Matahari tengah beranjak naik. Teriknya bukan kepalang. Meski waktu masih menunjukkan pukul Sembilan pagi, tapi rasa panas matahari mampu menembus jaket. Untuk mengenyahkan rasa panas dan gerah, Sardi sedapat mungkin menggerakkan badannya, mengelap keringatnya dan berlindung pada bayangan orang yang berdiri di depannya.
Nampak antrian masih panjang. Sardi menghitung masih ada tiga puluh orang yang harus dilaluinya untuk sampai pada posisi paling depan.
Di posisi terdepan, seorang Bapak tua berkaca mata. Hampir seluruh rambutnya adalah uban. Beberapa kali dia melepas kaca matanya dan mengelapnya dengan baju lusuhnya. Baju bercorak kotak-kotak, pastinya semula berwarna hitam. Kini sudah berubah menjadi abu-abu. Di bagian leher dan tangan, warna abu-abu itu semakin mendekat ke putih.
Meski warna baju pudar, tersirat rona bahagia di wajah Bapak itu. Matanya berbinar sejak dia masih di posisi ketiga dari yang terdepan. Sesekali senyum ditebar ke orang-orang di sekitarnya, meski tak ada satu pun yang dikenal. Inilah pencapaian tertinggi di hari ini, berada di posisi terdepan antrian.
Sardi memperhatikan benar Bapak itu. Kebahagiaannya bisa dirasakan Sardi, meski harus melewati tiga puluh tubuh. Kebahagiaan yang diawali dengan degupan jantung semakin kencang. Terangkatnya ujung-ujung bibir menjadi sebuah senyuman. Dada yang terlapangkan oleh keikhlasan, dan melihat orang-orang sekitar adalah saudara yang berarti dalam hidup.
Sardi terdiam. Mencoba meresapi rasa itu. Mencermati setiap gerak Bapak itu.
“Ini rasa yang belum pernah aku rasakan,” gumamnya.
“Haruskah aku menunggu melewati ketiga puluh orang ini dahulu untuk merasakannya?”
Sardi mulai bertanya-tanya.
……………………………Sardi terdiam………………………………
Pikirannya melayang mencari jawab. Dan matanya berkelana menjawab keresahan.
………………………tubuhnya mematung…………………………
Hingga ia dikejutkan dengan kedatangan seorang ibu dengan rambut acak-acakan. Wajahnya ramah menyapa Sardi. Kemudian membenarkan daster yang dipakainya. Kembali tersenyum ramah pada Sardi. Menata kunciran rambutnya. Dan masih memasang senyum ramah pada Sardi.
Sardi senantiasa membalas keramahan ibu itu dengan senyuman. Tiba-tiba, tanya akan perasaan pada Bapak di barisan depan mulai tergantikan dengan senyum ramah Ibu yang baru datang. Ia suka suasana hatinya. Dadanya terlapangkan dengan keikhlasan, yang membuatnya selalu membalas keramahan senyum Ibu dengan keikhlasan senyum. Ujung-ujung bibir yang mengembang menjadi sebuah senyuman indah. Dan degupan jantung yang berirama menyanyikan kebahagiaan dan ketenangan.
Sama seperti yang dirasa ketika memperhatikan Bapak di barisan paling depan.
…………………………………hening…………………………………
Sardi tersadar, perasaan terindah bukanlah dengan berada di barisan paling depan antrian. Bukan pula mendapat jatah sembako, meski berhari-hari dia tidak makan layak. Kebahagiaan itu sudah ada dalam dirinya. Ia berdiam disana untuk disapa, dan dibukakan jalannya. Mengapa selalu menunggu alasan untuk berbahagia?
Sardi pun mengembangkan senyuman pada pikirannya sendiri.
At my desk,
office – Batam
August 6th 2010
No comments:
Post a Comment