19 June 2009

diterima di sisiNya

Pagi ini, seperti biasa, datang ke kantor-menyalakan komputer dan mempersiapkan kerjaan untuk segera diselesaikan. Check email dan login di facebook sudah merupakan rutinitas di kantor. Ya, untuk banyak kepentingan, aku membutuhkan keduanya.

Sedikit berbeda, hari ini email dan fb banyak diisi tentang berita duka, meninggalnya salah seorang kawan karena kecelakaan. Banyak yang memberikan testi maupun balasan ikut berbelasungkawa. Yang membuatku tertarik adalah kata-kata 'semoga diterima di sisiNya'. Kenapa menarik? Karena kalimat tersebut menurutku bias. Baik orang yang selama hidupnya dikategorikan menjadi orang baik maupun buruk, tentunya akan diterima di sisiNya. Yang jadi pertanyaan, di sisi mana ya?

Dari dulu aku tidak paham dengan kata-kata 'diterima di sisiNya'. Bagiku, itu sama halnya dengan mem-personifikasi-kan Tuhan. Dibalik kata-kata itu, seolah-olah Tuhan menunggu orang-orang yang (anggapan banyak orang) baik, untuk mendampinginya. Memangnya Tuhan mau kemana?

Inilah yang selalu membuatku geli, sekaligus berasa konyol. Orang-orang terlalu banyak mensejajarkan Tuhan dengan manusia. Wait, kalimat itu terlalu extreme. Maksudku, orang mempunyai pandangan seolah-olah Tuhan itu selayak manusia.

Kalau dulu, sewaktu kecil, seringkali aku diingatkan bahwa Tuhan selalu mengawasiku dalam hal apa pun dan dimanapun. Dasar namanya anak kecil, yang ada dalam pikiranku (waktu itu) adalah 'Apa Tuhan itu seperti security atau tukang Ronda di kampung ya? Atau Tuhan kurang kerjaan, ngawasin dimana aja dan kapan aja?' Yah, apapun, namanya anak kecil, dan (waktu itu) aku hanya mampu menterjemahkan kata-kata tersebut dengan apa yang aku ilhat, dengar dan rasakan.

Sekarang kata-kata itu begitu aneh bagiku. Karena aku tidak bisa lagi menterjemahkannya. Terlalu personifikasi, bagiku. Bukan Tuhan banget. Akan tetapi sayang sekali, kebayakan orang terbiasa dengan itu (aku mencoba menghindari kata terjebak).

Aku suka kata-kata dari Nurcholis Madjid, yang bunyinya kurang lebih seperti ini: "Tuhan tidak akan pernah bisa dijangkau oleh manusia, dalam keterbatasa ruang dan waktu". Jadi, kenapa repot-repot menterjemahkan Tuhan seperti apa hebatnya? Yang pasti lebih dari definisimu.


yudie
~berTuhan~

No comments: