membuat suasana temaran itu bertambah hangat.
yudie matta
Hong Kong, 17 Februari 2011
@HKAirport waiting connecting flight
NB: Tulisan ini belum menemukan klimaks-nya. Diusahakan akan dilanjutkan lain waktu. The point is: aku ingin menghadirkan sebuah cerita dengan kemasan yang berbeda. Semoga bisa dimengerti dan diterima.
Subscribe to:
Posts (Atom)